
Sayang seribu sayang harapan Henry tak di kabulkan oleh sang maha kuasa. Dimana setelah dirinya berhasil menidurkan Monik, ia justru dibuat lemas setengah mati karena efek ia minum air kran tadi tengah terjadi. Ia sedari tadi keluar masuk kamar mandi sampai akhirnya ia lelah dan memilih untuk tetap di dalam kamar mandi.
Monik menggeliatkan tubuhnya dengan tangan yang kini bergerak, meraba tempat tidur yang tadi ada Henry disana. Mata Monik terbuka sempurna dan segera ia menolehkan kepalanya ke sisi kanannya.
"Lho Henry kemana?" tanyanya pada dirinya sendiri sembari mendudukkan tubuhnya.
Matanya mengedar, mencari sosok laki-laki tersebut di setiap sudut kamar tersebut namun ia tak juga melihatnya.
Hingga karena rasa khawatir yang tiba-tiba muncul, Monik segara turun dari ranjang, melangkahkan kakinya dengan lebar menuju ke arah walk in closed.
"Sayang," panggil Monik dengan membuka pintu ruangan tersebut. Namun saat pintu itu terbuka lebar, ia tak menemukan Henry didalam sana.
"Sayang, kamu dimana?" teriak Monik.
Hening, tak ada balasan dari Henry.
"Kemana sih tuh orang? Apa jangan-jangan dia ada di luar lagi?" Tanpa ba-bi-bu lagi, Monik berlari kecil. Niatnya ingin mencari Henry di luar kamar. Namun saat tangannya memegang kenop pintu, tiba-tiba...
Gedubrakkk!
Suara seperti benda jatuh terdengar di telinga Monik hingga menghentikan niatan Monik tadi.
"Suara apa itu? Asalnya dari kamar mandi. Jangan-jangan---" Ucapan Monik menggantung dengan mata yang terbuka lebar. Entah kenapa ia curiga suara yang berasal dari dalam kamar mandi itu ada kaitannya dengan sang calon suami. Sampai akhirnya Monik tidak jadi keluar kamar, ia memilih untuk memeriksa kamar mandi terlebih dahulu.
Kekhawatiran Monik semakin meningkat kala ia tak bisa membuka pintu kamar mandi itu.
__ADS_1
"Astaga kenapa pintunya tidak bisa aku buka," gerutu Monik yang masih berusaha membuka pintu itu. Namun sayang ia tetap sama tidak bisa membukanya.
"Sayang! Apa kamu didalam?!" teriak Monik dengan menggedor-gedor pintu tersebut.
Tak ada jawaban sama sekali dari dalam kamar mandi itu tapi Monik sangat yakin jika didalam kamar mandi itu ada seseorang. Entah itu Henry atau bukan.
Dan karena ia tak kunjung mendapat respon apapun dari dalam sana, Monik berlari kecil keluar dari kamar untuk mencari bantuan.
"Tolong! Siapapun tolong aku sekarang juga!" teriak Monik menggelegar.
Dimana teriakannya itu membuat semua orang yang ada di dalam mansion itu terutama seorang laki-laki yang menaruh hati kepada Monik lebih dulu mendekati perempuan itu.
"Ada apa Monik? Apa yang terjadi? Kenapa kamu kelihatan panik seperti ini?" tanya laki-laki itu.
"Tolong bantu aku Nauvan. Tolong bantu aku buat dobrak pintu kamar mandi didalam." Laki-laki yang bernama Nauvan dan beberapa orang yang mengerubungi Monik, bertanya-tanya kenapa Monik menginginkan bantuan untuk mendongkrak pintu kamar mandi?
"Tuan Digo. Bantu saya untuk mendobrak pintu kamar mandi didalam."
"Lho kenapa di dobrak? Pintunya rusak?" kini giliran Sheilla yang angkat suara.
Monik menggelengkan kepalanya.
"Bukan. Tapi aku tadi dengar ada sesuatu yang jatuh di dalam sana. Dan aku yakin suara itu ada kaitannya dengan Henry. Karena aku tidak tau dia sekarang ada dimana." Digo yang mendengar kecurigaan Monik pun tanpa menunggu lama, ia bergegas masuk kedalam kamar tersebut di susul oleh Sheilla, Monik serta beberapa bodyguard yang siap membantu jika ada hal yang di perlukan oleh Digo kecuali satu orang. Siapa lagi jika bukan Nauvan yang masih berdiri tegak di depan pintu kamar itu dengan kedua tangannya yang terkepal erat, tatapan matanya menajam dengan suara gigi yang bergemeletuk tanda jika laki-laki itu tengah emosi saat ini.
