
Digo dan bik Nah kini telah sampai di dalam kamar pribadi milik laki-laki itu. Dan saat bik Nah memasuki kamar tadi, dirinya dibuat terkejut dengan keadaan Sheilla yang tengah tak sadarkan diri diatas ranjang. Ia ditambah terkejut saat melihat meja kaca yang sudah hancur berkeping-keping.
"Ada apa ini?" tanya bik Nah sembari menatap kearah Digo yang sudah duduk disamping tubuh Sheilla.
"Apa kamu melukai Sheilla, nak?" tanya bik Nah kembali dengan melangkahkan kakinya mendekati Digo yang terus menatap kearah Sheilla yang masih setia menutup matanya.
"Jika ada masalah cerita sama bibik," ucap bik Nah setelah ia sampai disamping Digo lalu tangannya bergerak untuk mengelus punggung Digo begitu lembut. Mencoba untuk memberikan ketenangan kepada tuannya itu.
"Bik, apa saya salah kalau saya marah dengan seseorang yang sudah membuat saya kecewa atas kebohongan yang dia perbuat?" tanya Digo.
"Kebohongan? Hmmm bibik rasa tidak salah jika tuan marah. Karena sebuah kebohongan itu tidak bisa di tolerir. Jadi apakah permasalah ini menyangkut dengan Sheilla?" Digo mendengus kemudian ia menganggukkan kepalanya yang membuat bik Nah kini mengerutkan keningnya.
"Sheilla bohong? Berbohong tentang apa?" tanya bik Nah.
"Bibik lihat kan tangan dia yang sekarang lagi memerah ini?" Bik Nah mengarahkan pandangannya mengikuti arah jari telunjuk Digo.
"Lho tangan Sheilla kenapa? Perasaan saat bibik tadi keluar untuk membeli bahan makanan yang sudah habis, tangan dia masih baik-baik saja. Tapi sekarang terlihat seperti luka bakar. Sebenarnya apa yang terjadi tuan? Dan kenapa tangan tuan juga sampai berdarah seperti itu? Apa jangan-jangan pingsannya Sheilla gara-gara tuan?" tanya bik Nah sedikit perihatin dengan nasib Sheilla.
Bahkan bik Nah sempat berpikir, jika kemurkaan Digo bukan hanya sekedar ia mendapat kebohongan dari Sheilla saja melainkan laki-laki itu juga tau jika Sheilla tengah menaruh hati kepadanya. Dan apa yang ditakutkan oleh bik Nah akhirnya terjadi juga? Tapi jika dilihat-lihat ekspresi wajah Digo sekarang dengan kejadian 3 tahun yang lalu sangat berbeda. Jika saat kejadian 3 tahun yang lalu, laki-laki itu masih mempertahankan wajah datar dan seperti tidak memiliki rasa kasihan sedikitpun. Berbeda dengan ekspresi dia saat ini yang terlihat begitu khawatir dan ada tatapan bersalah di matanya. Dan itu semua sangat jelas bisa bik Nah baca.
"Jawab nak. Apa kamu melakukan kekerasan kepada Sheilla?" tanya bik Nah dengan mata berkaca-kaca. Digo menggelengkan kepalanya, karena memang dia tidak melakukan kekerasan kepada perempuan itu. Dia tadi justru menahan mati-matian emosinya walaupun pada akhirnya ia membentak Sheilla.
"Jadi---" belum sempat bik Nah kembali bertanya, suara gedoran dari pintu kamar Digo menghentikan niatnya tadi.
__ADS_1
Tok tok tok tok tok!
"Digo! Buka pintunya. Biarkan aku mengobati luka kamu itu!" Bik Nah melirik kearah Digo yang tengah memejamkan matanya.
"Nak. Apa perlu bibik usir dia dulu?" ucap bik Nah yang sepertinya tau jika Digo sangat tak suka dengan aksi Vina di luar sana.
Digo membuka matanya kemudian ia menganggukkan kepalanya.
"Tolong jauhkan dia dari kamar saya, bik," ujar Digo.
"Baiklah. Bibik keluar dulu ya. Dan kamu tenang saja, Sheilla akan baik-baik saja. Dan ingat kamu masih hutang penjelasan kepada bibik yang akan bibik tagih nanti," ucap bik Nah.
"Iya ibu negara kedua. Digo nanti akan menceritakan semuanya yang ingin ibu negara kedua ketahui. Jadi tolong jauhkan manusia gila itu dari depan kamar saya bik. Saya sudah tidak tahan mendengarkan teriakan dia," ujar Digo.
