The Dark Love

The Dark Love
235. Pergerakan Bomi


__ADS_3

Kepergian dari Henry dan Monik tak luput dari pandangan Digo juga Sheilla yang saat ini tengah menatap mereka berdua.


"Mereka mau kemana?" tanya Sheilla.


"Entahlah. Dari langkah kaki mereka, mungkin akan menuju ke lorong di samping mansion ini," jawab Digo tanpa mengalihkan pandangannya kearah Sheilla. Ia masih menatap Henry dan juga Monik berada.


"Lorong?" beo Sheilla. Sejak kapan di mansion ini memiliki sebuah lorong? Sudah setahun lebih Sheilla menempati mansion ini tapi ia tak tau jika ada lorong dan dimana letak lorong itu saat ini? Karena jujur saja Digo yang terlalu posesif kepadanya, hanya sekedar keliling mansion pun laki-laki itu melarangnya jika tidak bersama dirinya langsung. Makanya Sheilla belum mengenal lingkungan tempat tinggalnya saat ini.


Digo menganggukkan kepalanya lalu menatap kearah Sheilla.


"Henry dan Monik memang menuju kesana. Kita ikut kesana saja. Nanti kamu akan tau lorong itu berada. Tapi aku berpesan ke kamu untuk terus berada disampingku. Jangan menjauh dariku karena aku yakin di lorong itu adalah tempat persembunyian Bomi saat ini. Jadi apa kamu siap sayang untuk melawan Bomi?" tanya Digo dengan mengelus kepala Sheilla sangat lembut.


Sheilla yang tangannya sudah gatal ingin memberi pelajaran kepada si penghianat pun ia dengan mantap menganggukkan kepalanya. Awas saja jika Bomi ketemu, Sheilla tidak akan mengampuni laki-laki yang sudah lancang ingin membunuh dirinya dan sang suami.


Digo yang melihat anggukkan kepala dari sang istri pun ia menggandeng tangan Sheilla, sebelum keduanya mulai melangkahkan kakinya menuju ke lokasi yang sama seperti Henry serta Monik tuju.


Dan saat Digo juga Sheilla tengah menuju ke lokasi, Henry dan Monik yang telah lebih dulu sampai pun, mereka diam-diam melangkah dan bersembunyi dibalik tembok disamping lorong tersebut. Tak lupa ditangan keduanya saat ini tengah membawa pistol masing-masing.


Mereka berdua dengan kompak menatap kearah sekitar lorong itu. Walaupun lorong tersebut memiliki sedikit pencahayaan, tapi mata elang mereka tetap bisa melihat dengan jelas setiap sudut bahkan setiap barang yang terletak di dalam lorong tersebut.


"Bagaimana apa kamu menemukan adanya gerak-gerik seseorang didalam sana?" tanya Henry dengan suara yang sangat lirih. Karena terus terang saja ia tak menemukan adanya aktivitas didalam lorong tersebut.

__ADS_1


Tanpa mengalihkan pandangannya dari dalam lorong itu, Monik menggelengkan kepalanya.


"Entah memang feelingku yang salah atau memang Bomi sangat pandai bersembunyi sehingga aku tidak merasakan adanya aktivitas seseorang didalam lorong ini. Tapi untuk memastikannya, lebih baik kita masuk saja," usul Monik.


"Tapi apa kamu yakin kalau kita masuk kedalam, kamu tidak akan kenapa-napa jika tiba-tiba Bomi menyerang kita berdua?" tanya Henry benar-benar khawatir.


Monik mendengus dan dengan tatapan malasnya ia menatap kearah suaminya.


"Kamu lupa siapa aku?" Henry menggelengkan kepalanya. Siapa yang akan lupa coba jika perempuan yang saat ini menjadi istrinya itu hampir membuat nyawanya dulu melayang dan terkenal sebagai monster pembunuh bayaran yang tak pernah bisa di taklukkan.


"Kalau kamu tidak lupa siapa aku, jadi untuk apa kamu khawatir denganku? Sudah lah jangan banyak bicara. Tugas kita belum terselesaikan dan aku tidak akan bisa hidup tenang jika Bomi belum kita temukan keberadaannya," ujar Monik dan dengan langkah yang mengendap-endap dengan sesekali bersembunyi dibalik barang-barang yang ada di lorong itu ia mulai mencari keberadaan Bomi.


