
Sheilla mendekati resepsionis di perusahaan yang tengah ia kunjungi saat ini, tentunya untuk bertanya ruangan Raider dimana.
"Permisi. Saya mau bertemu dengan tuan Raider. Saya sudah membuat janji dengan beliau. Dan saya ingin bertanya dimana ruangan tuan Raider berada karena beliau memberikan saya perintah untuk langsung ke ruangannya saja?" ucap Sheilla to the points dengan maksud dan tujuannya mendekati dua resepsionis itu.
"Atas nama siapa ya?" tanya salah satu resepsionis tersebut.
"Sarah." Resepsionis yang tadi sempat bertanya kepadanya menganggukkan kepalanya.
"Baiklah tunggu sebentar, saya akan konfirmasi dulu dengan tuan Raider." Sheilla hanya menanggapi ucapan dari resepsionis tersebut dengan anggukan kepala saja sebelum matanya kini menatap kearah sekelilingnya yang memperlihatkan situasi dan kondisi di perusahaan tersebut. Perusahaan yang cukup besar dengan interior mewah yang secara langsung melambangkan jika perusahaan itu termasuk perusahaan sukses di kota tersebut. Hingga muncul satu pemikiran di otak Sheilla, "Sayang juga kalau kantor ini nanti harus di tutup karena mengalami kebangkrutan. Huh, kalau bisa lebih baik jangan di buat bangkrut deh, ambil saja semua saham di perusahaan ini agar masih bisa beroperasi. Hemmm sepertinya akan aku bicarakan lagi nanti dengan Digo."
Sheilla masih memperhatikan sekelilingnya hingga suara resepsionis mengalihkan perhatiannya.
"Nyonya Sarah silahkan ikut saya," ucap resepsionis tersebut yang sepertinya ingin mengantar Sheilla menuju ke ruangan yang akan di gunakan untuk pertemuan Sheilla dengan Raider.
__ADS_1
Sheilla lagi-lagi hanya menganggukkan kepalanya. Dan saat resepsionis tersebut melangkahkan kakinya, Sheilla mengikutinya di belakang.
Tak ada percakapan dari dua perempuan itu hingga mereka telah sampai di ruangan Raider yang berada di lantai 10 perusahaan tersebut.
"Ini ruang kerja tuan Raider. Tuan Raider sudah menunggu anda di dalam," ucap resepsionis tersebut.
"Terimakasih," ujar Sheilla yang dibalas dengan senyuman oleh resepsionis tersebut sebelum tangannya bergerak untuk mengetuk pintu dihadapannya. Dimana saat pintu itu di ketuk, pintu tersebut di buka oleh seorang laki-laki yang sepertinya laki-laki itu merupakan sekertaris Raider.
"Silahkan masuk nyonya," ucap resepsionis dan sekertaris Raider secara bersamaan.
Sheilla tampak menghela nafas melihat pintu itu sudah tertutup kembali, sebelum tatapan matanya ia alihkan kearah seorang laki-laki yang mungkin umurnya terpaut 5 tahun lebih tua dari Digo dan Sheilla sendiri. Wajah laki-laki itu terlihat cubby walaupun badannya terlihat gagah. Tak seperti yang berada di bayangan Sheilla yang sempat berpikir jika Raider memiliki tampang dengan badan gempal, pendek dan perut buncit yang sangat memuakkan dengan mata keranjangnya.
Sedangkan Raider yang terduduk di kursi kebesarannya sedari tadi tersenyum kearah Sheilla saat ia baru melihat perempuan tersebut.
__ADS_1
Kemudian ia berdiri dari duduknya dan mendekati Sheilla yang masih berdiri di depan pintu.
"Sarah?" tanya Raider sepertinya tengah basa-basi.
Sheilla dengan malas menganggukkan kepalanya tapi tak hanya itu saja ia juga memaksakan bibirnya untuk tersenyum. Ingat ia harus berakting sekarang agar rencananya berjalan dengan lancar.
"Kalau begitu, silahkan duduk," ujar Raider dengan menggerakkan tangannya kearah sofa yang ada di dalam ruangannya tersebut. Sheilla yang sudah mulai berakting pun ia berlagak mengangguk malu-malu yang justru membuat Raider terkekeh geli yang terlihat seperti orang gila di mata Sheilla.
Dan saat Sheilla sudah mendudukkan tubuhnya disalah satu sofa disana. Ia sempat terkejut saat Raider juga mendudukkan tubuhnya di samping Sheilla. Dengan refleks Sheilla menggeser posisi duduknya dimana saat itu juga Raider turut menggeser duduknya. Terus saja seperti itu hingga Sheilla yang kesal memilih untuk pindah ke single sofa.
Sheilla tampak menahan senyum kemenangan saat Raider tak bisa duduk disampingnya lagi. Dan tampaknya laki-laki itu tampak pasrah ditandai dengan helaan nafas panjang sebelum Raider angkat suara, "Saya rasa kamu masih malu-malu dengan saya jadi kamu harus berpindah tempat duduk saat saya mendekati kamu."
Sheilla menundukkan kepalanya sembari berucap, "Maaf. Saya cukup gerogi duduk berdua dengan anda tuan. Sekali lagi saya minta maaf."
__ADS_1
Raider kembali menampilkan senyum bodohnya yang sempat luntur tadi setelah mendengar alasan dari Sheilla tadi.
"Sudah tidak apa-apa. Saya mengerti. Oh ya. Kamu mau minum apa? Biar saya suruh office boy yang membuatkan atau mencarikan apapun yang kamu mau. Jangan sungkan dengan saya. Anggap saja saya suami kamu," ujar Raider sangat-sangat enteng yang membuat Sheilla ingin menendang burung laki-laki tersebut saat ini juga. Berani-beraninya Raider menyuruh dirinya untuk menganggap Raider suaminya. Sheilla tidak akan sudi melakukannya sampai kapanpun, camkan itu!