The Dark Love

The Dark Love
17. Marah


__ADS_3

Sheilla menghela nafas sebelum dirinya keluar dari kamar mandi yang berada di dalam kamar pribadi Digo. Rekam kejadian sebelumnya kini memutar di otaknya. Malu? tentu saja, siapa yang tidak malu jika dia tadi melakukan hal yang sangat menjijikkan. Bahkan jika bisa ia ingin sekali menyembunyikan dirinya di dalam perut bumi. Malu, malu sangat malu sekali rasanya. Bahkan sudah selama 1 jam lebih dirinya tak keluar dari dalam kamar mandi tersebut hanya karena tak ingin bertemu dengan Digo.


"Haishhhhh Shei, kenapa bisa kamu tadi muntah di baju juga tangan dia sih? Malu-maluin tau gak," gerutu Sheilla merutuki dirinya sendiri. Bahkan tak urung ia sesekali mengumpati dirinya sendiri atas kejadian tadi.


Sedangkan disisi lain, Digo yang sedari tadi sudah kembali kedalam kamar, namun tak mendapati kamar mandi yang tak jauh dari pandangannya itu terbuka. Perlahan ia mulai turun dari ranjangnya kemudian bergegas menuju ke kamar mandi tersebut.


Pikiran-pikiran negatif tentang Sheilla tiba-tiba menjalar di pikirannya.


Tok tok tok!


Digo mengetuk pintu dihadapannya itu sembari bersuara, "Sheilla. Kamu baik-baik saja?"


Sheilla yang ada di dalam tampak terkejut bukan main. Ia belum siap untuk bertemu dengan laki-laki menyeramkan itu.


"Sheilla. Kamu dengar suara saya?" Lagi, ucapan dari Digo semakin membuat Sheilla kalang kabut.


"Sheilla. Jawab! Jika kamu tidak menjawab ucapan saya, jangan salahkan saya jika pintu ini akan saya dobrak!" Sheilla semakin gelagapan dan mau tak mau ia harus membuka pintu kamar mandi tersebut sebelum nanti saat Digo mendobrak pintu kamar mandi itu dan mendapati dirinya baik-baik saja, ia yakin pasti dirinya akan langsung di bantai habis-habisan oleh Digo.


Sheilla menundukkan kepalanya saat pintu kamar mandi itu telah ia buka lebar. Ia tak berani menatap wajah Digo sedetikpun. Seakan-akan keberaniannya yang selalu terlihat angkuh didepan lawan, justru kini hilang entah kemana jika berhadapan dengan laki-laki yang berdiri dihadapannya tadi.


"Maaf tuan. Saya---" Sheilla terkejut bukan main saat tubuhnya tiba-tiba mendapat dekapan hangat dari Digo. Bahkan kepalanya sekarang bersandar di dada bidang laki-laki itu bisa mendengar dengan jelas ritme detak jantung Digo yang terdengar begitu cepat.


"Apa suara saya tadi tidak terdengar sampai didalam sana? Kenapa kamu tidak menjawab saat saya bertanya tadi, Sheilla!" Sheilla kini menggigit bibir bawahnya.


"Ma---maafkan saya, tuan," ucap Sheilla tanpa membalas pelukan dari Digo hingga laki-laki itu kini melepas pelukannya dan menatap dalam kedua manik matanya.

__ADS_1


"Sudah jangan meminta maaf lagi. Sudah cukup saya mendengar kata maaf yang keluar dari bibir kamu itu," ujar Digo lalu tanpa aba-aba Digo langsung menggendong tubuh Sheilla ala bridal style yang membuat Sheilla memekik tertahan.


"Tu---tuan, saya minta turunkan saya sekarang," ucap Sheilla saat Digo ternyata membawa dirinya keluar dari kamar pribadi milik laki-laki itu.


"Diam Sheilla!" ucap Digo dengan nada suara yang begitu rendah namun bisa membuat Sheilla langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat.


Digo terus melangkah kakinya menuju kearah lift di lantai tersebut. Dan tanpa menurunkan tubuh Sheilla, Digo memencet tombol menuju ke lantai satu rumah tersebut.


Tak berselang lama, pintu lift tadi terbuka dan dengan cepat Digo keluar dari dalam lift tersebut menuju ke arah ruang makan.


Dan selama kedatangan mereka dengan posisi yang terlihat sangat diluar dugaan itu, membuat beberapa maid dan bodyguard di rumah itu langsung melongo tak percaya. Melihat bos yang selalu menampilkan wajah datarnya bahkan tubuh tegap yang sangat sulit para perempuan selain keluarganya sendiri sentuh, sekarang justru dengan santainya membopong tubuh Sheilla. Dan hal itu membuat beberapa orang langsung bertanya-tanya, apa ada hubungan diantara mereka berdua? Jika memang ada, mungkin mereka akan bersyukur setidaknya akan ada seseorang yang nantinya menenangkan bos mereka saat laki-laki itu tengah murka dan jangan lupakan pelampiasan kemarahan bosnya itu bisa berimbas ke semua orang yang berada di dalam rumah yang sama dengan dirinya.


