The Dark Love

The Dark Love
120. Bukti Baru


__ADS_3

Di malam harinya, Digo dan Henry tengah berada di ruang kerja Digo.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Digo kepada sahabatnya itu yang di jawab gelengan kepala oleh Henry.


"Aku belum bisa menemukan siapa pemilik lambang bunga Aster itu. Anak buahku pun juga belum menemukan jejak perginya Yoga. Mereka terakhir kali menemukan jejak Yoga berada di pinggir hutan yang tak jauh dari sini tapi setelahnya mereka tidak menemukan jejak itu lagi. Bahkan anak buahku sudah menelusuri kedalam hutan tapi hasilnya tetap saja nihil. Entah dibawa kemana dia oleh orang-orang yang berhasil membebaskannya tadi," ujar Henry yang membuat Digo kini menghela nafas panjang.


"Jika seperti ini membuat saya semakin percaya jika ada orang lain yang lebih hebat di belakang aksi Yoga itu dan orang itu si pemilik lambang bunga aster itu," ucap Digo yang diangguki setuju oleh Henry.


Dan saat dua laki-laki itu tengah terdiam dengan pikiran masing-masing, terdengar suara ketukan dari arah pintu ruangan tersebut yang membuat keduanya menolehkan kepalanya ke sumber suara.


"Masuk!" perintah Digo. Dan tak berselang lama pintu ruang kerjanya itu terbuka dimana dibalik pintu itu ada salah satu anak buah Digo yang kini mulai melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan bosnya itu.


"Ada apa?" tanya Digo.


"Maaf menganggu tuan Digo dan tuan Henry. Saya kesini hanya ingin memberikan dompet ini saja." Anak buah Digo itu menyerahkan sebuah dompet kearah Digo yang langsung di terima oleh laki-laki itu dengan kerutan di keningnya. Karena dompet itu bukan miliknya.


"Milik siapa ini?" tanya Digo.


"Dompet itu saya temukan di pojok ruang penjara bawah tanah. Saat saya membersihkan ruangan itu, saya tidak sengaja menemukan dompet itu kemungkinan dompet itu milik komplotan yang membantu menyelamatkan Yoga tadi," ujar anak buah Digo tersebut.

__ADS_1


"Baik, kalau begitu kamu boleh kembali," ujar Digo yang diangguki oleh anak buahnya itu sebelum laki-laki tersebut kini keluar dari ruang kerja tuannya.


Sedangkan Digo yang melihat anak buahnya sudah pergi dari ruangannya itu, ia segera membuka dompet tersebut.


Henry yang penasaran akan isi dari dompet itu, ia kini berdiri dan mendekat kearahnya Digo.


Digo dan Henry saling tatap satu sama lain saat Digo menemukan sebuah KTP di dalam dompet tersebut, kartu tanda pengenal juga sebuah kartu yang entah itu kartu apa mereka berdua juga belum mengetahuinya.


Sebelum tatapan dua laki-laki itu kembali terfokus ke ketiga kartu tersebut dimana mata mereka langsung tertuju ke arah KTP yang sangat familiar untuk mereka berdua.


"KTP Indonesia. Berarti orang yang berhasil kamu tangkap tadi berasal dari negara kelahiran kita. Apa si pengusaha Belanda itu memiliki anak buah dari negara kita?" tanya Henry.


"Kalau memang begitu ada kemungkinan jika dalang di balik aksi Yoga itu bukan si pengusaha Belanda itu. Tapi orang lain yang kemungkinan juga berasal dari negara yang sama dengan negara kita yaitu Indonesia," ucap Henry menebak-nebak.


