The Dark Love

The Dark Love
107. Rencana Selanjutnya


__ADS_3

Setelah Monik menutup rapat pintu itu, ia berlagak seolah-olah ia terkejut dengan apa yang tengah ia lihat saat ini.


"Astaga nona," ucap Monik sembari berlari menuju kearah Vina lalu memeluknya.


"Apa yang sebenarnya terjadi Nona? Apa yang melakukan ini semua adalah orang yang sama yang telah merampok saya tadi malam?" sambung Monik sembari melepaskan pelukannya dan menatap wajah Vina yang tengah menangis itu.


Vina yang mendengar perkataan dari Monik itu pun ia tampak terkejut. Ia pikir laki-laki yang menidurinya tadi malam adalah orang suruhan Monik. Namun setelah ia melihat keadaan wajah Monik yang terdapat beberapa bekas luka lebam dan juga mendengar ucapan Monik jika Monik habis di rampok, membuat dirinya tak jadi mencurigai Monik.


"Hiks aku tidak tau Monik. Saat kamu pergi tadi malam untuk mencarikanku minuman dingin, ada seseorang yang tiba-tiba masuk kedalam mobil dan langsung membawaku ke rumah ini. Dia laki-laki berbedan tinggi dengan rambut kecoklatan, mata dia berwarna biru terang," ucap Vina menjelaskan ciri-ciri orang yang sudah meniduri dirinya itu.


"Dia memakai baju serba hitam?" Vina menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan dari Monik tadi.


"Astaga Nona. Orang itu adalah orang yang sama yang telah merampok saya tadi malam. Ya ampun Nona, tolong maafkan saya yang tak bisa menghentikan perampok itu tadi malam karena saya juga mendapat penganiyaan dari perampok itu. Nona lihat sendiri kan kondisi wajah saya yang masih banyak luka memar ini karena tadi malam saya sempat memberontak tapi justru saya terkenal pukulan dia. Sekali lagi maafkan saya Nona yang tak bisa menjagamu," ucap Monik dengan wajah yang ia paksa untuk memperlihatkan raut wajah sedih.


Vina yang tampak melihat permintaan maaf Monik yang tulus pun ia kini memeluk tubuh Monik kembali dengan air mata yang terus membasahi pipinya.


"Hiks, Monik. Bawa aku pergi dari sini. Bawa aku menjauh dari sini sekarang juga. Hiks, aku takut jika dia kembali lagi dan kita akan terperangkap berdua disini," ucap Vina di sela-sela pelukannya itu.

__ADS_1


"Nona tenang oke. Ada tuan Henry yang akan melindungi kita jika orang jahat itu benar-benar kembali lagi. Dan sebelum kita keluar lebih baik, Nona pakai baju dulu ya," ujar Monik sembari melepaskan pelukan Vina tadi dan segera memungut pakaian milik Vina yang berceceran di lantai kamar tersebut.


"Nona bisa pakai sendiri? Kalau tidak bisa biar saya bantu," ucap Monik yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Vina.


"Tidak perlu Monik. Aku masih bisa pakai sendiri. Dan tolong kamu jaga di pintu depan. Jangan biarkan penjahat itu masuk ke sini. Saya benar-benar takut Monik." Monik menganggukkan kepalanya.


"Baik nona. Saya akan menunggu Nona di depan pintu kamar ini. Dan Nona tenang saja penjahat itu tak akan kembali lagi," ujar Monik sembari mengusap bahu Vina sebelum dirinya berjalan untuk keluar dari kamar tersebut dengan senyum devil yang tercetak jelas di bibirnya.


Dan saat dirinya sudah keluar kemudian menutup kembali pintu itu, membiarkan Vina berganti pakaian. Ia melempar senyuman kearah Henry yang sedari tadi menunggu di depan pintu tersebut.


"Berhasil?" Monik menganggukkan kepalanya.


"Kita tunggu saja, dan saya yakin rencana terakhir kita ini benar-benar sesuai dengan keinginan kita," ucap Henry.


