
Ketiga orang, ahhh tidak lebih tepatnya keempat orang karena Monik yang baru selesai melakukan operasi kecil dilengannya kini tengah duduk melingkar di sofa masih didalam kamar Henry juga Monik. Mereka saat ini tengah memeriksa barang bukti yang tadi diberikan oleh Rivan.
"Pistol yang di gunakan Bomi adalah senjata dari sini. Semua benda-benda dihadapan kita ini juga tidak mengarah ke orang lain atau kompolotan lain yang harus kita curigai. Tidak ada kartu identitas juga yang berada di dalam dompet dia. Dan hanya ada satu benda lagi yang harusnya ada satu bukti jika memang Bomi bekerjasama dengan seseorang. Tapi jika benda ini juga tidak ada yang mencurigakan, kita bisa menyimpulkan jika Bomi tidak bekerjasama dengan siapapun atau bisa dibilang dia menginginkan kita mati atas dasar keinginan dia sendiri," jelas Digo yang diangguki oleh ketiga orang lainnya. Dan benda yang dimaksud oleh Digo tadi adalah sebuah ponsel yang memang belum mereka sentuh sama sekali.
Sampai kini Digo mulai menyalakan layar ponsel tersebut. Namun dirinya berdecak kesal saat ponsel milik Bomi itu harus memasukkan kata sandi untuk menjelajah lebih dalam lagi isi ponsel tersebut.
"Henry. Kamu bisa mengotak-atik ponsel ini kan?" Henry mengerutkan keningnya.
"Hanya mengotak-atik saja kamu tidak bisa?" tanya Henry yang menangkap arti ucapan Digo tadi berbeda.
"Ck, maksudku hilangkan kata sandi di ponsel ini," ujar Digo yang membuat Henry ber-oh ria sebelum dirinya mengambil ponsel tersebut dari tangan Digo.
Dan dengan gerakan jari yang begitu lincah, Henry mulai mengotak-atik ponsel milik Bomi dan ponsel miliknya. Hanya membutuhkan waktu 5 menit saja, Henry berhasil membuka lock screen ponsel tersebut.
__ADS_1
"Nih," ucap Henry dengan menyerahkan ponsel tadi kepada Digo.
Digo dengan cepat mengambil ponsel tersebut, namun baru saja ponsel itu berada di genggamannya, dering panggilan masuk kedalam ponsel tersebut. Dimana hal itu membuat semua orang langsung mengalihkan pandangannya kearah ponsel ditangan Digo.
Digo mengerutkan keningnya kala melihat nama yang tertera di layar ponsel milik Bomi itu.
Sedangkan Henry yang penasaran siapa orang yang menelpon karena Digo hanya diam saja, ia kini angkat suara, "Siapa yang telepon?"
Digo mengalihkan pandangannya kearah Henry dengan tangan yang kini bergerak, memperlihatkan layar ponsel tersebut.
"Siapa dia? Apa jangan-jangan orang itu yang berada dibelakang aksi Bomi ini?" Digo menggedikkan bahunya namun tak urung ia berucap, "Mungkin."
"Kalau begitu tunggu apa lagi. Angkat sekarang!" ujar Sheilla.
__ADS_1
Digo menganggukkan kepalanya kemudian jari tangannya menggeser ikon telepon berwarna hijau itu. Dan saat itu pula, sambungan telepon tersebut terhubung. Digo langsung menyalakan loudspeaker.
📞 : "Halo Bomi. Bagaimana? Apa kamu berhasil?"
Semua orang tampak terdiam dengan mata yang bergerak saling tatap satu sama lain.
Dimana keterdiaman dari seseorang yang tengah ditelepon, membuat laki-laki yang berada di sebrang sana tampak mengerutkan keningnya.
📞 : "Bom, Bomi. Apa kamu mendengar apa yang saya katakan?!" tanyanya. Namun masih saja ia tak mendengar jawaban dari orang yang ia telepon.
Sedangkan keempat orang tadi yang saling pandang, tampak menganggukkan kepalanya, seakan-akan mereka tahu isi pikiran satu sama lain hingga kini Digo menyalakan alat perekam yang ada di ponsel tersebut. Lalu setelahnya ia menyerahkan ponsel tadi ke tangan sang istri. Sheilla yang paham akan tugasnya pun ia mengambil alih ponsel tersebut.
📞 : "Bomi, kamu---"
__ADS_1
"Halo, apa anda bos dari suami saya? Dan maaf sinyal disini lumayan jelek tadi jadi saya baru bisa mendengar suara anda saat saya keluar dari rumah," ucap Sheilla memotong ucapan dari laki-laki diseberang sana.
Si laki-laki yang mendengar suara seorang perempuan yang sangat asing di pendengarannya pun ia sempat mengerutkan keningnya. Dan ia juga berpikir, sejak kapan Bomi bersama istrinya? Bukannya terakhir kali dirinya menghubungi Bomi tadi laki-laki itu mengatakan tengah mempersiapkan aksinya. Tapi kenapa sekarang malah bersama sang istri? Dan hal itu membuat laki-laki itu curiga. Yang mengangkat telepon itu memang istri Bomi atau salah satu perempuan yang berada di rumah musuhnya?