
"Ada apa?" tanya Vina dengan bersedekap dada. Jangan lupakan jika matanya terus tertuju kearah Sheilla. Dan hal tersebut membuat Sheilla menjadi risih.
"Maaf mengganggu waktu istirahat Nona. Saya disini hanya ingin mengantar baju untuk Nona," ujar Sheilla.
Vina menatap beberapa paper bag yang dibawa oleh Sheilla itu.
"Apa ini semua dari Digo?" tanya Vina dengan binar dimatanya.
Sheilla menganggukkan kepalanya tanpa menghilangkan senyumannya.
"Benar Nona. Ini semua dari tuan Digo. Beliau tadi membelikan sendiri untuk Nona," ujar Sheilla yang semakin membuat perempuan dihadapannya menyunggingkan sebuah senyuman.
"Benarkah? Dia sendiri yang membelikannya?" Lagi-lagi Sheilla menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Vina tadi.
"Kalau begitu tunggu apa lagi. Bawa semua itu masuk kedalam," ujar Vina sembari membukakan pintu kamarnya lebih lebar lagi agar mempermudah Sheilla untuk masuk kedalam kamarnya.
Dan setelah Sheilla masuk, ia kembali menutup pintu kamar tersebut.
"Dan sekalian kamu tata di dalam lemari itu ya!" perintah Vina sembari menunjuk kearah pintu yang tak jauh dari tempat mereka berdua berdiri saat ini.
"Baik Nona," balas Sheilla. Kemudian ia bergegas menghampiri lemari pakaian itu lalu setelahnya ia mulai menata beberapa pakaian tadi kedalam lemari pakaian didalam kamar tersebut tanpa memperdulikan tatapan Vina yang terus tertuju kepadanya.
"Nama kamu, Sheilla bukan?" Ucapan dari Vina tadi membuat Sheilla menghentikan pergerakan tangannya, kemudian ia menolehkan kepalanya kearah Vina yang tengah duduk diatas ranjang.
"Benar Nona," jawab Sheilla dengan senyum ramahnya sebelum dirinya kembali fokus kepada beberapa baju yang akan ia tata.
__ADS_1
"Kamu seorang maid di rumah ini?" Sheilla menganggukkan kepalanya.
"Berapa lama kamu sudah bekerja disini?" tanya Vina lagi.
Sheilla tampak terdiam, ia mengingat-ingat sejak kapan dirinya di nobatkan sebagai maid di rumah ini?
"Sekitar satu bulan saya bekerja di rumah ini, Nona," jawab Sheilla ketika ia sudah mengingatkan tentang statusnya sebagai maid di rumah ini dimulai sejak kapan.
"Berarti masih baru ya?"
"Ya begitulah Nona," ujar Sheilla.
"Oh ya Nona, Saya sudah selesai menata pakaian Nona." Vina melirik kearah lemari yang tadinya kosong tak terisi kini kekosongan itu sudah terisi penuh.
"Baiklah kalau begitu. Kamu boleh keluar. Jangan lupa bawa sekalian paper bag kosong itu." Sheilla menganggukkan kepalanya dengan patuh kemudian ia mulai memungut 25 paper bag yang sudah tak berisi itu. Lalu saat dirinya ingin melangkah pergi, ucapan dari Vina menghentikannya.
"Iya Nona? Ada yang bisa saya bantu lagi?" tanya Sheilla dengan sopan.
Vina menggelengkan kepalanya.
"Untuk saat ini belum ada. Tapi tidak tau untuk beberapa jam kedepan nanti. Aku hanya ingin berkenalan dengan kamu. Karena tidak adil saja jika aku tau nama kamu tapi kamu tidak tau namaku, bukan?" ucap Vina.
"Perkenalan namaku, Alvina Ayudia. Kamu tau Indonesia bukan, nah dinegara itu aku dilahirkan dan di besarkan. Dan aku juga merupakan salah satu artis sekaligus model ternama di negara itu," ujar Vina sembari mengulurkan tangannya ke hadapan Sheilla.
Dan baru saja Sheilla menyentuh sebentar telapak tangan Vina, perempuan itu dengan cepat menarik tangannya kembali.
__ADS_1
Sedangkan Sheilla, ia hanya bisa tersenyum akan perilaku dari perempuan tersebut.
"Senang berkenalan dengan anda, Nona," ucap Sheilla.
