
"Kalau mau tau kondisi dia, lihat saja sendiri. Ruangan buat dia istirahat juga ada di sebelah kamar kamu ini," ujar Henry yang masih terlihat sebal karena sang bos menganggap idenya tadi hanya ide yang tidak bermutu, padahal mencoba saja belum. Ck menyebalkan memang bos sekaligus sahabatnya itu.
Digo menghela nafas sebelum dirinya kini mulai melangkahkan kakinya menuju keluar kamar tersebut meninggalkan Henry yang semakin di buat kesal olehnya. Tapi walaupun begitu, Henry tetap mengikuti langkah kaki Digo hingga keduanya kini telah sampai di kamar yang dijadikan tempat istirahat oleh Sheilla.
Dua maid dan beberapa bodyguard yang berada di dalam kamar tersebut kini beranjak saat melihat kedua orang yang berkuasa di dalam rumah tersebut memasuki ruangan yang sama dengan mereka.
Digo kini terus melangkah kakinya tak peduli dengan sekitar yang sudah tak ada orang lain selain dirinya, Henry dan Sheilla. Hingga ia berhenti tepat di samping tubuh Sheilla yang masih menutup mata.
Digo melihat kearah leher Sheilla yang tampak memerah dan itu karena ulahnya dan hal tersebut membuat dirinya lagi-lagi memijit pelipisnya.
"Henry, ganti pembatas balkon sampai sekiranya tidak bisa dijangkau oleh manusia satu ini," ujar Digo yang diangguki oleh Henry sebelum laki-laki itu bergegas keluar dari kemar tersebut untuk memerintah beberapa anak buahnya untuk membantu dirinya menjalankan tugas dari Digo.
Sedangkan Digo yang ditinggal sendirian di dalam kamar tersebut, ia perlahan mendudukkan tubuhnya disamping Sheilla. Ia menatap lekat wajah perempuan itu hingga ucapan Henry beberapa waktu yang lalu muncul diingatannya.
__ADS_1
Flashback on
"Yoga Shalendra. Dia orang yang berada di balik perempuan itu," ucap Henry dengan memberikan beberapa berkas ke tangan Digo.
"Dan setelah saya telusuri memang benar, nona Sheilla merupakan tangan kanan dia. Hmmm lebih tepatnya alat dia untuk membunuh seseorang yang dia anggap sebagai musuh dan salah satunya adalah kamu. Dan setelah saya selidiki lebih dalam lagi, nona Sheilla sebenarnya terpaksa melakukan semua itu karena sebuah hutang dari mendiang kakeknya yang hobi berjudi. Awalnya nona Sheilla tidak mau melakukan apa yang di perintahkan oleh laki-laki itu tapi laki-laki itu selalu memaksa dia dengan ancaman adik serta neneknya yang akan mereka bunuh jika nona Sheilla tak menuruti keinginan dirinya. Dia bingung dan mau tak mau demi keselamatan dua orang yang ia sayangi, dia menerima tawaran itu tanpa dibayar sedikitpun oleh laki-laki itu. Dan yang perlu di garis bawahi, nona Sheilla memang pandai menggunakan senjata api dan pandai juga bela diri dan karena hal itu maka laki-laki itu mengincar nona Sheilla untuk dijadikan alat membunuh semua orang yang sekiranya menghalangi jalan kesuksesannya atau lebih tepatnya ia ingin berada di nomor satu dengan cara licik seperti itu."
Flashback off
Ia memejamkan matanya sesaat untuk meredam emosinya itu. Hingga gemuruh dihatinya perlahan mereda. Dan mata yang ia pejamkan tadi kembali ia buka.
"Berapa banyak nyawa yang sudah kamu hilangkan Sheilla?" gumam Digo dengan menatap lekat wajah damai Sheilla.
