The Dark Love

The Dark Love
127. Niatan Jahil


__ADS_3

Digo mengerjabkan matanya dimana saat matanya itu terbuka, senyuman di bibirnya langsung terbit kala melihat Sheilla berada di dekapannya.


Ia mengecup kening Sheilla cukup lama yang justru membuat Sheilla terusik dari tidurnya.


"Selamat pagi, sayang," ucap Digo dengan suara serak khas seseorang yang baru bangun dari tidurnya.


Sheilla yang mendapatkan sapaan selama pagi pun ia tersenyum lalu mengeratkan pelukannya dengan menenggelamkan wajahnya di dada bidang kekasihnya itu sebelum dirinya angkat suara.


"Selamat pagi juga Dear. Hari ini kamu ke kantor?" tanya Sheilla sembari menengadahkan kepalanya agar bisa melihat wajah Digo.


"Iya. Hari ini aku pergi ke kantor untuk meeting tentang proyek yang di berikan oleh Uncle Bian kemarin," ucap Digo menjelaskan yang diangguki oleh Sheilla.


"Kamu tidak apa-apa kan aku tinggal di mansion?" tanya Digo.


"Tidak apa-apa Dear. Toh jika aku ikut kamu ke kantor, aku tidak tau harus berbuat apa selain lihat kamu bekerja, makan dan tidur saja. Disana aku juga tidak kenal siapa-siapa selain kamu dan Henry. Dan kalau aku tetap di mansion setidaknya ada Monik, bik Nah dan orang-orang yang benar-benar aku kenal disini yang bisa menemaniku untuk menghabiskan waktuku selagi menunggu kamu pulang dari kantor. Aku juga bisa membantu mereka untuk---" Belum juga Sheilla menyelesaikan ucapannya, Digo lebih dulu memutusnya.


"Aku memang menyuruh kamu untuk tetap berada dimansion ini tapi bukan berarti aku menyuruhmu untuk melakukan pekerjaan apapun di sini. Kamu harus tetap duduk manis dan biarkan para maid yang menyelesaikan pekerjaannya tanpa kamu bantu. Kamu mengerti kan?"


Sheilla menghela nafas panjang sebelum dirinya kini menganggukkan kepalanya pasrah.


"Jangan cuma menganggukkan kepala saja tapi kamu harus menjalankan apa yang aku katakan tadi," ujar Digo.

__ADS_1


"Iya Dear iya. Aku tidak akan melakukan apapun dimansion ini selain makan dan tidur saja," ucap Sheilla.


"Awas saja jika sampai aku tau kamu melanggar ucapanku tadi. Karena pergerakan kamu akan aku pantau lewat CCTV," ujar Digo.


"Baiklah-baiklah terserah kamu saja Dear. Dan daripada kamu ngomel-ngomel seperti ini, lebih baik kamu segara mandi sana ini sudah jam setengah 9 yang berarti kamu sudah telat setengah jam," ucap Sheilla yang membuat Digo kini melirik kearah jam dinding yang tergantung di tembok kamar itu. Dan benar saja jam tersebut menunjukkan pukul setengah 9, dan hal tersebut membuat Digo kini berdecak sebal.


"Ck, kenapa waktu cepat sekali berlalu sih. Haishhh padahal aku masih mau bermesraan denganmu," kata Digo dengan merubah posisi berbaring hingga tepat di depan dada Sheilla dan barulah ia menenggelamkan wajahnya di dada empuk kesukaannya itu.


"Bermesraannya di pending dulu. Dan segaralah bangkit jangan membuang-buang waktu berhargamu ini," ujar Sheilla dengan melepas paksa pelukan Digo itu. Dan setelah ia berhasil melepaskan pelukan Digo itu, ia langsung bangkit kemudian mengikat rambutnya. Diikuti oleh Digo yang kini mencebikkan bibirnya.


"Buruan mandi Dear. Dan aku akan segara menyiapkan pakaian untukmu," tutur Sheilla sebelum dirinya melangkahkan kakinya menuju ke walk in closed.


Dan tanpa mereka ketahui, apa yang telah mereka lakukan didalam kamar itu tak luput dari penglihatan seseorang yang sedari tadi mengintip mereka berdua. Dan jangan tanya siapa orangnya yang sudah berani lancang mengintip orang tengah bermesraan itu kalau bukan Kiya pelakunya.