"Harus dong. Karena kamu tau, tidak semua orang bisa berkenalan langsung denganku dan hanya orang-orang beruntunglah yang bisa melakukan hal itu. Dan salah satunya adalah kamu. Kamu cukup beruntung karena bisa bertemu denganku secara langsung tanpa merogoh kocek terlebih dahulu, kamu juga beruntung karena sudah berkenalan denganku secara langsung dan yang paling penting kamu sangat-sangat beruntung karena kamu telah memegang tanganku," tutur Vina.
"Nona benar. Saya sangat beruntung bisa bertemu dan berkenalan dengan nona yang merupakan artis besar di negara Indonesia yang merupakan negara kelahiran saya juga. Saya tidak menyangka jika saya diberi kesempatan untuk mengenal salah satu artis yang membanggakan negara saya," ujar Sheilla.
"Wahhhhh ternyata kamu juga dari Indonesia. Saya juga tidak menyangka jika salah satu warga Indonesia menjadi maid di negara ini." Sheilla lagi-lagi hanya bisa tersenyum untuk menanggapi ucapan dari Vina itu.
"Ohhh ya kamu masih disini karena kamu mau minta tanda tanganku kan? Kalau begitu tunggu sebentar aku akan mengambil pen dan kertas dulu. Aku tadi lihat dua benda itu di atas nakas. Tunggu sebentar oke," ucap Vina begitu pedenya. Padahal Sheilla masih didalam kamar itu juga gara-gara dirinya menghentikan langkah Sheilla tadi. Dan Sheilla juga tak berniat meminta tanda tangan seperti yang dikatakan perempuan itu.
"Nahhh ini tanda tanganku. Simpan baik-baik ya karena aku tidak mau memberikanmu tanda tangan lagi untuk yang kedua kalinya. Karena perlu kamu tau jika tanda tanganku itu sangat mahal harganya," ucap Vina sembari menyodorkan satu kertas yang sudah berisi tanda tangannya kepada Sheilla.
"Terimakasih banyak atas kemurahan hati Nona yang sudah memberikan saya tanda tangan secara cuma-cuma. Kalau begitu akan saya simpan tanda tangan ini dengan baik. Sekali lagi terimakasih Nona," ujar Sheilla sembari membungkukkan tubuhnya dihadapan Vina tak lupa tangannya yang membawa secarik kertas berisi tanda tangan tadi ia masukkan kedalam saku baju maid yang ia kenakan saat ini.
"Iya-iya saya tau jika saya adalah perempuan murah hati. Jadi jika kamu sudah tidak memiliki keperluan lain denganku, segera lah pergi dari sini," tutur Vina dengan melambaikan tangannya sebagai kode agar Sheilla segera meninggalkan kamarnya.
"Baiklah kalau begitu saya permisi Nona." Sheilla kembali membungkukkan badannya dihadapan Vina sebelum dirinya bergegas untuk keluar dari kamar tersebut.
Dan saat dirinya sudah berada di luar kamar Vina, Sheilla tampak menghela nafas panjang sekaligus lega. Sebelum dirinya kini bergegas menuju ke lift di lantai tersebut yang akan mengantarkan dirinya di lantai utama rumah tersebut.
Sedangkan Vina yang berada didalam kamar tersebut, ia kini melangkahkan kakinya menuju ke lemari pakaian yang ada di dalam ruangan tersebut.
Dan betapa terkejutnya dia saat melihat deretan baju yang memiliki merk ternama berjejer rapi dan terlipat rapi di dalam lemari pakaiannya.
__ADS_1
"Wahhhhh baju-baju ini sama sekali tidak ada yang murah. Dan jika semua baju disini ditotal semua aku yakin nilainya sangat fantastis. Dan Digo dengan entengnya dia merogoh kocek sebegitu banyaknya hanya untuk membelikan ini semua untukku. Dan terlebih kata Sheilla tadi dia memilih sendiri baju-baju ini untukku. Dan aku lihat-lihat pilihan dia bagus semua, sesuai dengan seleraku. Ya Tuhan, laki-laki itu kenapa sangat baik hati sekali sekaligus sangat romantis," ucap Vina dengan senyum lebarnya. Dan tangannya kini bergerak mengambil salah satu dresss berwarna nude yang membuat dirinya lagi-lagi tersenyum puas akan pilihan Digo yang tak mengecewakan baginya.
Dan setelah ia mengambil dress tersebut, ia bergegas menuju kedalam kamar mandi untuk segara mengganti pakaiannya dengan dress tersebut yang nantinya akan ia perlihatkan kepada Digo sebagaimana cocoknya ia dengan pakaian yang dipilih oleh laki-laki itu. Dan ia yakin saat Digo melihat penampilannya, laki-laki itu akan tersenyum cerah kepadanya atau mungkin dia akan langsung jatuh hati kepadanya.