
Sedangkan disisi lain tepat 4 jam setelah para anak buahnya sampai lebih dulu, Digo justru sekarang ia baru sampai di bandara Charles de Gaulle. Dengan langkah penuh wibawa Digo di ikuti Henry dan 5 anak buahnya yang lain berjalan menelusuri lobi bandara tersebut. Awalnya suasana disekitar bandara itu biasa-biasa saja hingga saat Digo dan rombongannya baru ingin melangkahkan kakinya benar-benar keluar dari lobi itu, mereka di kejutkan dengan suara tembakan dari dalam lobi tersebut yang membuat orang-orang disana histeris dan berlari mencari tempat teraman menurut mereka. Namun berbeda dengan Digo dan rombongannya, mereka justru langsung berlari kembali masuk kedalam lobi tersebut tak memperdulikan pencegahan yang dilakukan oleh penjaga bandara tersebut.
"Sir, percayalah kita bisa membantu tugas kalian. Jadi biarkan kita masuk kedalam dan mengamankan orang-orang yang ada di dalam sebelum nanti memakan banyak korban. Dan daripada anda membuang-buang waktu dengan mencegah kita seperti ini. Lebih baik kita sama-sama mencari pelaku yang membuat keributan disini," ucap Henry.
Digo menghela nafas saat tak ada pergerakan dari laki-laki bertubuh tegap di depannya itu.
"Jangan menghalangi kami untuk membantu meringankan pekerjaan kalian. Jika kalian masih diam disini. Jangan salahkan saya jika nanti saya akan melaporkan ke pihak berwajib jika kalian tidak melakukan pekerjaan kalian dengan benar," kata Digo. Dan karena ia sudah tak sabar menunggu lagi, ia dengan sekuat tenaga menerobos dua penjaga bandara tadi kemudian berlari menuju sumber suara yang masih saja menimbulkan suara tembakan tersebut. Karena sejahat-jahatnya dia, dia masih memiliki rasa perikemanusiaan yang tinggi. Ia tak akan membiarkan seseorang yang mungkin bukan target orang di balik kejadian ini terkena imbas dari tindakannya.
Sedangkan Henry dan kelima anak buahnya saling pandang lalu setelahnya mereka mengangguk. Kemudian Henry dan salah satu anak buahnya justru langsung meninju dua laki-laki penjaga tersebut berkali-kali. Walaupun mendapat perlawanan dari dua laki-laki itu namun mereka tetap kalah oleh Henry serta satu anak buahnya itu.
"Kartu izin palsu!" kata Henry dan dengan santai ia menunjukkan satu barang bukti berupa kartu kecil yang tadi menggantung di leher satpam tadi. Dan setelah menelisik benda tersebut Henry baru tau jika kedua laki-laki itu ternyata bukan penjaga asli bandara tersebut. Pantas saja mereka yang ingin membantu justru dicegah begitu saja.
Henry melirik dua anak buahnya yang lain lalu ia memerintahkan mereka berdua untuk segara mengamankan dua orang tersebut yang sudah terkapar di lantai.
"Seret mereka berdua menjauh dari sini. Awasi mereka, jika mereka nanti sadar kembali pukul kepala mereka agar mereka kembali pingsan!" perintah Henry yang diangguki oleh kedua anak buahnya yang sekarang sudah bergerak untuk menyeret tubuh dua laki-laki itu keluar dari bandara tersebut.
Setelah dirasa dua orang tadi sudah menjauh, Henry menatap sisa anak buahnya.
"Bergerak sekarang! Temukan bos secepatnya!" ujar Henry. Kemudian setelah mengucapkan hal tersebut ia berserta 3 anak buahnya berlari menelusuri lobi tersebut.
Sedangkan Digo, ia sudah bergabung dengan penjaga bandara tersebut. Mereka masih disibukkan dengan mengamankan orang-orang disana dan sebagian lagi mereka sudah berpencar mencari si biang kerok dari peristiwa menegangkan tersebut.
Dan Digo memilih untuk ikut mencari tersangka itu. Matanya terus menelisik setiap sudut tempat yang ia lewati yang masih banyak orang berlarian kesana kemari. Tubuhnya yang sesekali terombang-ambing, tertabrak beberapa kali oleh orang-orang tersebut, tak membuat dirinya marah sedikitpun. Justru matanya semakin menajam. Hingga tatapan matanya itu terhenti di satu sudut disana yang menunjukkan ada seorang laki-laki misterius tengah berdiam diri disana. Digo yang sudah lama di dalam dunia gelap itu, ia sangat tau gerak-gerik orang tersebut. Bahkan senjata yang orang itu sembunyikan di balik outer yang ia kenakan pun Digo tau. Jangan lupakan dengan pergerakan tangan orang tersebut dibalik outer itu yang ternyata penembakan itu terjadi dibalik outer tersebut. Sangat pintar untuk mengelabuhi para penjaga disana. Dan saat Digo ingin mendekati orang tersebut. Matanya terbuka lebar saat melihat arah pistol yang tersembunyi dibalik outer tersebut mengarah lurus ke depan tepat mengarah ke salah satu perempuan yang bodohnya malah berjongkok ditempat dengan menutup kedua telinganya tanpa ada niatan untuk berlari seperti orang-orang disana.
