
Digo memutar tubuhnya kembali menghadap kearah Rivan berada dengan salah satu alisnya yang terangkat. Ia penasaran kenapa Rivan menanyakan kondisi Monik? Apa ada sesuatu diantara mereka berdua sebelumnya? Hmmm cukup mencurigakan.
Rivan yang melihat tatapan penuh kecurigaan yang terpancar di mata Digo pun ia dengan cepat meluruskan ucapannya itu agar tidak terjadi kesalahpahaman. Padahal dari dalam lubuk hati Rivan, laki-laki itu sangat mengkhawatirkan kondisi Monik yang tadi sempat ia lihat jika perempuan yang masih ia kagumi namun sudah tidak bisa ia miliki itu terluka. Tapi walaupun begitu, Rivan tidak akan jujur kalau sebenarnya dirinya sangat khawatir dengan Monik, bisa-bisa ia dijadikan manusia geprek oleh kedua tuannya lebih tepat oleh Henry. Jadi ia akan beralibi sebisa mungkin agar Digo tidak lagi curiga kepadanya.
"Saya tidak bermaksud lain yang menjerumus ke hal-hal yang memang tidak seharusnya, tuan. Saya hanya memastikan saja karena selain saya, banyak anak buah tuan dan anak buah tuan Henry yang melihat nyonya Monik terluka. Mereka khawatir dengan keadaan nyonya Monik dan berpesan kepada saya untuk menanyakan kondisi beliau saat saya bertemu dengan tuan," ujar Rivan.
Digo tampak mengangguk-anggukkan kepalanya, mencoba untuk percaya dengan Rivan. Toh kalau Rivan memang memiliki rasa kepada Monik, Digo juga bisa apa? Melarang? Heyyy, cinta dengan seseorang tidak bisa kita larang selagi orang itu tau batasannya. Jadi Digo memilih untuk membiarkan saja karena yang terpenting bukan Sheilla lah yang disukai oleh laki-laki lain karena ia akan bertindak lebih kepada laki-laki itu.
"Keadaan Monik lumayan baik," jawab Digo yang membuat Rivan mengerutkan keningnya. Apa maksud dari kata lumayan?
Dari pada dirinya Rivan menebak-nebak sendiri arti dari ucapan Digo tadi, ia memiliki untuk bertanya saja.
"Maaf maksud tuan lumayan apa ya?"
"Dia harus melakukan operasi untuk mengambil peluru di lengannya. Tapi kamu tenang saja Monik tidak akan kenapa-napa setelah operasi nanti selesai," jawab Digo menjelaskan maksud yang ia katakan sebelumnya sembari ia menepuk-nepuk pundak Rivan.
__ADS_1
Rivan hanya mengangguk-angguk kepalanya dengan melirik sebentar kearah pintu kamar dibelakang tubuh Digo.
Sedangkan Digo yang melihat hal itu pun ia hanya tersenyum tipis, sangat tipis hingga siapapun orang yang melihat dirinya mereka tidak akan bisa melihat senyumannya saat ini. Ia juga sudah sangat yakin sekarang jika tebakannya tadi benar adanya kalau Rivan menaruh perasaan lebih kepada Monik atau malah mereka memiliki hubungan sebelumnya.
"Jadi gimana? Apakah saya sudah di perbolehkan untuk masuk kedalam kamar ini lagi sekarang? Atau masih ada yang ingin kamu tanyakan ke saya?" Ucapan dari Digo membuat Rivan yang tadi masih menatap kearah pintu kamar pun ia sedikit gelagapan hingga kepalanya ia tundukkan sebelum ia berkata, "Maaf tuan. Silahkan tuan kembali ke kamar. Saya juga pamit undur diri. Jika nanti ada tambahan barang bukti yang kita dapatkan akan saya sampaikan ke tuan. Hormat tuan, permisi."
Rivan saat ini membungkukkan tubuhnya 90° kearah Digo untuk sesaat. Lalu setelahnya ia bergegas pergi dari hadapan Digo yang menatap kepergiannya dengan gelengan kepala.
"Rivan Rivan, pasti berat jadi kamu yang harus mengikhlaskan perempuan yang kamu sayang untuk orang lain. Tapi saya harap kamu tidak mengacaukan hubungan rumah tangga Henry dan Monik apalagi sampai berkhianat hanya karena cinta saja. Saya harap kamu mendapatkan ganti yang sama atau bahkan jauh lebih baik dari Monik. Saya janji tidak akan membocorkan hal ini kepada Henry selagi kamu tidak melakukan tindakan lebih," gumam Digo dengan tatapan lurus memandang punggung Rivan yang perlahan menjauh dari pandangannya.
Setelah Rivan menghilang dibalik pintu lift, Digo segara masuk kedalam kamar kembali dimana saat ia masuk ternyata operasi kecil itu telah selesai di lakukan. Bahkan Henry sekarang duduk manis disamping tubuh Monik yang terbaring diatas ranjang.
Digo hanya memutar bola matanya malas sebelum dirinya memilih untuk duduk disamping sang istri yang sibuk dengan ponselnya.
Tapi saat Digo baru saja ingin mendudukkan tubuhnya, suara seseorang mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"Maaf tuan dan nyonya." Digo maupun Sheilla menengadahkan kepalanya menatap kedua dokter yang sekarang berdiri tak jauh dari hadapan mereka berdua.
Dimana tatapan dari dua orang itu membuat Diana melanjutkan ucapannya.
"Begini tuan dan nyonya, berhubung tugas kita berdua terlihat selesai, kita ingin pamit untuk kembali ke rumah sakit karena masih ada banyak pasien yang menunggu kita disana. Jika tuan dan nyonya berkenaan, mohon izinkan kami untuk kembali saat ini juga," izin Diana sangat-sangat sopan tidak seperti dulu.
Digo tampak menganggukkan kepalanya sembari tangannya sibuk mengotak-atik ponselnya hingga suara dua notifikasi terdengar di ponsel milik Diana dan Shofie.
Mereka berdua yang tau notifikasi itu pun mereka tak langsung membukanya.
Sedangkan Digo, ia menatap kedua dokter itu sembari berkata, "Pergilah dan terimakasih atas pertolongan kalian. Dan jangan lupa minta gaji kalian kepada Henry karena yang saya kirimkan ke kalian tadi hanyalah sebuah tips karena kesigapan kalian saat salah satu orang yang ada di mansion ini menghubungi kalian untuk datang kesini."
Kedua dokter itu sempat terkejut namun mereka berdua menganggukkan kepala mereka. Lumayan juga bukan dapat uang double yang ia yakini bernilai fantastis itu, kapan lagi coba. Mereka memang tidak menyebutkan uang yang harus dibayar oleh seseorang yang ada di mansion ini jika mereka membutuhkan pertolongan mereka berdua. Tapi Digo selalu memberikan uang yang sangat-sangat besar untuk mereka dan itulah salah satu alasan keduanya bertahan menjadi dokter pribadi di mansion ini walaupun sering banyak tekanan yang harus mereka hadapi.
"Baik tuan. Kalau begitu kita permisi," ucap Diana yang lagi-lagi dijawab dengan anggukan kepala oleh Digo. Dimana anggukan kepala itu membuat kedua dokter tadi langsung melangkahkan kaki mereka pergi dari dalam kamar itu. Perkara meminta bayaran ke Henry, nanti saja mereka akan memintanya lewat sebuah pesan. Karena mereka tak ingin terlalu lama di kamar tersebut saat mereka tau jika ada hal lain yang harus mereka berempat bicarakan disana dan mereka tidak akan ikut campur juga tidak akan menggangu mereka berempat.
__ADS_1