
"Sudah lah kalian jangan bahas masalah ranjang disini dan lebih baik kalian katakan apa maksud dan tujuan kalian kesini? Apa hanya ingin menjengukku saja atau ada hal lain?" tanya Henry pada akhirnya karena terus terang saja jika membahas masalah ranjang, ia pasti akan terbayang-bayang kejadian beberapa hari yang lalu saat dirinya dan Monik melakukan hubungan badan dengan keadaan sadar yang nikmatnya jauh lebih dari saat mereka melakukannya dalam pengaruh obat perangsang.
"Kita kesini tadi memang tujuannya bukan hanya ingin melihat keadaanmu saja tapi kita juga akan bertanya ke kamu tentang pernikahanmu dan Monik besok. Gimana? Apa pernikahan itu tetap akan terjadi? Maksudnya apa tidak mau kamu undur terlebih dahulu karena mengingat keadaanmu yang seperti ini," ujar Digo yang langsung mendapat gelengan kepala dari Henry.
"Tidak. Aku tidak akan mengundur pernikahan ini apalagi sampai pernikahan ini batal. Tidak aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Kondisi perut Monik akan semakin membesar nanti kalau kita memang akan mengundur pernikahan ini. Dimana nanti semua orang tau aib kita berdua," ucap Henry.
Digo dan Sheilla tampak saling tatap, ada benarnya juga ucapan dari Henry tadi. Mereka juga pastinya akan kasihan melihat Monik dengan perut yang membesar harus berdiri lama untuk menyambut para tamu yang memberikan selamat kepadanya.
"Ya sudah kalau itu memang keputusanmu. Tapi jangan di paksa jika memang kamu besok tidak kuat untuk menerima tamu. Kamu bilang saja biar saya dan Sheilla yang menggantikan kamu menyambut para tamu itu," kata Digo dengan mengalihkan pandangannya kearah Henry berada.
"Aku yakin aku kuat untuk menerima tamu itu, Al. Jadi kamu dan Sheilla tidak perlu khawatir," ucap Henry dengan senyum manisnya. Ini lah sifat Digo yang sangat ia sukai, laki-laki itu tidak akan segan untuk peduli dengan orang sekitarnya.
Dimana ucapan dari Henry tadi mendapat balasan anggukan kepala oleh Digo maupun Sheilla.
Disisi lain saat mereka bertiga tengah mengobrol mengenai pesta pernikahan Henry dan Monik, di atas ranjang kamar yang sama dengan ketiga orang itu, Monik mengerjabkan matanya. Ia sepertinya sedikit terusik tidurnya karena mereka bertiga. Namun setelah matanya terbuka, ia langsung meregangkan tubuhnya hingga kedua tangannya kini ia rentangkan dan berakhir mendarat diatas ranjang. Dimana saat itu ia baru sadar jika dirinya sudah berpindah tempat, bukan lagi di bawah melainkan diatas.
Monik tampak terdiam sesaat sebelum dirinya menolehkan kepalanya kearah sisi kanannya dimana disana biasanya tempat Henry tidur. Saat ia sudah melihat kearah tersebut, ia tak menemukan calon suaminya itu dimana hal tersebut membuat dirinya langsung bangkit dan duduk dengan posisi tubuh yang menatap ke sisi kanan.
__ADS_1
"Henry kemana?" gumamnya. Ia melihat kearah bawah ranjang namun tetap saja ia tak menemukan tubuh Henry.
Dimana hal tersebut membuat pikiran Monik tidak bisa berpikir positif lagi, sampai ia ingin sekali menangis saat itu juga.
Dan dengan bibir yang bergetar ia berteriak, "Sayang kamu ada dimana?!"
Ketiga orang yang berada tak jauh dari posisi Monik saat ini mereka tampak terkejut akan teriakan tersebut karena mereka tadi tidak melihat jika Monik sudah bangun dari tidurnya.
Henry yang sudah tersadar dari keterkejutannya tadi ia bergegas menuju kearah Monik berada. Dimana saat dirinya sudah mengikis jarak antara dirinya dan Monik, ia berkata, "Heyyyy ada apa? Aku ada disini."
