The Dark Love

The Dark Love
231. Target Kedua


__ADS_3

"Kalian kenapa masih diam seperti ini?! Aku bilang hubungi dokter! hiks." Sheilla terus berteriak kepada semua orang di sekelilingnya. Ia saat ini terlihat seperti depresi dan kehilangan arah. Hingga bik Nah yang telah selesai menghubungi dokter Diana dan dokter Shofie datang menghampirinya.


Bik Nah langsung memeluk tubuh Sheilla sembari ia berkata, "Saya sudah menghubungi dokter nyonya. Jadi nyonya tenang dulu ya, sebentar lagi dokter Diana dan dokter Shofie pasti akan segera tiba."


Bik Nah sebenarnya tak kalah khawatir dengan Sheilla setelah mendengar ucapan Sheilla jika Digo telah meminum racun. Siapa yang tidak khawatir coba jika bosnya yang sudah ia anggap sebagai anak sendiri tengah dalam bahaya sekarang? Ia juga ingin sekali menangis tapi ia tahan. Karena ia sadar jika dirinya menangis siapa lagi yang bisa menenangkan Sheilla. Monik? Sheilla saja tadi menangkis tangan perempuan itu yang artinya Monik tidak mempan untuk menenangkan Sheilla.


Ucapan serta usapan lembut yang diberikan oleh bik Nah sedikit membuat Sheilla bisa tenang. Namun tetap saja Sheilla masih menangis histeris didalam perlukan wanita paruh baya tersebut. Ia tak tega membayangkan nasib Digo selanjutnya dan ia benar-benar tak ingin menjadi janda. Dan mungkin kalau sampai Digo kenapa-napa atau berakhir ke liang lahat, Sheilla akan menyusul kepergian suaminya itu dengan cara apapun yang terpenting ia ikut pergi dengan Digo, menemani suaminya itu dimanapun laki-laki itu berada termasuk di alam yang berbeda sekalipun.


"Bik, Digo, bik. Hiks," ucap Sheilla dengan sesenggukan.


Bik Nah memejamkan matanya sesaat, merasakan rasa sakit kala mendengar suara bergetar Sheilla.


"Nyonya tenang ya. Percaya sama bibik, tuan Digo tidak akan kenapa-napa. Dan lebih baik kita naik keatas, kita lihat keadaan tuan Digo bagaimana," ujar bik Nah. Sheilla yang mendengar ucapan dari bik Nah, ia merasa seperti orang bodoh saja. Kenapa dia tidak langsung pergi menemui Digo, menemani suaminya itu dalam menghadapi kesakitan yang mungkin laki-laki itu rasakan, bukannya malah melupakan kesedihannya di dekapan bik Nah seperti ini. Maklum saja ia bingung menghadapi situasi seperti ini.

__ADS_1


Tapi walaupun begitu, ia kini melepaskan pelukannya dari tubuh bik Nah. Dan tanpa mengucapakan sepatah katapun ia langsung berlari menuju sebuah lift yang sama dengan yang digunakan para anak buah Henry saat membawa tubuh Digo menuju ke lantai atas.


Kepergian Sheilla tadi diikuti oleh bik Nah dibelakangnya. Sedangkan Monik, ia tampak menghela nafas sebelum dirinya kini melangkahkan kakinya, mendekati sebuah podium yang telah di siapkan para WO di lantai satu tersebut sebelum ia naik ke atasnya. Naiknya Monik bertujuan untuk memberitahu ke seluruh tamu undangannya jika acara ini sudah selesai.


Monik tampak mengambil nafas dalam-dalam sebelum dirinya bersuara, "Mohon perhatian semuanya!"


Teriakan keras yang berasal dari Monik membuat semua tamu yang tadi tengah berbisik-bisik manja serta bertanya-tanya apa yang terjadi kepada Digo tadi, kini mereka langsung memusatkan perhatian mereka kearah Monik yang berdiri diatas podium itu.


