
"Yura? Siapa itu Yura?" suara dari Sheilla itu membuat Wisma menolehkan kepalanya kearah Sheilla.
"Ehhhh siapa nih? Kok aku baru lihat kamu, padahal aku sering kesini lho. Apa kamu maid baru di mansion ini?" tanya Wisma yang terdengar begitu ramah. Dan hal tersebut membuat Digo mengepalkan tangannya, tak suka dengan nada suara sahabatnya itu juga tidak suka dengan kata maid yang jelas di tujukan untuk Sheilla, kekasihnya.
Tapi saat dirinya ingin menimpali ucapan dari Wisma, Sheilla lebih dulu bersuara.
"Benar, aku maid baru disini. Halo salam kenal, panggil aku, Sheilla," ucap Sheilla dengan mengulurkan tangannya kearah Wisma yang langsung di balas oleh laki-laki tersebut.
"Wisam, salam kenal juga. Btw kamu sangat cantik sekali," puji Wisma yang membuat Sheilla tersenyum.
"Terimakasih. Kamu juga sangat tampan," balas Sheilla yang membuat Wisma tersenyum malu-malu.
Dan interaksi dari dua orang di hadapannya itu membuat hati Digo begitu panas melihatnya. Apalagi saat dirinya melihat tangan keduanya yang tak kunjung lepas satu sama lain dan mendengarkan pujian dari Sheilla yang ditujukan kepada Wisam itu membuat Digo benar-benar tak terima. Karena yang boleh di puji oleh Sheilla itu hanya dirinya saja tidak untuk laki-laki lain.
"Omong kosong apa yang barusan aku dengar. Wisma tampan? Ya, memang terlihat tampan jika di lihat dari atas menara Eiffel. Dan bisa tidak tangannya itu tidak usah pegang-pegangan," ujar Digo yang sudah tak tahan lagi melihat pemandangan didepannya itu sembari ia menarik tubuh Sheilla hingga tangan keduanya yang tadi saling bersalaman kini terlepas.
"Digo, kamu apa-apa sih main tarik-tarik begitu saja. Kasihan Sheilla, dia pasti kesakitan tuh," ujar Wisma dengan menatap kearah Sheilla yang berada di belakang tubuh Digo saat ini.
"Apa ada yang sakit, Sheilla. Kala ada kita kedokteran sekarang yuk, aku yang antar," tawar Wisma yang membuat Digo mendelikkan matanya.
__ADS_1
"Tidak usah sok perhatian ke calon istriku, Wisma jika kamu tidak mau lidah kamu itu aku potong. Dan lebih baik kamu sekarang pergi dari sini jika sudah tidak ada urusan lagi. Dan untuk kamu, Sheilla, masuk sekarang!" perintah Digo dengan tegas yang membuat Sheilla mengerucutkan bibirnya.
Sedangkan Wisma yang mendengar jika Digo mengatakan jika Sheilla adalah calon istrinya pun ia tampak melongo tak percaya.
"Jadi, dia itu calon istri kamu?" tanya Wisma.
"Iya!"
"Tidak."
Jawaban yang berlawanan itu membuat Wisma menatap keduanya secara bergantian. Sedangkan Digo, ia langsung menatap tajam kearah Sheilla.
"Lha kan memang aku bukan calon istrimu. Karena yang menjadi calon istrimu itu adalah perempuan yang bernama Yura itu. Jadi untuk apa aku menjawab Iya?"
"Wisma, tolong percaya dengan ucapanku. Jika aku ini bukan calon istri tuan Digo tapi aku ini hanya seorang maid saja di mansion ini. Dan jangan dengarkan semua perkataan tuan Digo tadi tentang yang menganggap aku ini sebagai calon istrinya, takutnya kalau nanti nona Yura dengar akan menjadi kesalahpahaman. Ya sudah kalau begitu aku masuk dulu ya, Wisma. Ada banyak kerjaan yang harus aku selesaikan. Bye," ucap Sheilla dengan melemparkan senyum manisnya kearah Wisma tapi saat tatapan matanya saling beradu pandang dengan Digo, ia langsung melunturkan senyumannya itu sebelum dirinya mengalihkan pandangan sembari melangkahkan kakinya meninggalkan area depan manison itu.
