The Dark Love

The Dark Love
67. Percikan Api Cemburu


__ADS_3

Sedangkan disisi lain, Digo yang sedari tadi tak fokus dalam bekerja karena ia juga selalu memantau keadaan mansionnya lewat CCTV yang terhubung di tabletnya. Dan dirinya sekarang di tambah gerah hati saat melihat Sheilla tampak tertawa dengan beberapa anak buahnya. Hingga tak sadar tangannya kini bergerak untuk melonggarkan dasinya. Sebelum akhirnya...


Brakkk!


Digo menggebrak meja kerjanya saat matanya tadi melihat jika salah satu anak buahnya dengan lancang menyelipkan anak rambut Sheilla.


"Ini tidak bisa di biarkan!" ucap Digo dengan api cemburu yang membara. Dan tanpa memperdulikan pekerjaannya yang masih menumpuk Digo segara berjalan mendekati ruang kerja Henry.


Dan tanpa mengucapakan permisi, Digo langsung masuk begitu saja kedalam ruang kerja Henry yang membuat laki-laki itu langsung menghentikan aktivitasnya dengan mata yang kini melihat kearah Digo. Dan sebelum dirinya bertanya, ada apa Digo datang ke ruangannya, laki-laki yang menyandang status sebagai bosnya itu langsung mengulurkan tangannya tepat dihadapan Henry.


"Kunci mobil," ucap Digo yang membuat Henry mengerutkan keningnya.


"Kunci mobil untuk apa? Kamu mau keluar?" tanya Henry yang membuat Digo berdecak sebal.


"Jangan banyak tanya Henry. Cepat berikan kunci mobil ke saya!" Henry yang melihat ekspresi wajah Digo tak seperti biasa pun dengan cepat ia mengambil kunci mobilnya lalu menyerahkan kunci tersebut ketangan Digo sebelum laki-laki itu murka karena dirinya lama menjalankan perintah darinya itu.

__ADS_1


Digo yang sudah mendapatkan kunci mobil tersebut, ia langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Henry dan hal tersebut membuat Henry penasaran hingga dirinya mengintip kearah Digo yang sudah menjauh dari ruangannya.


"Apa ada masalah sampai membuat wajah dia kelihatan marah seperti itu tadi? Tapi tunggu, kalau dia ada masalah pasti dia akan melibatkan aku dalam masalah itu tapi kali ini dia hanya pergi begitu saja tanpa meninggalkan satu kalimat apapun," gumam Henry yang masih setia menatap keluar ruangannya.


"Haishhhhh sudahlah, biarkan saja dia mau menangani masalah itu sendiri tanpa bantuanku lagi. Dan harusnya aku bersyukur bukan? setidaknya aku tidak harus memutar otak untuk mendapatkan ide agar masalah dia segera teratasi," sambungnya dengan diakhiri ia menggedikkan bahunya sebelum akhirnya ia memilih untuk kembali ke meja kerjanya melanjutkan pekerjaannya yang masih menumpuk itu.


Digo yang sudah berada di dalam mobil pun dengan cepat ia melajukan mobilnya membelah jalanan kota Prancis itu. Hingga tak membutuhkan waktu lama, Digo kini telah sampai di mansionnya. Dan setelah memarkirkan mobilnya asal-asalan Digo berlari kecil masuk kedalam mansion tersebut.


Dan tujuan pertama yang akan ia tuju sekarang adalah ruang makan para pekerja.


Digo mengepalkan tangannya saat dirinya telah sampai di ruang makan itu dan ia melihat beberapa anak buahnya tengah mendekati Sheilla. Mereka memang tidak berbuat apa-apa kepada Sheilla hanya sekedar mengobrol satu sama lain bahkan disana bukan hanya ada Sheilla seorang yang berjenis kelamin perempuan melainkan masih ada sekitar 15 perempuan lainnya yang ikut bergabung di ruang itu tak terkecuali dengan bik Nah yang juga tengah bercengkrama dengan orang-orang di mansion ini. Tapi walaupun begitu, itu sama saja membuat hati Digo terasa sangat panas sekali. Bahkan saking asiknya semua orang yang ada di ruangan itu sampai-sampai mereka tak menyadari kehadiran Digo tak terkecuali dengan Sheilla yang masih santai menjawab pertanyaan yang terlontar dari anak buah Digo itu dan sesekali ia tersenyum atau bahkan tertawa jika salah satu orang yang ada disana melakukan hal yang konyol.