Para tamu itu pun tanpa banyak bicara, satu persatu dari mereka berjalan keluar dari mansion tersebut. Sedangkan Monik yang sudah menegakkan kembali tubuhnya, ia menghela nafas melihat beberapa tamu undangan tersebut sudah mulai menipis, tak lupa Monik tadi memerintahkan beberapa anak buah Digo untuk membantu pengamanan para tamu tersebut agar tak ada kendala karena keluar secara bersamaan seperti ini. Dan karena Monik ingin memastikan semua tamunya keluar dengan selamat, ia masih berdiri diatas podium dengan tatapan lurus kearah pintu utama manison tersebut.


Dan karena hal tersebut, Monik sampai tidak menyadari jika ada seseorang yang berada di balik persembunyian tengah menodongkan sebuah pistol yang ia arahkan ke arah Monik berada. Orang tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah Bomi tersenyum penuh kemenangan setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri jika Digo dengan bodohnya dan tanpa curiga sedikitpun, laki-laki itu malah meminum minuman tersebut. Malah ia menganggap jika Digo kalah pintar dengan Sheilla yang ternyata mengetahui jika minuman itu beracun. Tapi walaupun begitu, Bomi sudah cukup senang karena si target utamanya sudah mati di tangannya dan tugas dia sekarang tinggal memusnahkan 3 orang lainnya di mansion ini atau malah hanya dua saja yaitu Monik dan Henry karena kalau Sheilla, ia pikir-pikir perempuan itu tidak terlalu bahaya jika masih di pertahankan untuk hidup. Ahhhh Bomi memiliki sebuah ide, kalau Sheilla, ia biarkan hidup maka dia juga akan menikahi Sheilla, menjadikan perempuan itu sebagai istrinya. Lagian Sheilla juga cantik, jadi dia tidak akan menyia-nyiakan kecantikannya itu.


Bomi semakin tersenyum lebar kala menghayal hal yang sebentar lagi akan dia dapatkan.

__ADS_1


"Aku sudah tidak sabar untuk menguasai seluruh mansion ini termasuk menguasai orang-orang yang berada di dalam mansion. Kalian bersiaplah untuk menerimaku sebagai bos baru kalian karena jika salah satu dari kalian tidak setuju dan memberontak, aku tidak akan segan-segan untuk membunuh kalian," gumam Bomi dengan tatapan matanya yang kini melihat kearah para anak buah Digo dan beberapa anak buah Henry yang masih mengamankan dan mengontrol para tamu di mansion ini.


Bomi tampak menghela nafas setelah dirinya bergumam tadi sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba untuk fokus kembali ke tujuan awalnya terlebih dahulu jika ia mau khayalannya tadi menjadi kenyataan.


"Astaga, ayo fokus lagi Bomi. Jangan sampai terlena karena angan-angan kamu saja. Tugas kamu masih banyak. Jadi ayo kita selesaikan saat ini juga," gumam Bomi masih dengan menggelengkan kepalanya sembari kedua matanya tertutup.


Dan saat khayalan indahnya itu menghilang dari pikirannya, Bomi kembali fokus kearah Monik, ia segera mengarahkan pistol yang sempat ia turunkan tadi ke arah Monik. Memfokuskan titik targetnya tepat di kepala perempuan tersebut. Senyum seringai kembali muncul di bibir Bomi, sembari laki-laki itu kini berucap, "Katakan selamat tinggal kepada dunia dan suamimu, Monik. Kamu akan menjadi target kedua yang akan aku kirim ke neraka. Bersiaplah."


Bomi kini menarik pelatuk pistol tersebut setelah ia berucap tadi dan setelah memastikan jika titik targetnya sudah pas. Hingga...


Dorrr!


Suara tembakan terdengar nyaring di mansion tersebut yang membuat beberapa tamu yang belum sepenuhnya keluar dari dalam mansion langsung menjerit ketakutan bahkan aksi dorong-dorongan pun tak terhindarkan. Sedangkan para anak buah Digo dan anak buah Henry tampak terkejut dengan suara tembakan tersebut. Sebagian dari mereka langsung mencari siapa yang berani bermain senjata api di mansion ini. Sebagiannya lagi langsung berlari menuju kearah Monik. Sedangkan sebagiannya lagi masih mencoba untuk segera mengevakuasi para tamu yang tak sedikit dari mereka tengah jatuh karena aksi dorong-dorongan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2