
Saat tubuh Sheilla dan Digo kini telah hilang dibalik pintu lift rahasia itu, Digo langsung memeluk tubuh Sheilla dengan sangat erat.
"Good job, Honey. Saya suka permainanmu tadi," ujar Digo yang membuat Sheilla tersenyum.
"Jadi apakah dengan pembalasan yang saya lakukan itu, sudah bisa mendapatkan kata maaf dari tuan Digo?" tanya Sheilla.
Digo melepaskan pelukannya dengan kedua tangan menangkup kedua pipi Sheilla.
"Jika kamu masih memanggil saya dengan sebutan tuan, kata maaf itu tidak bisa kamu dapatkan hari ini juga," ujar Digo.
"Kenapa bisa begitu?"
"Ya karena sebutan tuan itu tidak pantas untuk kita berdua yang merupakan sepasang kekasih. Jadi perbaiki panggilanmu kepada saya dan barulah saya akan memaafkanmu," ucap Digo dengan bersedekap dada.
"Baiklah-baiklah. Maafkan saya, Dear atas apa yang saya perbuat waktu itu yang membuat tanganmu ini sampai terluka." Sheilla mengambil tangan kanan Digo yang masih terdapat bekas luka. Lalu dengan lembut ia mengelusnya.
Digo yang mendapat elusan itu pun bibirnya tertarik keatas membuat sebuah senyuman sebelum tangannya kini bergerak untuk menarik tubuh Sheilla, membawa tubuh kekasihnya itu kedalam dekapannya.
"Saya sudah memaafkanmu, Honey. Lain kali jangan berulah seperti waktu itu lagi. Jika memang ada yang menyakitimu segera beritahu saya. Jangan ada yang kamu sembunyikan di belakang saya. Kamu mengerti, Honey?" Sheilla menganggukkan kepalanya dengan tangan yang membalas pelukan dari kekasihnya itu.
Mereka terus berpelukan hingga pintu lift terbuka. Dan hal pertama yang Sheilla lihat saat pintu itu terbuka adalah sebuah ruangan yang hampir sama dengan kamar Digo tapi bedanya ruangan itu lebih didominasi dengan warna hitam dan lebih luas dari kamar Digo di lantai dua. Bahkan disana juga terdapat mini bar dengan beberapa minuman beralkohol yang terpajang rapi di dalam lemari kaca belakang bar itu.
"Ini kamar siapa?" tanya Sheilla saat mereka melangkahkan kakinya lebih dalam lagi di kamar tersebut.
"Kamar saya yang akan menjadi kamar kita nanti," jawab Digo yang tengah berjalan menuju gorden yang menutupi sebuah dinding kaca di kamar tersebut.
__ADS_1
"Mau lihat pemandangan, Honey?" tanya Digo sembari menolehkan kepalanya kearah Sheilla yang kini tengah menatap keseluruhan penjuru ruangan tersebut dengan sesekali ia berdecak kagum sebelum suara dari Digo tadi membuatnya menolehkan kepalanya kearah sang kekasih.
"Pemandangan?" beo Sheilla sembari mendekati Digo.
"Ya, kamu mau melihatnya?" Sheilla menganggukkan kepalanya dengan excited karena jujur saja selama satu bulan lebih dirinya di kurung didalam mansion megah itu tak urung membuat dirinya bosan dan rindu dengan suasana di luar.
"Maju ke depan saya sini," perintah Digo yang langsung dituruti oleh Sheilla.
Saat Sheilla sudah berdiri tepat didepan Digo, tangan laki-laki itu bergerak menekan tombol pada remote control yang ia pegang dan dengan seketika gorden yang ada di depan mereka perlahan berbuka.
Mata Sheilla terbuka lebar saat dirinya melihat pemandangan yang sangat-sangat menyegarkan matanya. Dimana di hadapannya saat ini ia bisa melihat sebuah pantai dari kejauhan.
"Kamu suka, Honey?" tanya Digo dengan memeluk tubuh Sheilla dari belakang.
"Suka banget," jawab Sheilla dengan senyumannya.
"Jika kamu suka mulai hari ini kita bermalam disini," ucap Digo setelah dirinya mencium pipi Sheilla karena gemas melihat reaksi kekasihnya itu.
"Saya juga tidak mau kita terus-terusan berada di kamar itu sedangkan di sebelah kamar kita adalah kamar perempuan gila itu," sambung Digo.