__ADS_1
"Astaga bodoh," geram Digo. Kemudian tanpa menunggu lama ia mengurungkan niatnya untuk menghampiri pelaku penembakan tersebut yang ternyata sudah banyak memakan korban itu dan memilih untuk menghampiri perempuan yang berjongkok tersebut.
Digo semakin menambah laju larinya dengan sesekali ia meminta maaf kepada orang yang ia tabrak. Hingga…
Dorrr!
Satu tembakan berhasil menggores lengan Digo kerena peluru itu lewat saat Digo menyeret tubuh perempuan tersebut menjauh dari tempatnya berjongkok tadi.
Sedangkan disisi lain, orang yang mengincar perempuan tersebut berdecak sebal karena pelurunya itu meleset jauh dari target dan hanya menggores lengan orang lain sebelum peluru itu mendarat entah kemana.
Dan saat orang itu ingin mencari mangsa lain, pergerakannya langsung dihentikan oleh pihak keamanan, polisi serta Henry dan anak buahnya. Polisi langsung meringkus pelaku tersebut walaupun sempat terjadi perlawanan dari pelaku itu. Namun karena tenaganya sangat jauh dibanding dengan beberapa orang yang menangkapnya, pelaku tersebut akhirnya tak bisa berkutik lagi setelah tenaganya habis sia-sia.
Sedangkan Digo yang sempat terjatuh karena saking kencangnya ia menarik perempuan tersebut, ia sekarang sudah berdiri dengan perempuan tersebut yang tubuhnya tampak bergetar ketakutan.
"Heyyy are you oke?" tanya Digo dengan sedikit membungkukkan tubuhnya agar bisa melihat wajah perempuan tersebut.
Namun sesaat setelahnya, perempuan itu tampak clingukan kesana kemari.
"Tenang saja. Pelaku dari penembakan tadi sudah diamankan oleh pihak polisi," jelas Digo yang mengetahui jika perempuan itu tampak was-was. Dan benar saja setelah ia mengatakan hal tersebut, perempuan itu terlihat menghela nafas lega sebelum akhirnya ia menatap wajah Digo kembali.
"Terimakasih, tuan...?"
"Digo," ujar Digo dengan tampang yang masih saja datar seperti biasa. Perempuan tersebut tampak menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Terimakasih tuan Digo karena berkat tuan saya bisa selamat dari maut," ucap perempuan tersebut sembari membungkukkan tubuhnya didepan Digo.
"Sesama manusia harus saling melindungi satu sama lain." Perkataan dari Digo itu membuat perempuan tersebut kembali menegakkan tubuhnya dengan senyum manisnya.
"Bos!" teriakan serta suara langkah kaki yang mendekati dua orang tadi membuat mereka berdua langsung mengalihkan pandangannya kearah Henry.
"Sudah aman kan?" tanya Digo yang diangguki oleh Henry.
Sedangkan perempuan itu kini tampak beringsut dibelakang tubuh Digo, tanda jika ia tengah takut dengan 4 orang yang mendekati mereka tadi.
Henry mengernyitkan keningnya saat melihat perempuan tersebut sebelum tatapannya ia beralih kearah Digo, mencoba meminta penjelasan kepada bos sekaligus temannya itu.
Namun Digo hanya meresponnya dengan gedikkan di bahunya sebelum dirinya memutar tubuhnya menghadap kearah perempuan tersebut.
"Tidak perlu takut nona, mereka teman saya." Perempuan itu yang mendengar penjelasan dari Digo, ia menganggukkan kepalanya walaupun ia masih tetap was-was.
"Tujuan Nona mau kemana? Mau ke negara lain atau baru sampai di negara ini?" tanya Digo yang merasa kasihan dengan perempuan yang ia yakini masih shock akan kejadian tadi.
"Saya baru sampai di negara ini. Dan saya belum tau seluk-beluk negara ini. Alamat yang akan saya tuju pun saya juga lupa karena kepergian saya di negara ini diatur oleh asisten saya. Dan dia sekarang menjadi salah satu korban dari peristiwa tadi. Saya sekarang tidak tau mau kemana. Bahkan semua tas yang berisi barang-barang penting saya di bawa kabur oleh kawanan dari penembak itu," ujar perempuan tersebut dengan derai air matanya.
"Nona yakin tidak tau alamat yang nona tuju?" perempuan itu menggelengkan kepalanya, menjawab pertanyaan dari Henry.
"Kalau begitu apa nona hafal salah satu nomor telepon kenalan nona di negara ini. Kalau nona hafal pakai ponsel saya," tawar Henry.
__ADS_1
"Saya tidak hafal dengan semua nomor kenalan saya. Dan sekarang saya juga tidak tau asisten saya sekarang dibawa kemana." Digo dan Henry yang sudah berada di hadapan perempuan tersebut tampak saling pandang sepeti tengah melakukan pembicaraan lewat tatapan mata.
"Ya sudah kalau begitu, kita akan membantu anda mencari asisten anda. Semoga saja asisten anda itu masih selamat. Walaupun sudah tidak bernyawa, setidaknya kita bisa menemukan tubuh dia yang mungkin sudah diamankan oleh pihak berwenang," ujar Digo yang diangguki oleh perempuan tersebut. Lalu setelahnya mereka kini bergerak menjauh dari tempat mereka berdiri tadi, mencoba mencari ke beberapa tempat yang dijadikan untuk tempat pengamanan para pengunjung bandara tersebut.