"Sialan," umpat Nauvan dengan lirih karena di sekitarnya masih ada beberapa maid yang ingin tau hal apa yang terjadi didalam kamar Henry.
__ADS_1
Dan tanpa semua orang tau, Nauvan melangkahkan kakinya mundur hingga akhirnya ia pergi dari depan kamar Henry juga Monik itu.
Sedangkan didalam kamar itu, Digo mencoba membuka pintu kamar tersebut dengan memutar kenop pintu, tapi benar apa yang dikatakan oleh Monik tadi jika pintu kamar tersebut tak bisa di buka yang artinya ada seseorang didalam kamar mandi tersebut yang sengaja menguncinya.
Digo berdecak sebelum ia memundurkan tubuhnya yang otomatis membuat semua orang yang tadi berada di belakangnya turut mundur. Dan dengan berancang-ancang Digo mendobrak pintu kamar mandi itu dan dengan sekali tendangan saja pintu tersebut berhasil dibuka olehnya.
Digo bergegas masuk kedalam kamar mandi itu dan betapa terkejutnya dia saat melihat tubuh Henry sudah tergeletak di atas lantai kamar mandi itu.
"Ya Tuhan!" teriak Monik yang ikut masuk kedalam kamar mandi itu. Ia tampak shock, khawatir dan panik menjadi satu. Dan ia kini berjongkok di depan Henry, memangku kepala laki-laki itu yang tengah di periksa denyut nadinya oleh Digo.
Digo tampak menghela nafas lega saat melihat denyut nadi Henry masih ada. Dan tanpa memperdulikan Monik yang tengah mencoba membangunkan Henry dengan menepuk-nepuk pipi laki-laki itu, Digo menolehkan kepalanya kearah sang istri yang tampaknya juga terkejut melihat kondisi Henry saat ini yang tengah pingsan dengan darah yang keluar dari keningnya, kemungkinan saat Henry pingsan tadi, kepalanya membentur pinggir wastafel atau mungkin pinggir toilet, tebak Digo.
"Sayang, kamu bisa telepon Diana sekarang juga?" tanya Digo yang berhasil mengalihkan perhatian Sheilla. Dimana permintaannya itu diangguki oleh Sheilla. Perempuan itu kini bergegas keluar dari dalam kamar mandi untuk melakukan apa yang di perintahkan oleh Digo.
Dan setelah kepergian Sheilla, Digo mengalihkan pandangannya kearah anak buahnya sebelum ia berkata, "Angkat Henry, bawa dia keatas ranjang!"
Tak menunggu Digo melayangkan perintah untuk yang kedua kalinya, beberapa anak buah Digo itu bergegas masuk satu persatu kedalam kamar mandi itu, mengambil alih tubuh Henry yang sedari tadi di peluk erat oleh Monik yang tengah menangis histeris.
Dan dikeluarkannya Henry dari dalam kamar mandi itu bertepatan dengan Sheilla yang kembali menghampiri sang suami dan Monik yang masih didalam kamar mandi itu.
"Aku sudah memangil Diana. Dia sekarang lagi berada di perjalanan menuju kesini," ucap Sheilla yang diangguki Digo.
"Terimakasih sayang atas bantuannya." Digo memberikan usapan lembut di kepala Sheilla sebelum ia kembali berucap.
"Tapi aku masih butuh bantuan kamu untuk menenangkan Monik karena aku akan melakukan pertolongan pertama ke Henry. Takut jika darah yang keluar dari keningnya itu tidak segara di hentikan dia bisa mati karena kehabisan darah," sambungnya yang diangguki oleh Sheilla dengan mata yang sedari tadi menatap kearah Monik, perempuan yang masih duduk dengan tangisannya.
__ADS_1
Sedangkan Digo yang melihat anggukkan itu ia kini menyematkan satu kecupan di puncak kepala Sheilla sebelum dirinya pergi keluar dari kamar mandi tersebut, meninggalkan Sheilla yang kini mulai mendekati Monik.