The Dark Love

The Dark Love
41. Pekerjaan Spesial


__ADS_3

Sheilla mengucek matanya saat silau matahari mulai masuk kedalam kamar Digo.


"Jam berapa sekarang?" gumam Sheilla dengan menatap jam dinding di kamar tersebut yang menujukkan pukul 9 pagi. Dan hal tersebut berhasil membuat mata Sheilla yang tadi masih mengantuk kini terbuka lebar. Bahkan ia kini berniat untuk duduk dari posisi tidurnya. Namun pergerakannya tadi terhenti saat ia baru merasakan beban yang berada di perutnya.


Sheilla menundukkan kepalanya, ia terkejut saat mendapati tangan seseorang yang tengah memeluk pinggangnya saat ini. Dan tak perlu di tanya lagi siapa pemilik tangan itu, yang jelas adalah pemilik kamar itu sendiri yaitu Digo.


Sheilla ingin sekali mengomeli laki-laki itu, namun saat ia sadar jika jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi yang artinya Digo sudah telat masuk kantor pun ia memilih untuk menyingkirkan tangan laki-laki itu. Tapi sayangnya saat ia ingin menyingkirkan tangan tersebut, Digo justru semakin mengeratkan pelukannya hingga membuat tubuh Sheilla kini benar-benar menempel dengan tubuh Digo. Bahkan wangi di tubuh Digo pun kini menyambut pagi harinya.


"Gila. Dia belum mandi saja masih wangi banget kayak gini. Dan baunya uhhhhh sangat memabukkan untuk siapapun yang menciumnya," batin Sheilla dengan menghirup wangi tubuh Digo dalam-dalam.


Namun beberapa saat setelahnya ia menggelengkan kepalanya, menghalau pikiran kotor yang mulai berdatangan di otaknya. Lalu setelahnya, ia memilih untuk menggerakkan tangannya, menepuk pelan pipi Digo tanpa merubah posisinya saat ini. Mau merubah bagaimana jika Digo memeluknya sangat erat.


"Tuan bangun," ucap Sheilla yang masih menepuk-nepuk pipi Digo.


"Enghh 5 menit lagi," ujar Digo sembari menyembunyikan wajahnya di leher Sheilla yang membuat perempuan itu mengumpat didalam hatinya.


"Tu---tuan ini sudah jam 9 pagi. Tuan harus segera ke kantor," ucap Sheilla dengan sebisa mungkin menahan kegelian saat hembusan nafas Digo menerpa leher jenjangnya.


Sheilla menahan nafasnya saat Digo justru menggesek-gesekkan hidung mancungnya di leher Sheilla.


"Tuan saya mohon bangun lah. Tuan sudah telat ke kantor dan saya sudah telat untuk bekerja. Apa tuan tidak---"


"Diamlah Sheilla. Suara kamu sangat berisik," ujar Digo sembari melepaskan kedua tangannya dari badan Sheilla lalu laki-laki itu memindahkan keduanya ke telinganya. Ia tak ingin mendengar ocehan perempuan tersebut.


Sheilla yang sudah terbebas dari kungkungan Digo pun dengan cepat ia menjauh dari laki-laki itu. Ia sekarang sudah tak berniat lagi membangunkan laki-laki tersebut, biarkan saja di terus tidur karena ia takut saat ia ingin membangunkan Digo, justru laki-laki itu melakukan hal yang sama seperti yang terjadi sebelumnya. Dan saking takutnya, Sheilla kini langsung berlari menuju walk in closed untuk mengambil baju yang akan ia kenakan hari ini lalu ia berlari keluar dari kamar tersebut. Namun seperti biasa kamar itu tak bisa ia buka dan hal tersebut membuat dirinya kini berdecak sebal. Ia lupa jika kamar itu hanya bisa diakses oleh Digo dan Henry saja. Ck, menyebalkan.


Sheilla kini tampak berpikir. Bagaimana dia bisa keluar tanpa harus membangunkan singa yang lagi mode mesum itu? Hingga beberapa saat setelahnya, ia tersenyum saat ia menemukan sebuah ide. Lalu tanpa menunggu waktu lama lagi, Sheilla berjalan dengan pelan menuju kearah Digo kembali.


"Semoga saja tidur dia tidak terusik," gumam Sheilla saat perempuan itu telah sampai disamping tubuh Digo dengan tangan yang bergerak untuk menyingkirkan tangan Digo dari telinga laki-laki itu sendiri.

__ADS_1


Dan dengan pelan namun pasti Sheila memegang salah satu tangan Digo dan menggerakkan kearah tombol yang kebetulan jaraknya hanya di samping ranjang. Sheilla tersenyum saat ia berhasil meletakkan jari telunjuk Digo di salah satu tombol disana hingga terdengar suara kunci pintu terbuka.


"Yesss!" Teriak Sheilla dalam hati. Namun sayang seribu sayang, saat dirinya ingin beranjak dari tempat tersebut, tarikan cukup keras membuat tubuh Sheilla oleng hingga jatuh di atas sesuatu yang keras. Bukan, Sheilla bukan jatuh di atas lantai melainkan ia terjatuh di atas dada bidang Digo.


"Mau kabur hmmm?" Sheilla mengerjabkan matanya kemudian ia menengadahkan kepalanya, menatap wajah Digo yang matanya sudah terbuka lebar.