Digo kini mendudukkan tubuh Sheilla di salah satu kursi makan. Kemudian ia menarik satu kursi lagi kesamping Sheilla untuk ia duduki.


"Maaf tuan. Ini makanan yang sudah tuan pesan tadi," ucap salah satu koki sembari memberikan satu mangkuk bubur ke tangan Digo.


Koki yang melayani tuannya tadi tanpa disuruh ia bergegas meninggalkan ruang makan setelah dirinya membungkukkan tubuhnya sebagai tanda hormat kepada Digo.


"Buka mulut kamu," ucap Digo sembari menyodorkan satu sendok bubur ke depan bibir Sheilla.


Sheilla yang sedari tadi terbengong, mencerna semua yang baru saja terjadi kepadanya kini ia di buat terkejut untuk kesekian kalinya atas perlakuan Digo yang menurutnya sangat berlebihan kepada dirinya yang seorang tawanan serta maid baru.


"Bi---biar saya sendiri saja tuan," ucap Sheilla yang masih saja terbata-bata saat berucap.


"Biar saya saja," tolak Digo saat tangan Sheilla bergerak akan mengambil sendok serta mangkuk di tangannya.

__ADS_1


"Saya bisa sendiri tuan. Tuan tidak perlu repot-repot untuk menyuapi saya."


"Saya tidak merasa di repotkan, Sheilla. Sekarang buka mulut kamu dan segera lah makan setelah itu minum obatnya," ujar Digo yang kembali menyodorkan sendoknya tadi kearah bibir Sheilla. Tapi bukannya perempuan itu membuka mulutnya, ia justru menjauhkan wajahnya dan mendorong pelan tangan Digo.


"Saya akan makan sendiri tuan," tolak Sheilla dengan halus.


"Jangan membantah saya Sheilla. Buka mulut kamu sekarang!" ucap Digo dengan menaikkan nada bicaranya.


"Saya tidak membantah tuan. Saya hanya---"


Brak!


Prankk!


Mangkuk serta sendok yang tadinya berada ada di genggaman tangan Digo kini sudah tergeletak tak berbentuk di atas lantai ruangan tersebut.


Sheilla yang tadinya bersuara dengan seketika ia langsung merapatkan kembali bibirnya. Ia menatap kearah kekacauan yang ada diatas lantai tersebut sebelum tatapannya beralih kearah Digo yang ternyata sudah beranjak dari tempat duduknya tadi.


"Apa dia marah?" gumam Sheilla dengan hati tak tenang sembari terus menatap punggung Digo yang perlahan mulai menghilang dari pandangannya.


Semua maid dan beberapa bodyguard disana tampak terkejut dengan kemurkaan tuan mereka tak terkecuali dengan bik Nah yang tadi sempat tersenyum saat melihat kedekatan tuannya dengan Sheilla namun sekarang senyumannya itu terganti dengan wajah cengonya. Namun sesaat setelahnya ia menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan dirinya sendiri sebelum dirinya kini mendekati Sheilla yang terlihat sangat gusar dengan tangan yang saling bertautan.


"Ada apa? Kenapa tuan tadi terlihat sangat marah?" tanya bik Nah yang sudah duduk di kursi yang tadi ditempati oleh Digo dengan kedua tangannya yang menggenggam tangan Sheilla.


Sheilla kini menegakkan kembali kepalanya dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


"Sa---saya tidak bermaksud untuk membuat tuan Digo marah bik. Saya hanya tak mau merepotkan tuan untuk menyuapi saya karena saya masih sanggup untuk melakukan itu," ujar Sheilla yang dibalas senyuman penuh ketenangan oleh bik Nah. Bahkan wanita paruh baya itu sudah membawa tubuh Sheilla kedalam pelukannya.


"Sudah tak apa. Kamu tidak perlu takut dengan tuan Digo. Niat kamu juga sangat baik bahkan bibik tadi melihat kamu menolak tuan dengan sangat lembut. Dan mungkin tuan melakukan itu karena dia tengah lelah saja, jadinya dia gampang terpancing emosi. Jadi kamu maklumi saja ya. Dan lebih baik kamu meminta maaf tapi nanti saat tuan Digo sudah kembali tenang. Dan untuk sekarang biarkan dia sendiri dulu, takutnya nanti saat kamu berniat meminta maaf bukannya sambutan baik yang kamu terima ehhhh malah sambutan yang tak mengenakan yang kamu dapat. Jadi tunggu sebentar jika kamu ingin meminta maaf kepadanya," ucap bik Nah sembari mengelus rambut Sheilla dengan sayang.


__ADS_2