Monik yang ternyata sudah menangis dengan posisi yang masih sama, ia kini menolehkan kepalanya kearah sumber suara yang berada di belakangnya. Dimana saat itu juga Monik langsung memutar tubuhnya dan segera memeluk tubuh Henry dengan begitu erat.
"Ada apa hmmm? Kenapa teriak cariin aku tadi?" tanya Henry lagi.
"Hiks kamu darimana saja sih? Aku bangun tidur tiba-tiba udah di atas ranjang dengan kamu yang tidak ada di posisi tidur kamu tadi. Aku khawatir tau gak. Aku takut kejadian tadi pagi terulang lagi. Dimana saat aku bangun tidur tidak menemukan kamu di ranjang dan berakhir aku malah menemukan kamu di dalam kamar mandi dengan keadaan kamu yang sangat menakutkan," ujar Monik. Terus terang saja ia sekarang menjadi parno sendiri kala bangun tidur tidak melihat Henry di sisinya.
"Kamu tenang saja sayang. Aku baik-baik saja kok. Dan aku jamin kejadian tadi pagi tidak akan terulang lagi," ucap Henry yang membuat Monik kini sedikit melonggarkan pelukannya agar dirinya bisa menatap wajah sang calon suami.
__ADS_1
"Kamu yakin kejadian tadi pagi tidak akan terulang lagi?" Henry menganggukkan kepalanya dengan tangan yang bergerak untuk mengusap air mata Monik.
"Kamu janji." Monik menyodorkan jari kelingkingnya dihadapan Henry yang langsung disambut dengan jari kelingking Henry sembari laki-laki itu berkata, "Aku janji."
Monik yang tadinya menangis kini tangisan itu ia hentikan dengan senyum manis yang kini menghiasi bibirnya sebelum ia kembali memeluk tubuh calon suaminya itu yang tentunya dibalas oleh Henry.
Dua calon pengantin itu tidak segan-segan mengumbar keromantisan mereka berdua didepan Digo dan Sheilla yang sedari tadi menatap mereka.
"Sepertinya kita harus keluar dari sini deh sayang," bisik Digo tepat di telinga Sheilla.
"Sepertinya memang begitu. Ya sudah tunggu apa lagi ayo kita keluar sekarang. Tidak baik juga kita lama-lama disini yang akan berakhir kita akan mengganggu keromantisan mereka berdua," balas Sheilla dengan suara yang lirih juga. Lalu setelahnya perempuan itu berdiri dari posisi duduknya tadi dengan tangan yang menggandeng lengan Digo. Dimana hal itu otomatis membuat Digo juga berdiri dari duduknya. Kemudian dengan jalan yang cukup pelan dan sebisa mungkin tidak menimbulkan suara yang mengganggu sang pemilik kamar, mereka keluar dari dalam kamar tersebut.
Dimana saat mereka sudah benar-benar keluar dan sudah menutup pintu kamar itu kembali, keduanya tampak menghela nafas lega. Tapi beberapa saat setelahnya suara Digo terdengar di telinga Sheilla. Suaminya itu berkata, "Setelah aku melihat Henry dan Monik bermesraan. Aku juga ingin melakukannya."
Sheilla menolehkan kepalanya kearah Digo dengan memincingkan salah satu alisnya. Sedangkan Digo, ia justru tengah tersenyum kearah sang istri.
"Keromantisan dalam rumah tangga itu di perlukan sayang biar semakin harmonis," ujar Digo dengan menaik-turunkan alisnya. Dimana hal tersebut membuat Sheilla memutar bola matanya malas. Memangnya mereka selama ini tidak cukup romantis? Sheilla rasa sudah sangat romantis. Hanya saja keduanya sangat jarang menunjukan keromantisan mereka berdua di hadapan semua orang.
__ADS_1
Digo yang sudah tidak sabar menunggu jawaban Sheilla pun ia menarik pelan lengan sang istri sampai tubuh Sheilla menubruk tubuhnya. Dan saat itu juga, tanpa aba-aba Digo menggendong Sheilla ala koala menuju ke lift rahasia di rumah tersebut yang akan mereka gunakan untuk menuju ke kamar mereka. Sheilla tentunya hanya bisa pasrah saja karena percuma saja dirinya memberontak yang pasti ia tetap akan kalah pada akhirnya.