
Kepergian Digo dan Sheilla tadi membuat seseorang yang sedari tadi diam-diam menguping itu tersenyum sangat tipis sampai tak ada seorangpun yang menyadari senyuman itu dengan tatapan yang terus menatap kepergian dari dua orang tadi yang perlahan mulai menghilang dari balik pintu lift. Dimana hal itu membuat seseorang tadi langsung berjalan menjauh dari keramaian yang ada didalam mansion tersebut.
Dan setelah orang itu keluar, senyum tipisnya tadi berubah menjadi senyum lebar sembari bergumam, "Katanya pintar dan licik tapi dia sangat bodoh sampai tidak mencurigai jika memang di mansion ini ada seorang penghianat yaitu diriku. Malah yang justru curiga adalah Sheilla. Tapi untungnya dia yang bodoh itu tidak menuruti apa yang di sarankan oleh Sheilla jadi aku tidak perlu khawatir jika sampai laki-laki bodoh itu mengetahui jika aku penghianat di mansion ini."
Seseorang itu tampak masih tersenyum kala mengingat perkataan Digo yang sangat percaya kesemua orang yang ada di mansion ini. Padahal dirinya tadi sempat ketar-ketir kala mendengar ucapan Sheilla yang ternyata memiliki feeling yang sangat kuat hingga ia harus memutar otaknya agar Digo tak segera mengetahui penghianatannya itu. Tapi ia cukup dibuat lega kala Digo tak mau ambil pusing soal penghianatan yang laki-laki itu yakini tak akan terjadi di mansion ini. Ahhh mengingat kebodohan Digo itu membuat dirinya benar-benar sangat senang setengah mati.
Senyum yang sedari tadi terus mengembang tiba-tiba saja hilang seketika saat otaknya itu tiba-tiba terbersit sebuah bayang-bayang yang membuat dirinya menjadi khawatir kembali.
"Tapi tunggu dulu. Saat ini memang Digo tidak mensetujui untuk melakukan saran yang diberikan oleh Sheilla tadi. Tapi bagaimana kalau perempuan itu terus membujuk Digo yang berakhir laki-laki bodoh itu menuruti saran itu yang artinya jika Digo melakukannya, maka nyawaku akan terancam," gumamnya. Dan detik berikutnya ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak. Aku tidak akan membiarkan nyawaku lenyap ditangan laki-laki bodoh itu. Jadi mau tidak mau aku harus melakukan rencanaku saat ini juga. Kebetulan acara resepsi di adakan hari ini yang mana pasti mereka semua akan fokus dengan urusan resepsi pernikahan ini yang tentunya akan aku manfaatkan untuk membunuh Digo dan Sheilla jika perlu Henry juga Monik sekalian biar tidak ada penguasa di mansion ini yang artinya saat mereka berempat mati, aku lah yang akan memegang kendali semua yang ada di mansion ini termasuk semua anak buah dua laki-laki bodoh itu. Ahhhh aku sudah tidak sabar hal itu terjadi kepadaku," sambungnya dengan imajinasi yang sudah ia rangkai indah di otaknya tersebut.
__ADS_1
Disisi lain saat salah satu anak buah Digo tengah merencanakan niat jahatnya itu, Henry yang menjadi salah satu target dari si penghianat tersebut saat ini ia terus berusaha untuk membuat istrinya itu tersenyum kembali. Pasalnya setelah acara akad tadi dilaksanakan, Monik terus menghabiskan waktunya untuk melamun bahkan ucapan selamat yang di berikan dari semua orang yang ada di mansion hanya ditanggapi dengan anggukan serta senyum tipis saja oleh perempuan tersebut tanpa mengucapkan terimakasih. Dan kini perempuan yang masih memakai balutan gaun pernikahannya tengah menatap lurus kedepan. Ia sekarang tengah berada di balkon kamar barunya tersebut.
Henry yang sudah berusaha untuk menghibur sang istri tapi tak membuahkan hasil sama sekali pun ia hanya bisa menghela nafas dan dirinya memilih untuk mendudukkan tubuhnya disamping Monik.