Bik Nah yang mendengar jika kunci pintu itu sudah terbuka, ia dengan cepat memutar kenop pintu tersebut. Dan sebelum Vina menerobos masuk, bik Nah lebih dulu menutup pintu tersebut lalu tanpa aba-aba, bik Nah menarik lengah Vina hingga perempuan itu menjauh dari depan kamar Digo.
Vina yang diperlakukan seperti itu dengan cepat ia menghentakkan tangannya hingga genggaman tangan bik Nah di lengannya terlepas.
"Apa yang kamu lakukan, sialan? Kenapa kamu menyeretku menjauh dari kamar Digo? Dan berani-beraninya kamu tadi menghalangi jalanku untuk masuk kedalam kamar itu! Siapa kamu hingga berani-beraninya melakukan semua ini kepadaku?!" geram Vina.
"Saya memang bukan siapa-siapa di rumah ini. Saya hanya seorang maid yang berkerja di bawah perintah tuan Digo. Jadi apa yang di perintahkan oleh tuan saya akan saya lakukan termasuk untuk menjauhkan nona dari kamar tuan saya," ujar bik Nah masih dengan keramahannya.
"Omong kosong apa yang tengah kamu bicarakan itu hah?! Tidak mungkin Digo menyuruh kamu untuk melakukan hal yang kamu ucapkan itu. Dan aku yakin ini semua hanya inisiatif kamu saja kan?" tuduh Vina yang membuat bik Nah menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Terserah nona mau percaya dengan ucapan saya tadi atau tidak. Karena yang terpenting sekarang Nona ikut saya untuk menjauh dari kamar tuan Digo," ujar bik Nah tak minat jika harus berdebat dengan perempuan itu.
"Tidak. Aku tidak mau menuruti ucapan kamu itu. Kamu tidak memiliki hak sedikitpun untuk menjauhkanku dari kamar Digo," tutur Vina.
Bik Nah tampak berdecak. Dan saat bik Nah ingin meraih tangan Vina, perempuan itu lebih dulu berhasil kabur darinya. Hingga membuat bik Nah mau tak mau mengejar perempuan itu. Dan kini terjadilah aksi kejar-kejaran antara dua perempuan berbeda usia itu.
Hingga langkah Vina memelan saat dirinya melihat Henry datang dengan seorang dokter wanita disampingnya.
Vina tersenyum kala Henry sudah berada di depan pintu kamar tersebut. Dan hal tersebut membuat dirinya membelokkan langkah kakinya mendekati Henry dan dokter Diana.
Vina mempercepat laju larinya saat Henry sudah membuka pintu kamar Digo.
Dan saat pintu itu ingin kembali tertutup tiba-tiba...
Brakkk!
Pintu itu kembali terbuka dengan cukup kasar yang membuat wajah Henry terkantuk pintu yang hampir ia tutup tersebut.
"Sialan!" umpat Henry saat merasakan ada darah segar yang mengalir dari hidung mancungnya. Sebelum tatapan matanya beralih kearah pelaku dari kejadian yang baru saja menimpa dirinya ini.
"Apa anda tidak memiliki sopan santun, Nona sehingga tanpa permisi anda menerobos masuk begitu saja di kamar orang?!" geram Henry sembari memegangi hidungnya yang tak kunjung berhenti mengeluarkan darah.
"Arkhhhh sialan. Jika sampai terjadi sesuatu dengan saya, saya akan beri anda hukuman," sambung Henry sebelum dirinya melangkahkan kakinya menuju kamar mandi di dalam ruangan tersebut.
__ADS_1
Sedangkan Vina, perempuan itu tidak mengindahkan ucapan Henry sama sekali karena kefokusan dirinya kini tertuju kepada perempuan yang terbaring diatas ranjang milik Digo. Dan setelah ia perhatikan wajah damai perempuan tersebut, ia mengepalkan tangannya dengan otak yang bertanya-tanya. Kenapa Sheilla bisa berada di dalam kamar ini? Dan kenapa dia dengan lancangnya bisa tidur diatas kasur milik Digo? Dan tunggu pemandangan apa yang baru saja ia lihat ini? Ia melihat jika tangan Digo tengah menggenggam erat tangan Sheilla? Ohhhh GOD itu benar-benar membuat hati Vina terasa panas. Vina sangat ingin menarik Digo untuk menjauh dari Sheilla saat ini juga. Dan ia juga sangat ingin memotong tangan Sheilla yang sudah lancang menyentuh tangan laki-lakinya itu.