"Tu---tuan sudah bangun?" tanya Sheilla untuk menyembunyikan raut wajah ketakutannya setelah ketahuan jika ia memanfaatkan jari Digo untuk kabur dari kamar tersebut.


"Belum, saya masih tidur," ujar Digo yang membuat Sheilla mencebikkan bibirnya. Masih tidur kok mata sudah terbuka lebar, batin Sheilla sebal.


"Kamu belum menjawab pertanyaan dari saya Sheilla." Sheilla mengerutkan keningnya.


"Pertanyaan? Kapan tuan bertanya sama saya?" tanya Sheilla.


"Beberapa detik yang lalu."


"Oh ya? Memangnya pertanyaan apa yang tuan berikan kepada saya?" Digo menaikkan sebelah alisnya.


"Telinga saya tidak rusak tuan dan saya tidak lupa. Tuan saja yang memang tidak memberikan saya pertanyaan," ujar Sheilla.


Digo mendengus dengan sebal.


"Ck, sudahlah lupakan." Sheilla tampak mengangguk-anggukkan kepalanya, namun beberapa saat setelahnya, Sheilla baru sadar jika posisinya saat ini berada di atas tubuh Digo.


"Oh astaga," ujar Sheilla dan dengan cepat ia berniat menegakkan tubuhnya. Tapi sayangnya Digo lagi-lagi memeluknya sangat erat.


"Ya ampun tuan. Lepaskan saya," ucap Sheilla sembari mencoba untuk meloloskan dirinya dari rengkuhan laki-laki dibawahnya saat ini. Yakinlah jika Digo terus-menerus memeluknya sangat erat seperti ini Sheilla jamin tulang belakangnya akan patah nantinya.


"Tidak akan," tutur Digo dengan santainya.

__ADS_1


"Saya mohon tuan, lepaskan pelukan ini." Digo menggelengkan kepalanya.


"Tidak akan Sheilla. Dan lebih baik kamu diam saja dan nikmati pelukan yang saya berikan," ujar Digo sembari menutup matanya kembali.


"Tapi tuan, ini sudah pukul 9 pagi bahkan hampir jam setengah 10. Dan apa tuan lupa jika tuan harus kekantor? Dan tuan sekarang sudah telat," ujar Sheilla tanpa menghentikan aksi memberontaknya.


"Saya hari ini cuti Sheilla," jawab Digo.


"Ehhh jadi dia lagi cuti hari ini? Pantas saja dia bangun siang. Dan tak memasang alarm yang berakhir aku juga ikut bangun kesiangan, arkhhhh sialan. Kalau seperti ini bagaimana reaksi semua maid di rumah ini? Dan apa yang akan mereka pikirkan tentangku?" batin Sheilla.


Digo yang sudah tak merasakan pergerakan dari pelukan itu, ia membuka kembali matanya dan dengan seketika ia bisa melihat wajah bengong Sheilla yang masih diatas tubuhnya.


Takkk!


"Aduh!" ringis Sheilla sembari memegangi keningnya yang bagus aja tekena sentilan dari Digo.


"Jangan bengong di pagi hari, pamali," ujar Digo dan dengan entengnya ia mengangkat tubuh Sheilla dan merebahkan tubuh perempuan itu disampingnya. Dan hal tersebut membuat Sheilla memekik tertahan. Apa-apaan laki-laki itu mengangkat tubuhnya tanpa permisi dulu bahkan tangan laki-laki itu masih saja memeluk pinggangnya posesif.


"Tuan, lepaskan. Saya harus kerja sekarang!" geram Sheilla saat Digo justru kembali terlelap dengan tangan yang masih setia berada di pinggangnya.


"Diam lah Sheilla. Kamu sekarang juga lagi bekerja," ujar Digo tanpa membuka matanya.


"Hah? Saya lagi bekerja? Yang benar saja, tuan. Orang saya saja masih disini. Kerja apaan coba kalau saya cuma tiduran seperti ini? Sudah lah tuan saya sedang tidak mau bercanda atau adu mulut dengan tuan hari ini. Dan segera lepaskan tangan tuan dari pinggang saja. Saya mau bekerja," ucap Sheilla sembari berusaha melepaskan tangan Digo.


"Saya bilang diam ya diam Sheilla. Jangan membantah perintah saya. Kamu menemani saya tidur sama saja kamu tengah bekerja. Ini kerjaan spesial hanya untuk kamu saja. Jadi jangan memberontak lagi dan diam lah sebelum saya melakukan hal macam-macam kepadamu," ancam Digo yang berhasil membuat Sheilla menghentikan aksinya. Sheilla tidak bodoh sehingga tidak tau apa yang dimaksud macam-macam oleh laki-laki itu. Ia tahu betul arti dari kata tersebut yang pastinya akan membahayakan dirinya. Dan daripada Digo melakukan aksinya lebih baik Sheilla menurut saja.


Sedangkan Digo yang sudah tak merasakan gerakan di tubuh Sheilla, ia diam-diam menyunggingkan bibirnya tanpa sepengetahuan Sheilla.


...****************...

__ADS_1


Mana nih semangatnya buat aku. Ayo 50 like sebelum jam 2 pagi. Kalian berani? Kalau berani gass keunnn!!!!


__ADS_2