The Dark Love

The Dark Love
251. Permainan Sheilla


__ADS_3

Diam-diam Raider tersenyum melihat Sheilla yang terus menempelkan bibirnya di pinggiran gelas yang ia berikan tadi. Tanpa ia tau jika Sheilla hanya berpura-pura untuk meminumnya saja. Sheilla tidak bodoh harus langsung percaya dengan Raider dan meminum-minuman yang laki-laki itu berikan. Tapi untuk mendukung aktingnya agar tidak kelihatan, ia berlagak meminum minuman tersebut.


Sheilla kini menjauhkan gelas dari bibirnya, meletakkan kembali ke atas meja tersebut. Namun dengan sengaja, ia sedikit memiringkan gelas tersebut hingga isi yang ada di dalam gelas tadi tumpah semua di atas meja.


Tentunya hal itu membuat Raider terkejut. Sedangkan Sheilla...


"Astaga! Ya Tuhan. Maaf tuan. Saya sangat ceroboh. Maaf," ucap Sheilla sembari tangannya bergerak mengambil lembaran tisu guna untuk mengelap minuman yang sudah tumpah itu.


Raider tampak menghela nafas panjang.


"Kamu sudah meminumnya kan tadi?" tanya Raider yang membuat Sheilla mengalihkan pandangannya kearah laki-laki tersebut.


"Tentu saja. Bukannya tuan tadi lihat sendiri saya meminum minuman ini. Dan yang tumpah saat ini hanya sisanya saja. Maaf ya tuan. Saya terlalu ceroboh," ujar Sheilla. Padahal kesengajaan itu ia lakukan agar Raider tidak menaruh curiga kepadanya saat melihat minuman yang di berikan kepada Sheilla masih utuh seperti sebelumnya.


Raider yang mendengar jawaban dari Sheilla, ia tersenyum kemudian ia menganggukkan kepalanya.


"Sudah tidak apa-apa. Kamu tidak perlu meminta maaf lagi ke saya. Toh kamu juga sudah meminumnya yang artinya saya merasa di hagai karena kamu orang pertama yang saya layani secara langsung seperti tadi," ujar Raider.


"Wahhhhh benarkah?" Raider menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu saya merasa menjadi manusia terhormat. Terimakasih tuan," ujar Sheilla bahkan dirinya saat ini berdiri dari posisi duduknya, lalu membungkukkan tubuhnya tanda hormat kepada laki-laki yang duduk di hadapannya tersebut.


"Sudah-sudah kamu tidak perlu seperti itu. Duduk kembali," ucap Raider dengan mengibar-ngibarkan tangannya.


Sheilla yang di perintahkan pun ia menurut saja. Dan untuk bekas tisu yang ia gunakan untuk mengelap meja tadi, sengaja ia masukkan kedalam tasnya. Tak peduli jika tas mahal pemberian sang suami akan rusak nantinya. Karena ia akan membawa tisu tersebut untuk dia serahkan kepada Digo agar suaminya meneliti apa memang kecurigaannya terhadap minuman itu benar atau tidak.

__ADS_1


Saat Sheilla sudah duduk kembali, ia menatap lekat kearah Raider yang membuat laki-laki tersebut memincingkan alisnya.


"Kenapa?" tanyanya.


"Tuan tidak meminum minuman itu? Masak saya sendiri yang minum dan tuan tidak. Kalau seperti itu, saya merasa tidak sopan." Raider lagi-lagi tersenyum.


"Baiklah-baiklah, saya akan meminum minuman ini untuk menghormati kamu sebagai tamu saya." Dengan antusias bahkan tak segan-segan Sheilla memperlihatkan senyumannya, ia menganggukkan kepalanya.


Raider kini mengambil gelas miliknya, meminum isi didalamnya hingga tuntas.


"Sudah kan?" tanya Raider yang diangguki oleh Sheilla. Namun tiba-tiba Sheilla melunturkan senyuman di bibirnya, tangannya ikut bergerak memegangi kepalanya.


"Kamu kenapa?" tanya Raider.


Raider kini bergerak mendekati Sheilla.


"Kamu mau tubuh kamu dingin kembali dan kepala kamu tidak sakit lagi?" tanya Raider.


"Tentu saja. Katakan tuan, saya sudah tidak kuat lagi menahan ini semua," ujar Sheilla.