"Uwuuu Abang aku sweet sekali. Hmmmm tapi kalau suatu hubungan selalu romantis itu sepertinya tidak terlalu bagus. Jadi bagaimana kalau aku tambah bumbu dalam hubungan mereka yang aku yakini bumbu yang akan aku berikan ini bisa membuat mereka semakin lengket satu sama lain dan supaya tidak monoton romantis terus. Ya, aku harus sedikit memberi bumbu dalam hubungan mereka," gumam Kiya dengan senyum jahilnya sebelum tangannya kini bergerak untuk menutup kembali pintu kamar tersebut.


Beberapa menit telah berlalu, Digo yang sudah rapi dengan balutan pakaian formalnya tengah menunggu Sheilla yang tengah berganti pakaian. Padahal Sheilla tadi sudah bilang jika Digo lebih baik turun dan sarapan terlebih dahulu namun Digo yang memiliki watak keras kepala, ia tak menuruti ucapan dari Sheilla tadi dan berakhir dirinya kini masih duduk manis di salah satu sofa di dalam kamarnya itu.


Hingga akhirnya Sheilla kini membuka pintu walk in closed dan betapa terkejutnya ia saat melihat sang kekasih masih didalam kamar.


"Lho kenapa masih disini. Bukannya tadi aku sudah menyuruh kamu untuk segara ke bawah, sarapan dan langsung berangkat ke kantor tanpa menunggu aku yang tengah berganti pakaian. Astaga Dear, apa kamu tidak lihat jika kamu sudah telat 1 jam lebih. Aku tau kamu bekerja di kantor milikmu sendiri tapi walaupun begitu kamu juga harus menjalankan aturan yang ada di perusahaan kamu. Bukan malah menyepelekan seperti ini. Kamu itu pemimpin di perusahaan kamu lho yang harusnya memberikan contoh yang bagus bukan malah memberikan contoh yang jelek seperti ini. Memangnya kamu mau melihat karyawanmu mengikuti kelakuanmu ini? Aku yakin jawabannya tidak kan? Makanya kalau tidak mau anak buahmu itu melanggar aturan perusahaan, kamu juga harusnya tidak boleh melanggarnya," omel Sheilla panjang lebar.

__ADS_1


Digo yang sudah menebak jika dirinya akan mendapatkan omelan dari sang kekasih pun ia sedari tadi menutup kedua telinganya menggunakan kedua tangannya.


Sedangkan Sheilla yang melihat Digo hanya diam saja tak merespon apa yang telah ia katakan tadi pun ia semakin kesal dan berakhir ia kini berjalan mendekati Digo. Dan sesampainya ia disamping sang kekasih, ia langsung memberikan jeweran maut di salah satu telinga Digo yang membuat Digo mengadu kesakitan.


"Ampun sayang ampun. Sakit sayang. Astaga," ucap Digo yang kini berdiri dari duduknya yang otomatis membuat jeweran Sheilla terlepas.


"Sayang jahat banget sih," ujar Digo dengan mengelus telinganya yang tampak memerah itu.


"Bodoamat. Buruan berangkat sana," tutur Sheilla.


"Nanti dulu lah. Aku masih malas." Ucapan dari Digo itu langsung mendapat pelototan mata dari Sheilla yang membuat Digo meringis takut melihatnya.


"Hanya sebentar saja sayang. 30 menit lagi," ucap Digo yang membuat Sheilla berkacak pinggang.


"20 menit," tawar Digo yang langsung membuat Sheilla mengepalkan tangannya tepat di depan wajah Digo.


"10 menit lah. 10 menit ya, please." Tangan Sheilla yang tadinya terkepal, ia pukul-pukulkan ke satu tangannya yang lain yang membuat Digo kini menelan salivanya.


"Baiklah-baiklah aku berangkat sekarang," ucap Digo pada akhirnya yang membuat Sheilla kini tersenyum sembari mengacungkan jari jempolnya.


Digo yang melihat hal itu pun ia berdecak kesal. Namun tak urung ia segara mengambil tas kerjanya dan dengan menggandeng tangan Sheilla, mereka berdua keluar dari kamar mereka.

__ADS_1


__ADS_2