Sedangkan Digo yang melihat Sheilla acuh kepadanya pun ia menggeram kesal dan tatapannya kini ia alihkan kembali kearah Wisam yang masih plonga-plongo tak paham.
"Ini semua gara-gara kamu. Awas saja jika sampai hubunganku dengan Sheilla goyah. Akan aku bunuh kamu," ancam Digo dan setelah mengucapkan hal tersebut, Digo masuk kedalam mansion itu untuk mencari Sheilla.
__ADS_1
Dan setelah kepergian Sheilla dan Digo, Monik dan Henry saling pandang satu sama lain. Mereka juga tidak tau harus berbuat apa saat terjebak dalam situasi tadi. Hingga akhirnya Henry mendekati Wisma lalu menepuk-nepuk bahu sahabatnya itu.
"Mulai sekarang jangan membahas Yura lagi di hadapan Digo. Karena sampai kapanpun mereka berdua tidak akan bersama. Dan calon istri yang dimaksud oleh Digo tadi memang bukan Yura orangnya namun Sheilla. Perempuan yang baru saja kamu ajak berkenalan. Dan lebih baik kamu sekarang kembali ke apartemen atau kalau bisa kamu pulang lagi ke Indonesia karena takutnya jika terjadi apa-apa dengan hubungan keduanya dan yang jelas itu gara-gara kamu pemicunya, nyawa kamu terancam," ujar Henry.
"Jadi Sheilla itu benar-benar calon istri Digo?" tanya Wisma untuk yang kesekian kalinya yang dijawab anggukkan kepala oleh Henry.
"Oh shitt, bisa-bisanya aku tidak tau akan hal itu. Dan kenapa kamu tadi tidak memberitahuku atau menegurku? Malah diam saja.".
"Aku tidak mau terlibat dan akan mendapat imbasnya nanti jika aku ikut campur urusan kamu dengan mereka," jawab Henry dengan santainya.
"Astaga. Sialan, mana aku tadi bilang kalau Sheilla salah satu maid disini lagi. Ya ampun. Tidak, aku tidak bisa berlama-lama disini. Aku harus segara pergi menjauh. Aku akan pulang ke Indonesia lagi," ucap Wisma sebelum dirinya kini berlari menuju ke arah mobilnya, meninggalkan Henry dan Monik yang melihat dia sampai masuk mobil dan mobil milik Wisma itu bergerak meninggalkan mansion tersebut.
"Apa tuan Wisma benar-benar ingin kembali ke Indonesia?" tanya Monik yang membuat Henry menolehkan kepalanya kearah perempuan tersebut.
"Kalau dia memang mau kembali ke Indonesia, memangnya kenapa? Kamu mau ikut dia pergi gitu, hah? Kalau mau pergi, pergi saja sana sama dia," ucap Henry dengan begitu ketus. Dan setelah mengucapkan hal itu, Henry bergegas masuk kedalam mansion, meninggalkan Monik yang tengah kebingungan dengan sikap berbeda yang ditunjukkan oleh Henry tadi.
"Apakah aku tadi salah bicara?" gumam Monik.
"Aku rasa tidak. Aku kan tadi hanya bertanya, apakah tuan Wisma ingin kembali ke Indonesia lagi? Begitu kan? Aku tadi juga bertanya secara baik-baik, tidak mengunakan otot sedikitpun bahkan nada suaraku pun juga biasa saja tidak meninggi ataupun rendah. Tapi kenapa respon tuan Henry seperti itu? Kenapa dia seakan-akan marah dan tidak suka aku menanyakan tentang tuan Wisma?" sambungnya penuh dengan tanda tanya di pikirannya dan kebingungan yang membuat kepalanya pusing sendiri memikirkannya.
__ADS_1
"Haishhh, sudahlah. Mungkin tuan Henry sedang tidak mood diajak bicara tadi. Jadi beliau menjawab pertanyaanku dengan sikap yang berbeda seperti tadi. Dan daripada aku terus memikirkan hal itu, lebih baik aku kembali bekerja, menyelesaikan semua pekerjaanku," ucap Monik sebelum dirinya memutuskan untuk ikut masuk kedalam mansion tersebut untuk melanjutkan aktivitasnya.