The Dark Love

The Dark Love
225. Rencana


__ADS_3

Monik dan Henry yang masih dalam kondisi shock itu tatapan mata mereka berdua kembali menatap kearah Bomi berada. Tapi beberapa saat setelahnya, Henry kembali angkat suara.


"Apa kalian benar-benar yakin jika Bomi lah si penghianat itu? Dan darimana kalian tau jika di mansion ini ada penghianat?" tanya Henry penasaran.


"Antara yakin dan tidak yakin. Kita mengawasi Bomi bukan karena tidak ada alasan sama sekali, tapi kita punya alasan yang cukup kuat. Dan kalau kamu tanya kenapa kita bisa tau kalau ada penghianat disini, maka kita akan jawab jika kita melihat dengan mata kepala kita sendiri kalau ada seseorang yang sangat jelas dia adalah anak buahku tengah masuk ke dalam ruang CCTV dan mensabotase semua CCTV disini. Seakan-akan dia sudah merencanakan kalau hari ini dia akan melakukan aksinya yang mana kalau dia mensabotase CCTV dia akan leluasa melakukan apapun yang dia mau didalam mansion ini termasuk mencelakai kita semua. Dan saat hal itu terjadi maka kita hanya akan terus menebak-nebak siapa dalang di balik celakanya kita ini karena tidak ada bukti sama sekali yang mana dia justru akan tertawa melihat kita menderita karena aksinya sudah berhasil," jawab Digo yang tatapan matanya juga lurus, menatap kearah Bomi berada.


"Satu lagi. Kita tadi sebelum mengawasi Bomi disini, kita sempat mengikuti dia yang masuk kedalam gudang. Memang cuma masuk gudang saja tapi yang bikin kita curigai kenapa dia harus mengunci pintu gudang itu secara didalam sana kan gelap? Dan setelah dia keluar, dia memegang satu botol kecil, entah aku tidak tau isinya apa. Tapi yang jelas aku memiliki firasat kalau botol itu berisikan sesuatu yang mungkin akan dia jadikan senjata utama untuk melukai kita semua," sambung Sheilla.


"Mengunci pintu gudang?" tanya Monik yang sedari tadi menyimak percakapan diantara tiga orang disekitarnya itu. Dimana pertanyannya tersebut dijawab dengan anggukan kepala oleh Sheilla dan deheman oleh Digo.


"Kok bisa? Apa salah satu dari kalian yang memberikan dia kunci gudang?" tanya Monik kembali yang tentunya ia tujukan kepada Digo maupun Henry.


"Aku tidak memberikannya. Tapi tidak tau dengan Al," jawab Henry yang kini menetap kearah Digo diikuti dengan dua perempuan disana.


Digo tampak menghela nafas sebelum dirinya menggelengkan kepalanya sembari berucap, "Tidak, aku tidak pernah memberikan dia kunci gudang. Semua kunci di mansion ini aku serahkan ke bik Nah semua kecuali kunci cadangan untuk kamar di lantai dua dan tiga karena di kedua lantai itu semua kunci cadangan aku yang pegang."

__ADS_1


Ketiga orang itu tampak mengangguk-anggukkan kepala mereka.


"Kalau begitu apa yang harus kita lakukan? Tidak mungkin kan kalau kita hanya diam saja sedangkan nyawa kita terancam," ucap Monik.


"Tidak. Kita tidak akan tinggal diam saja. Kalian tunggu disini, jangan ada yang ikut," ujar Digo sebelum dirinya kini berjalan menuju ke arah lift di lantai dua tersebut. Ketiga orang yang mendapat perintah dari Digo pun tak ada yang berani bertanya, laki-laki itu akan kemana dan apa yang akan dia lakukan sampai-sampai mereka disuruh untuk menunggu tanpa di perbolehkan untuk mengikuti kepergian dirinya. Karena terus terang saja aura mengerikan di diri Digo begitu kuat yang membuat mereka bertiga bergidik ketakutan. Walaupun Digo tadi sempat bersedih karena orang kepercayaannya telah mengkhianatinya, tapi setelah dipikir-pikir kenapa dia harus bersedih? Dan bukannya seharunya ia harus melenyapkan orang itu yang sudah berani bermain api dengannya? Jadi daripada dirinya bersedih yang tidak ada artinya lebih baik dirinya memusnahkan manusia licik itu sekarang juga. Bahkan ia tak peduli jika acara resepsi Monik dan Henry nantinya akan menjadi pertumpahan darah. Toh ia yakin Monik maupun Henry tidak akan keberatan jika acara mereka berdua kacau. Kalaupun mereka berdua keberatan, Digo tidak akan segan-segan untuk mengganti acara resepsi sepasang pengantin baru itu di lain hari di tempat yang lebih mewah dan ia pastikan saat itu tidak akan ada kekacauan lagi seperti saat ini jika memang nanti ada pertumpahan darah.