"Sepetinya itu tidak mungkin. Karena saya hampir mengenal semua pengusaha dinegara kelahiran kita. Dan saya juga tidak memilik permasalahan apapun kepada mereka jadi untuk apa mereka menginginkan nyawa saya? Sedangkan usaha saya saja berkembangnya di negara Eropa ini bukan negara Asia lagi. Jika orang itu menginginkan nyawa saya karena saya keturunan dari keluarga Rodriguez, kenapa tidak Kiya saja yang sangat mudah mereka habisi. Jika mereka bisa melawan kelicikan Kiya juga sih. Tapi setidaknya ada orang yang jaraknya lebih dekat daripada jarak kita dengan dalang itu. Dan jika dia mau menyingkirkan saya yang mereka pikir menjadi ahli waris semua kekayaan Papa, percuma saja, orang saya menyerahkan semua warisan Papa untuk Kiya. Dan semua publik di negara Indonesia tau jika semua aset milik Papa jatuh ke tangan Kiya semua. Jadi untuk alasan apa mereka menyerang saya?" ujar Digo yang merasa dirinya tidak memiliki urusan apapun dengan para pengusaha ataupun mafia tersembunyi di negara kelahirannya itu. Dan jangan salah mengartikan jika Digo tidak mendapatkan sepeserpun harta dari orangtuanya.


Dia mendapatkannya bahkan hampir 80% kekayaan milik sang Papa jatuh ke tangannya namun ia menolaknya dengan alasan dia ingin berusaha untuk mandiri. Jadi semua aset yang diturunkan untuknya dia limpahkan semuanya ke adik kesayangannya itu. Walaupun ada sedikit perdebatan antara dirinya dan kedua orangtuanya namun jika Digo sudah memutuskan maka keputusannya tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun termasuk kedua orangtuanya sendiri. Watak keras kepalanya Digo tidak pernah hilang sampai sekarang.


Henry yang mendengar ucapan dari sahabatnya itu ia mengangguk-anggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Benar juga apa katamu itu. Haishhhh sudahlah lebih baik kita lihat kartu yang lainnya saja. Daripada kita menebak-nebak yang berakhir kita belum juga mendapatkan jawabannya," ujar Henry yang diangguki oleh Digo sebelum laki-laki itu kini mengambil dua kartu lainnya sekaligus.


Mereka berdua membaca isi dari salah satu kartu tersebut dimana di kartu asing yang belum pernah mereka lihat tertulis dengan bahasa Inggris sedangkan di kartu tanda pengenal tertulis berbahasa Indonesia.


"Los Asteriscaz," beo Digo dan Henry secara bersamaan saat mereka berdua membaca tulisan di kartu yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.


"Apakah nama itu adalah nama komplotan mereka?" tanya Henry.


"Mungkin dan kartu ini kemungkinan merupakan kartu anggota mereka. Nama yang tertera di dalam kartu ini juga sama dengan nama yang ada di KTP tadi," ujar Digo.


"Kalau begitu biar aku cari tahu tentang nama Los Asteriscaz itu. Siapa tahu nama itu merupakan nama komplotan mereka," ucap Henry yang diangguki setuju oleh Digo dengan tangan yang kini menyerahkan kartu tadi ke tangan Henry yang langsung diterima juga disimpan oleh sahabatnya itu. Sebelum tatapan Digo beralih ke satu kartu tanda pengenal yang sedari tadi ia pengang itu.


Dan betapa terkejutnya Digo kala ia telah membaca kartu tanda pengenal tersebut yang menunjuk ke sebuah perusahaan yang benar-benar sangat ia kenal.


Tak hanya Digo saja yang terkejut dengan nama perusahaan di tanda pengenal tersebut melainkan Henry pun tak kalah terkejutnya dengan Digo.


"Nama perusahaan ini bukannya nama perusahaan milik---" belum selesai Henry mengucapkan perkataannya tadi, Digo sudah lebih dulu memotongnya.


"Apa yang berada di pikiranmu itu benar Henry. Nama perusahaan ini memang milik beliau," ucap Digo dengan tatapan nanar lurus kearah kartu tersebut sebelum dirinya menemukan ada kejanggalan di kartu itu.

__ADS_1


__ADS_2