"Semoga saja," balas Monik.


Dua orang itu terus menunggu Vina selesai berganti pakaian, hingga setelah 15 menit telah berlalu pintu kamar tersebut terbuka dan memperlihatkan Vina yang tampak meringis saat melangkahkan kakinya. Monik yang melihatnya ia juga ikut nyengir seakan-akan ia juga merasakan rasa sakit yang di derita oleh Vina itu. Walaupun kegadisannya diambil oleh Henry waktu itu, ia yakin rasa sakit yang ia rasakan tak semenyakitkan yang di rasakan oleh Vina saat ini. Dan sudah bisa dibayangkan bukan seberapa brutal partner Vina tadi malam.

__ADS_1


"Nona, apa kamu baik-baik saja?" tanya Monik yang membuat Henry memutar bola matanya malas.


"Orang bodoh pun akan tau jika Vina saat ini tengah tidak baik-baik saja karena mahkotanya telah di renggut oleh seseorang yang tidak dia kenal. Huh dasar Monik. Tidak bisakah dia berakting dengan memberikan pertanyaan lain ke Vina?" batin Henry mencibir akting yang tengah dilakukan Monik saat ini.


Vina pun menggelengkan kepalanya dengan mata yang sudah berkaca-kaca lagi. Dan sebelum air matanya itu menetes, Monik langsung mengambil tangan Vina dan mengalungkannya ke lehernya.


"Saya bantu memapah tubuh kamu ya Nona," ujar Monik yang hanya diangguki oleh Vina. Dan setelahnya dua orang itu kini berjalan terlebih dahulu dari Henry untuk keluar dari rumah tersebut.


Dan saat mereka bertiga telah masuk kedalam mobil milik Henry, Henry langsung melajukan mobilnya. Dan selama perjalanan diisi dengan isak tangis dari Vina.


"Hiks aku sangat takut Monik. Aku takut," racau Vina terus menerus. Sepertinya perempuan itu tengah mengingat setiap kejadian yang terjadi tadi malam.


Monik yang menjadi sandaran kesedihan Vina pun dengan malas ia mengusap kepala perempuan disampingnya itu.


"Nona tenang saja oke. Kejadian itu hanya akan terjadi sekali saja. Dan saya jamin setelahnya Nona akan terus aman," ujar Monik berusaha untuk menenangkan Vina.


"Kamu sekarang tau perasaanku saat kamu menjebakku, Vina. Tapi bedanya, kalau aku waktu itu melakukannya dengan seseorang yang aku kenal walaupun aku yakin dia tidak akan pernah bertanggungjawab atas apa yang kita lakukan karena kita sama-sama dijebak olehmu. Dan untungnya dia bermain dengan sangat lembut. Tapi maaf, pembalasan yang aku lakukan sangat mengerikan dan bagaikan mimpi buruk yang akan terus membekas di memorimu karena kamu telah menyerahkan kegadisanmu dengan laki-laki asing yang kamu saja tak mengenal laki-laki itu dan dari mana asal usulnya. Dan saat melakukan hubungan itu apakah dia tengah sehat atau justru memiliki penyakit menular yang akan membahayakan dirimu. Kamu tidak tau semua itu Vina karena aku dan tuan Henry tidak memperdulikan apakah dia memiliki penyakit menular atau tidak. Selagi dia mau membantu kita untuk balas dendam kepadamu maka kita justru akan berterimakasih kepadanya. Dan untukmu Vina, nikmati saja pembalasanku dan tuan Henry ini," batin Monik dengan melirik kearah Vina yang masih menangis sesenggukan itu.

__ADS_1


Sebelum tatapan matanya ia alihkan kearah depan tepatnya ke sebuah kaca kecil dimana disana terlihat pantulan wajah Henry yang tersenyum kearahnya. Dan hal tersebut dibalas senyuman pula oleh Monik.


__ADS_2