Beberapa saat setelahnya terlihat Digo telah kembali dengan senjata di tangannya yang tentunya membuat ketiga orang yang menunggu dirinya tadi terkejut bukan main.


"Ambil," ucap Digo kala dirinya sudah bergabung dengan ketiga orang tadi.


"Senjata ini untuk apa Dear?" tanya Sheilla dengan hati-hati.


"Untuk membunuh si penghianat memangnya untuk apa lagi," jawab Digo.


"Kamu yakin, Al mau membunuh dia saat ini juga?" tanya Henry yang langsung mendapat tatapan tajam dari Digo. Dimana hal tersebut membuat Henry kini menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Perasaan dia tadi hanya bertanya secara baik-baik, tapi kenapa respon Digo seakan-akan Henry lah yang akan dia bunuh saat ini juga. Benar-benar mengerikan.

__ADS_1


Dan untuk menghalau aura mengerikan dari Digo itu, Henry kembali bersuara, "Aku hanya tanya baik-baik Al. Jangan gitu natapnya."


Digo kini mengalihkan pandangannya sembari berucap, "Jika tidak sekarang lalu kapan? Menunggu ada korban terlebih dahulu?"


"Ya tidak. Tapikan masalahnya ini masih kecurigaan kita saja. Belum ada bukti kuat jika memang dia penghianatnya. Takutnya kita salah ambil langkah yang berakhir kita sendiri yang akan menyesal nantinya," tutur Henry. Ia hanya tak ingin Digo menyesal nantinya.


Digo tampak terdiam sesaat, sepertinya ia sedikit setuju dengan ucapan Henry. Harusnya ia tak boleh gegabah seperti ini. Ia harus benar-benar memastikan jika Bomi memang si penghianat itu bukan malah mengikuti kata hatinya yang menyuruh dirinya untuk langsung membunuh saja.


"Gunakan senjata ini untuk membunuh si penghianat itu jika kalian melihat tingkah dia yang sangat mencurigakan. Dan bersiaplah untuk kalian berdua jika acara resepsi ini nanti akan terjadi pertumpahan darah," ujar Digo yang diangguki oleh Monik maupun Henry.


"Aku tidak masalah jika acara resepsi ini nanti akan kacau. Karena yang lebih penting kita menyingkirkan si penghianat itu dulu," ucap Henry sembari mengambil salah satu pistol yang tadi berada di tangan Digo. Diikuti oleh Monik maupun Sheilla.


"Aku pun juga tidak masalah. Hanya saja gimana dengan tamu undangan? Tidak mungkin kan kalau kita membiarkan mereka untuk melihat kekacauan ini?" tanya Monik.


"Untuk itu, aku sudah memikirkannya. Mungkin beberapa menit lagi mereka akan sampai," ujar Digo. Ya, saat dirinya pergi tadi, dia bukan hanya mengambil senjata untuk berjaga-jaga saja melainkan ia juga sudah menghubungi seseorang yang akan membantu dirinya dalam masalah ini. Karena ia tak mungkin mengerahkan semua anak buahnya yang ada di mansion ini, takutnya selain Bomi, ada anak buahnya yang lain yang ikut berkhianat kepadanya. Jadi sebelum ia menerima semua identitas anak buahnya secara detail dari Toni dan Doni, untuk saat ini ia tak akan percaya dengan semua orang yang ada di mansion ini kecuali tiga orang yang sekarang berada di sampingnya.

__ADS_1


__ADS_2