Mereka berdua kini menelusuri setiap lorong itu. Tanpa keduanya ketahui jika ada sepasang mata yang tengah mengawasi gerak-gerik mereka berdua. Dan jangan ditanya lagi siapa pemilik mata itu jika bukan Bomi orangnya.


Feeling Monik tadi tidak salah sama sekali. Karena memang Bomi tengah bersembunyi di lorong tersebut. Laki-laki itu bersembunyi diantara sofa yang tertumpuk di belakang lemari yang cukup besar. Tata letak sofa yang di tata melingkar dengan memberikan space di tengah-tengah, membuat Bomi dengan gampang masuk dan ia sangat yakin jika persembunyiannya itu tak akan ketahuan. Mengingat sebelum mereka mencari dirinya di tempat persembunyiannya saat ini harus melewati beberapa barang-barang lainnya yang di tumpuk-tumpuk sampai menjulang ke atas.


Tapi agar dirinya tetap bisa mengawasi pergerakan dari orang-orang yang mencarinya di lorong ini, ia sempat membuat lubang di lemari kayu itu.


Ia mengawasi pergerakan Monik dan Henry yang ternyata mulai mendekati lokasinya saat ini berada. Hingga hal tersebut membuat Bomi otomatis menahan nafasnya.


"Jangan sampai aku ketahuan oleh mereka berdua. Kalau sampai ketahuan, mati sudah," batin Bomi yang tentu saja masih memiliki rasa takut jika berhadapan dengan Henry, Digo serta Monik.

__ADS_1


"Tapi aku juga tidak bisa berdiam diri seperti ini karena mereka bisa saja menemukanku dan membunuhku saat ini juga. Jadi sebelum aku di bunuh, maka cara untuk menghindarinya adalah aku yang akan membunuh mereka berdua terlebih dahulu. Aku harus menggunakan dua senjata sekaligus agar mereka berdua tidak ada yang bisa melindungi satu sama lain," sambung Bomi masih didalam hatinya.


Namun tak urung senyum miring terukir di bibirnya.


Masih dengan memantau pergerakan dari Monik juga Henry, tangan Bomi dengan lincah menyiapkan dua senjata yang akan ia gunakan untuk membunuh kedua orang yang semakin lama semakin mendekati lokasinya berada.


Dua senjata yang akan di gunakan Bomi, dua-duanya adalah pistol. Ia tak mungkin menggunakan belati untuk menyerang salah satu dari mereka berdua. Karena ia yakin sebelum dirinya menyerang salah satu dari mereka dengan belatinya, ia yang akan mati terlebih dahulu darinya.


Bomi mengisi pistolnya itu dengan beberapa peluru. Setelah ia menghabisi kedua orang itu, ia sangat-sangat yakin jika suara tembakan darinya akan mengundang semua orang yang juga tengah mencari keberadaannya. Jadi untuk melindungi dirinya jika ada serangan balik nanti, ia sudah menyiapkan banyak peluru di kedua pistolnya.


Dan setelah kedua pistolnya itu sudah siap, ia sedikit merangkak naik di tumpukan sofa yang menghalangi tubuhnya. Lalu setelah ia berada diatas, ia sengaja hanya menyembulkan sedikit kepalanya dan juga kedua pistolnya itu ia arahkan kearah kedua orang yang saat ini tengah membelakangi dirinya.


"Jika tadi aku boleh gagal, tapi untuk sekarang aku pastikan peluruku ini akan tepat sasaran," gumam Bomi.


Ia memfokuskan kedua pistolnya kearah Monik dan juga Henry. Dan tanpa menunggu waktu lama, Bomi menarik pelatuk pistol tersebut bertepatan dengan hal itu Henry dan Monik memutar tubuhnya.


Dan saat itu juga keduanya terkejut sembari berteriak secara berbarengan, "Henry! Monik! Awas!"


Dorrr! Dorrr!


"Arkkhhhhhhh!"

__ADS_1


__ADS_2