"Sayang, jangan diam sama ngalamun gini lah. Lama-lama aku takut kamu nanti kesambet. Kamu tau kesambet gak? Kalau gak tau aku kasih tau ya. Kesambet itu raga kamu nanti akan dimasuki setan. Dan yang bisa mengeluarkan setan itu dari tubuh kamu juga tidak sembarangan orang. Yang pastinya akan ribet lah kalau hal itu terjadi. Jadi udah ya sayang ngalamunnya. Jangan sedih-sedih lagi seperti ini. Atau jangan-jangan kesedihanmu dan murungmu ini disebabkan karena kamu sebenarnya tidak mau menikah sama aku seperti keinginanmu dulu karena trauma sialan itu?" cerca Henry yang begitu cerewet.
Monik tampak menghela nafas dalam diamnya namun tak urung ia menatap sekilas kearah suaminya itu sebelum ia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas ucapan Henry tadi jika dirinya sedang tidak bersedih karena sudah menikah dengan Henry. Dan setelah ia menggelengkan kepalanya, dirinya kembali melamun seperti tadi yang membuat Henry kini berdecak kesal. Sepertinya akan percuma ia terus cerewet untuk memancing Monik agar membuka suaranya kembali. Dan dirasa semua usahanya tak akan membuahkan hasil, ia memilih untuk merebahkan tubuhnya di kursi panjang yang diduduki olehnya dan Monik tadi, menjadikan paha Monik sebagai bantalannya.
"Heyy anak Papa. Papa mau curhat," ujar Henry dengan sedikit menggembungkan pipinya setelah laki-laki itu mengucapakan perkataannya tadi. Dimana hal tersebut membuat Monik tersenyum gemas.
"Dengerin baik-baik ya anak Papa karena Papa gak akan ngulang curhatan Papa ini. Jadi kamu harus tau kalau Mama sekarang tengah melamun, tidak mau senyum apalagi bicara sama Papa. Saat Papa tanya Mama hanya jawab dengan gelengan atau anggukan saja. Dan kamu tau, apa yang Mama kamu lakukan itu benar-benar sangat menyebalkan. Ihhhh Papa itu gak suka kalau diami seperti ini. Berasa Papa sedang bicara sama boneka tau gak kalau Mama kamu mode galau seperti ini. Ck, Papa gak suka diginiin sama Mama kamu. Arkhhhh tolongin Papa buat bujuk Mama kamu biar gak ngalamun lagi, biar mau bicara lagi dan biar bisa tersenyum lagi. Bantu Papa, please," sambung Henry dengan menenggelamkan wajahnya di perut Monik.
__ADS_1
Monik yang sedari tadi menyimak curhatan hati dari sang suami pun tak urung ia kini tersenyum sangat lebar. Suaminya itu benar-benar sangat lucu saat bercerita tadi. Hingga tangan Monik kini bergerak untuk mengelus rambut Henry.
Henry yang merasakan elusan tersebut pun ia menjauhkan wajahnya dari perut Monik, kemudian ia menelentangkan tubuhnya agar bisa melihat wajah Monik yang sudah tersenyum kembali. Dimana hal itu membuat Henry juga ikut tersenyum.
"Sayang sudah bisa tersenyum lagi?" tanya Henry yang benar-benar tak masuk akal sebenarnya namun Monik tetap menjawabnya dengan anggukan kepala saja.
"Kalau bicara? Sudah bisa?" Monik lagi-lagi menanggapi ucapan sang suami dengan anggukan kepala.
"Kalau bisa, coba bicara," pinta Henry dengan binar matanya.
"I Love you and sorry," ujar Monik yang membuat Henry senang bukan kepalang. Sampai ia kembali memiringkan tubuhnya lalu memeluk perut istrinya itu, menenggelamkan wajahnya di perut Monik untuk mereda teriakannya yang berkata, "Aaaaa akhirnya my wife bicara lagi! Aaaaaa!"
__ADS_1
Monik yang melihat tingkah sang suami pun ia terkekeh gemas. Memang ia akui jika suaminya itu paling bisa mengembalikan mood-nya yang tadi sudah sangat hancur kini menjadi happy kembali.