"Aduhhh Sheilla, kamu sedang dalam bahaya sekarang," batin bik Nah sebelum dirinya memutuskan untuk berdiri dari duduknya dan mendekati Sheilla.


"She," panggil bik Nah sembari mengelus pundak Sheilla yang membuat perempuan itu yang awalnya tertawa pun ia menghentikan tawanya lalu menolehkan kepalanya kearah bik Nah.

__ADS_1


"Ya bik? Ada apa?" Bik Nah menggelengkan kepalanya namun setelahnya ia menundukkan tubuhnya untuk membisikan sesuatu kepada Sheilla.


"Lihat kearah kanan tepat di depan pintu masuk ruang makan ini," bisik bik Nah lalu setelahnya ia menegakkan kembali tubuhnya.


Sheilla yang mendapat bisikan itu pun ia tampak mengerutkan keningnya namun karena dirinya penasaran pun ia segara menolehkan kepalanya sesuai dengan arahan yang dikatakan bik Nah tadi. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat Digo tengah menatap marah kepadanya.


"Tuan Digo," ucap Sheilla yang berhasil membuat semua orang menolehkan kepalanya kearah yang sama dengan Sheilla. Dan setelah mereka melihat Digo, semua anak buah Digo dan para maid langsung berdiri dari duduknya dan memberikan hormat kepada tuan mereka. Sedangkan Digo yang sudah badmood tak memperdulikan sikap para anak buahnya itu karena tatapan matanya terus tertuju kearah Sheilla yang juga tengah memberikan hormat kepadanya. Sebelum dirinya kini angkat suara.


"Sheilla. Ikut saya!" perintah Digo yang membuat Sheilla langsung menegakan tubuhnya dan saat melihat tubuh Digo sudah mulai berjalan ia segera mengikutinya dari belakang tubuh laki-laki tersebut dengan kedua tangannya yang saling bertautan dan pikirannya yang tengah berpikir, kesalahan apa yang telah ia buat hingga membuat Digo memancarkan aura menakutkan seperti ini?


Langkah keduanya kini telah sampai didalam kamar Digo. Dan setelah pintu kamar itu ditutup rapat oleh Digo, laki-laki itu segera mendekati Sheilla. Sheilla yang sudah takut pun ia memundurkan tubuhnya hingga tanpa ia sadari kakinya kini membentur ujung ranjang yang membuat tubuhnya saat ini terhuyung kebelakang dan berakhir mendarat diatas ranjang di kamar tersebut.


Dan sebelum dirinya berdiri dari posisinya yang tengah telentang, Digo lebih dulu menindih tubuhnya dan mengunci kedua tangannya tepat di atas kepalanya menggunakan satu tangan kekar laki-laki itu sedangkan satu tangan Digo yang lainnya, ia gunakan untuk mengelus pipi mulus Sheilla.


Sedangkan Sheilla, ia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Digo. Namun sayang pergerakannya itu tak membuahkan hasil apapun dan justru membuat tangannya terasa sakit karena semakin dia bergerak maka cengkraman Digo akan semakin kuat.

__ADS_1


"Tu---tuan jangan begini," ujar Sheilla dengan takut-takut. Tapi apa yang ia ucapkan tadi sama sekali tak dihiraukan oleh Digo. Laki-laki itu justru semakin menatapnya dengan tatapan penuh napsu. Hingga akhirnya ia berkata...


"Hukuman apa yang harus saya berikan kepada kamu kali ini, Sheilla," ujar Digo dengan memindahkan tangannya tepat di bibir Sheilla, memainkan bibir tersebut secara seksual.


__ADS_2