"Seberapa banyak luka yang sudah kamu dapatkan selama menjalankan perintah dari laki-laki itu?" sambungnya dengan menelisik setiap inci tubuh Sheilla yang kini tengah mengenakan sebuah piyama panjang yang kemarin ia belikan. Hingga matanya tak sengaja menemukan sebuah luka yang berada di punggung tangan perempuan itu. Dan karena ia penasaran, Digo menyentuh tangan tersebut dan melihat jelas luka tersebut. Luka yang ia yakini bukan luka yang Sheilla dapatkan saat disiksa oleh anak buahnya kemarin.
__ADS_1
Hingga karena dirinya penasaran, ia menyingkap lengan piyama Sheilla dan benar saja disana banyak luka lama dan luka yang baru ia dapatkan kemarin dan hal tersebut justru membuat hati Digo terasa begitu sakit, seakan belati tajam telah menyayat hatinya. Lalu setelahnya ia meletakkan kembali tangan tersebut secara perlahan. Dan baru saja tangan itu kembali ke posisi semula, mata Sheilla tampak bergerak dan perlahan terbuka. Dan hal pertama yang ia lihat setelah ia tersadar dari pingsannya adalah wajah laki-laki yang hampir membunuhnya untuk kedua kalinya. Dan hal tersebut membuat dirinya kini langsung mendudukkan tubuhnya dan menjauh dari Digo yang masih santai menatapnya dan duduk disisi ranjang.
"Mau apa kamu kesini?" tanya Sheilla dengan galaknya. Bohong jika dirinya tidak merasa takut dengan laki-laki yang menurutnya gila itu.
"Ini rumah saya kalau kamu lupa," ujar Digo sembari berdiri dari duduknya.
"Dan saya hanya mengingatkan ke kamu, jika seseorang yang sudah berada di dalam rumah ini maka orang itu tidak akan pernah bisa pergi dari tempat ini. Dan jangan pernah mencoba untuk kabur dari sini lagi. Satu lagi, mungkin ini kabar gembira untuk kamu karena saya sudah menemukan siapa orang yang berada di balik kamu. Dan saya pastikan cepat atau lambat dia akan menyusul kamu kesini atau justru malah sudah di liang lahat," ujar Digo sebelum dirinya pergi dari kamar tersebut meninggalkan Sheilla yang terdiam.
"Dia sudah tau siapa orang yang ada di belakangku? Jika dia sudah tau maka dia akan mencari keberadaannya. Dan yang pastinya kabar dia mencari keberadaan orang itu akan terdengar hingga telinga anak buah laki-laki itu dan berakhir dia akan menuduhku yang telah membocorkan siapa dirinya dan yang akan dalam bahaya nenek juga adikku. Ya tuhan, kenapa bisa seperti ini?" gumamnya dengan menjambak rambutnya frustasi. Ia benar-benar tak ingin melihat kedua orang yang ia sayangi harus terluka karena dirinya. Tapi apa yang harus ia lakukan untuk melindungi mereka berdua sedangkan dirinya saja masih di penjara di dalam rumah yang ia anggap sebagai neraka itu? karena ia yakin dirinya tidak akan pernah mudah untuk kabur dari rumah itu secepatnya.
Hingga tangan yang ia gunakan untuk menjambak rambutnya itu terhenti saat ia menemukan sebuah ide yang mungkin bisa menghentikan aksi Digo untuk mencari laki-laki yang berada di belakangnya.
"Aku harus secepatnya mencari cara untuk melenyapkan dia. Ya aku harus membunuh dia sebelum dia mencari dimana orang itu berada," ujar Sheilla penuh keyakinan. Ia harus berhasil membunuh Digo bagaimana pun caranya jika ia ingin terus melihat nenek serta adiknya di dunia ini selama yang ia bisa. Ia tak peduli dengan resiko yang akan ia dapatkan nanti, yang ada di otaknya saat ini hanyalah menggagalkan rencana Digo untuk semata-mata melindungi keluarganya sendiri.
__ADS_1