"Kalau begitu ikut saya. Kamu masih bisa jalan sendiri kan? Atau perlu saya gendong kamu?" Dengan cepat Sheilla menggelengkan kepalanya.


"Tidak perlu tuan. Saya masih bisa jalan sendiri," balas Sheilla.


"Kalau begitu ikut saya." Sheilla menganggukkan kepalanya. Ia mengekor tepat di belakang Raider dengan tatapan menghunus tepat di punggung laki-laki licik dihadapannya itu. Jika saja ia tak ada misi untuk menemui laki-laki itu, ia tidak akan sudi berada disini. Tapi demi membantu suaminya tercinta, apapun akan ia lakukan.

__ADS_1


Saat mereka berdua sudah berada di suatu ruangan dan Sheilla sangat tau betul ruangan itu apa, ia memutar tubuhnya menghadap kearah Raider yang tadi mempersilahkan dirinya masuk terlebih dahulu dan laki-laki itu kini tengah mengunci pintu ruangan tersebut. Sheilla tentu saja tidak terkejut akan hal itu karena sesuai tebaknya memang ada yang tidak beres dengan minuman pemberian Raider tadi. Tapi lagi-lagi Sheilla harus tetap berakting.


"Lho tuan kenapa kita ke sini? Ini kamar kan? Dan kenapa pintunya di kunci?" tanya Sheilla sok polos.


Raider berjalan mendekati Sheilla. Dan saat dirinya sudah berhadapan dengan perempuan itu, ia menggerakkan tangan untuk mengelus pipi Sheilla. Sheilla yang di sentuh pun diam-diam ia mengepalkan tangannya sembari hatinya berkata, "Tenang Sheilla. Sebentar lagi dia akan terperangkap ke jebakannya sendiri. Sialan mana disini dia juga sudah menyalakan lilin yang bisa membangkitkan hawa napsu lagi. Bedebah kamu, Raider. Aku tidak bisa lama-lama disini. Aku harus cepat mengelabuhi dia."


Saat Sheilla tengah menggerutu di dalam hatinya, Raider menjawab pertanyaan yang tadi sempat ia lontarkan.


"Bukannya kamu tadi mau menghilangkan rasa pusing dan panas di tubuhmu?" Sheilla menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu ya disinilah tempatnya. Karena obatnya ada pada diri saya. Saya yang akan menyembuhkan kamu, sayang," ujar Raider yang sepertinya ia sudah terpengaruh dengan aroma lilin itu. Lalu baru saja ia menyelesaikan ucapannya tadi, tanpa aba-aba dirinya mengangkat tubuh Sheilla menuju ke ranjang. Tentunya Sheilla terkejut tapi sebisa mungkin ia menyembunyikan keterkejutannya tadi.


Ia diam saja di dalam gendongan Raider. Tapi saat dirinya sudah diturunkan diatas ranjang dan Raider hendak melakukan aksinya, Sheilla berkata.


"Tunggu dulu tuan. Jangan langsung ke intinya dong. Gimana kalau tuan tunggu sebentar disini. Saya akan berganti pakaian terlebih dahulu menjadi pakaian yang lebih seksi. Tuan mau kan menunggu saya ganti pakaian dulu," ucap Sheilla dengan sengaja mengelus lembut pipi Raider. Hingga membuat laki-laki itu memejamkan matanya.


Namun saat Sheilla menjauhkan tangannya, terdengar helaan nafas kecewa keluar dari mulutnya.


"Baiklah ganti pakaianmu itu. Dan tampil seseksi mungkin di depan saya! Tapi tunggu dulu, kamu bawa baju seksi itu kan?" ujar Raider.


"Tentu saja. Tunggu sebentar." Sheilla meraba bagian dalam tasnya yang berukuran sedang itu kemudian ia menunjukkan sehelai lingere di hadapan Raider.


Raider yang melihat itu menjadi membayangkan tubuh Sheilla memakai pakaian tersebut. Hingga ia semakin tak sabar lagi, kemudian tanpa menaruh curiga sedikitpun kepada Sheilla, ia menyingkir dari atas tubuh perempuan tersebut, berpindah ke samping tubuh Sheilla.


"Cepat gantilah!" perintah Raider. Sheilla tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Ia berlari menuju ke kamar mandi. Sedangkan Raider, menatap kepergian Sheilla dengan terkekeh kecil.

__ADS_1


__ADS_2