"Apa saya sekarang harus mengusir dia saja, Honey. Karena terus terang, saya sudah tidak betah satu atap dengan perempuan yang tidak tau terimakasih itu." Sheilla yang mendengar niatan dari Digo pun ia menggelengkan kepalanya lalu dengan cepat ia memutar tubuhnya agar ia bisa berhadapan dengan Digo.
"Jangan mengusirnya, Dear," larang Sheilla.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Kalau kamu mengusir dia saat ini, gimana kalau dia jadi gelandangan dan tidak sengaja bertemu dengan laki-laki brengsek di luar sana yang memperkosa dia dan berakhir dia hamil gimana?"
"Ya kalau dia hamil urusan dia, Honey, bukan urusan kita. Salah siapa dia mau di perkosa." Sheilla memutar bola matanya malas.
"Itu akan menjadi urusan kita, Dear kalau dia benar-benar hamil. Kamu tau sendiri kan watak dia gimana. Pasti dia akan melaporkan perkosaan itu ke kantor polisi dengan dalih kamu lah yang menculiknya dan melakukan hal menjijikan itu. Dengan menggunakan bukti CCTV di bandara tempat pertama kali kalian bertemu saat itu. Karena saya yakin saat kamu menolong dia dan membawanya ke mansion ini tak ada satupun saksi mata yang melihatnya kan? mungkin ada tapi tidak mungkin kamu mencari saksi mata itu untuk menyelamatkanmu dari tuduhan yang akan perempuan itu buat. Karena perlu kamu tau, Dear. Dia itu lebih licik dari bayanganmu. Dan sepertinya kamu tidak tau jika ponsel dia tidak ikut terbawa oleh para pemberontak itu. Ponselnya masih dia pegang sampai saat ini. Dan mungkin dia sering memotret kamu secara diam-diam dan dengan foto-foto itu bisa menjadi bukti untuk menguatkan kamu sebagai tersangka dan berakhir kamu tidak bisa berkutik sama sekali lalu terpaksa kamu akan menikahi dia nantinya. Memangnya kamu mau menikah dengan dia?" Dengan cepat Digo menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Saya tidak mau menikahi dia karena yang saya mau nikahi adalah kamu bukan dia ataupun orang lain," ujar Digo yang membuat Sheilla tersenyum.
"Makanya jangan usir dia dulu dari sini. Kita tunggu anak buahmu menyelesaikan semuanya, dan barulah kita pulangkan dia ke tanah kelahirannya," ucap Sheilla.
"Huh, baiklah saya akan dengar apa yang kamu ucapkan itu. Tapi jika dia melukai kamu lagi, balas dia jangan hanya diam saja seperti sebelumnya." Sheilla menganggukkan kepalanya tanpa melunturkan senyumannya itu.
"Btw Honey, Apa kamu sudah tidak marah lagi dengan saya?" Tanya Digo sembari memegang tangan Sheilla yang berada di pipinya tadi.
"Jika kamu tidak mesum lagi, saya tidak akan marah kepadamu," ujar Sheilla.
"Mesum? Memangnya saya mesum bagaimana sama kamu?" Sheilla memutar bola matanya malas, ia kira Digo sudah sadar akan kesalahannya setelah ia mencoba mendiami kekasihnya itu. Tapi ternyata laki-laki itu masih saja tak tau kesalahannya yang membuat Sheilla kesal setelah mati.
"Kamu belum sadar kesalahan dan kemesumanmu itu, dear?" Digo menggelengkan kepalanya yang membuat Sheilla mendengus sebal.
"Kesalahan kamu karena telah meminta saya untuk menampung bibit kamu itu kedalam rahim saya sebelum adanya sebuah ikatan pernikahan. Kamu sekarang paham kan?"
"Ohhhh tentang program baby. Iya honey saya paham sekarang. Tapi jika program baby tidak boleh terlaksana sekarang, kalau begitu saya mau nen saja boleh kan?" ucap Digo dengan ekspresi wajah penuh harap.
Sheilla yang paham maksud dari Digo itu pun ia langsung memelototkan matanya dan dengan ringan tangan ia mengeplak lengan kekasihnya itu dengan cukup keras.
__ADS_1
"Nen aja sana sama sapi," ujar Sheilla sebelum dirinya berjalan menjauhi Digo yang tengah mengelus lengannya.