The Dark Love

The Dark Love
224. Si Penghianat


__ADS_3

"Orangnya sudah keluar dari dalam gudang itu Dear. Dan lebih baik kita segara ikuti dia lagi. Jangan sampai kita kehilangan jejaknya," ucap Sheilla dengan suara lirihnya itu setelah dirinya menjauhkan jari telunjuknya tadi dari depan bibir Digo.


Digo mengikuti arah pandang Sheilla dan benar saja orang yang tengah mereka awasi kini sudah berjalan menjauh dari depan gedung tersebut. Tapi sebelum laki-laki itu pergi dari sana, Sheilla sempat melihat ditangan laki-laki itu tengah membawa sebuah botol kecil yang Sheilla tak tau isi botol itu apa. Bahkan tak hanya itu saja Sheilla juga sempat melihat senyum miring yang terukir di bibir laki-laki tersebut. Dimana hal tersebut membuat Sheilla entah kenapa menjadi sangat yakin jika memang laki-laki itu si penghianat yang tengah mereka cari.


Seperti yang dikatakan oleh Sheilla tadi, kini mereka berdua mengikuti langkah laki-laki tersebut yang ternyata kembali bersama dengan rekan kerjanya. Namun untuk memastikan semuanya, Digo dan Sheilla terus mengawasi orang tersebut yang tentunya lewat lantai dua di mansion tersebut.


Satu menit, dua menit bahkan sampai 1 jam lamanya, tak ada pergerakan yang mencurigakan dari laki-laki tersebut.


"Kenapa dia tidak melakukan aksinya lagi?" gumam Sheilla yang masih bisa didengar oleh Digo.


"Kalau dia tidak melakukan aksinya berarti dia bukan penghianat yang telah kita cari. Tuduhan kita kepada dia berarti tidak benar sayang," timpal Digo yang membuat Sheilla kini menolehkan kepalanya kearahnya.


"Kalau bukan dia orangnya terus siapa? Dan kalau bukan dia kenapa saat dia masuk kedalam gudang tadi, pintu gudang harus dia kunci? Padahal aku sangat yakin di dalam sana sangat gelap jika memang dia ingin mencari sesuatu jadi harusnya kan pintu gudang itu dia buka saja biar ada cahaya masuk dan membantu penerang dia didalam sana. Dan satu lagi kenapa saat dia keluar dari dalam gudang, aku lihat dia tersenyum mengerikan dengan salah satu tangannya yang membawa satu botol kecil yang entah botol itu berisi apa aku juga tidak tau. Tapi entah kenapa aku sangat yakin jika botol yang ada ditangannya itu adalah senjata utama yang akan dia gunakan untuk melumpuhkan entah kita berdua, Henry, Monik atau malah semua orang yang ada disini," ujar Sheilla.

__ADS_1


Digo yang mendengar ucapan Sheilla yang mengatakan jika laki-laki tersebut membawa satu botol kecil yang entah apa isinya pun ia tampak terkejut. Padahal dirinya tadi sempat menghela nafas lega saat ia tak melihat adanya pergerakan mencurigakan dari laki-laki itu. Tapi kelegaannya itu musnah setelah Sheilla berkata seperti itu tadi. Bahkan entah kenapa dia ikut yakin sekarang jika anak buahnya yang sangat ia percayai itu adalah sang penghianat.


"Sepertinya aku tau, dia akan bergerak saat nanti acara resepsi ini dimulai." Suara Sheilla kembali terdengar yang membuat Digo kini tersadar dari lamunannya. Digo tampak berpikir sesaat sebelum dirinya menganggukkan kepalanya, mensetujui apa yang telah istrinya itu ucapkan. Bahkan dirinya saat ini curiga kalau target utama orang itu adalah dirinya, Sheilla, Henry dan Monik jika memang orang itu bergerak saat acara resepsi dimulai. Karena saat itulah mereka berempat akan sibuk dengan para tamu undangan yang otomatis mereka tidak akan sadar pergerakan si penghianat tersebut yang entah akan berbuat apa nantinya kepada mereka.


"Jadi apa yang harus kita lakukan, Dear? Tidak mungkin kan kalau kita mengawasi dia secara langsung saat para tamu undangan mulai berdatangan?" tanya Sheilla. Otaknya yang biasa sangat gesit untuk memikirkan ide-ide yang akan dia lakukan, entah kenapa untuk saat ini otaknya itu tak mau ia ajak kompromi.


"Siapa yang perlu kalian awasi?"


Suara seseorang tepat di belakang mereka berdua membuat keduanya kini langsung menolehkan kepalanya kearah sumber suara dimana tepat di belakang mereka berdua ada Henry dan Monik yang sudah rapi dengan pakaian resepsi mereka karena memang sebentar lagi resepsi itu akan dimulai.


"Heyyy kalian berdua kenapa malah diam? Aku tanya lho ini," ujar Henry yang merasa sebal karena pertanyaannya tadi hanya diabaikan begitu saja oleh dua orang yang ada di hadapannya saat ini.


Sheilla tampak menganggukkan kepalanya, kode agar Digo menceritakan tentang kecurigaan mereka berdua itu. Dimana anggukan kepala dari Sheilla tadi membuat Digo kini menghela nafas sebelum ia mengalihkan pandangannya kearah Henry yang kini tengah menaikan salah satu alisnya, menuntut jawaban dari pertanyaannya itu.

__ADS_1


"Ada penghianat," jawab Digo.


Henry yang mendengar dua kata itu keluar dari bibir Digo, matanya melotot sempurna. Dan saat dirinya ingin berteriak dengan mengucapkan kata "Apa" Monik yang berada di sampingnya langsung menutup bibir Henry agar laki-laki itu tak berteriak kencang yang berakhir semua orang yang ada di mansion ini termasuk si penghianat itu mendengar lalu dia akan tau jika dia tengah dalam pantauan Digo dan Sheilla.


"Kontrol suara kamu sayang. Jangan sampai gara-gara kamu teriak si penghianat itu curiga," ucap Monik memperingati suaminya itu. Dan setelah mengucapakan hal tersebut, Monik melepaskan bungkamannya tadi.


"Hehe ya maaf sayang. Tadi hampir kelepasan," ujar Henry dengan memberikan cengiran kepada istrinya itu yang dibalas gelengan kepala oleh Monik.


"Jadi siapa penghianat itu?" Kini giliran Monik yang bertanya kepada Digo maupun Sheilla.


"Aku tidak tau siapa penghianat itu karena aku baru melihatnya saat ini. Tapi kalian lihat laki-laki yang sekarang tengah duduk disebelah kanan Jovan. Nah dia orang yang tengah kita curigai kalau dia seorang penghianat di mansion ini," ujar Sheilla.


Henry dan Monik kini berjalan mendekati ke besi pembatas lantai dua itu, lalu mengarahkan pandangannya ke seseorang yang tengah duduk di samping Jovan. Dimana saat itu juga, Henry maupun Monik dengan kompak menatap kearah Digo yang sekarang tengah berdiri dengan menyadarkan tubuhnya di besi pembatas tersebut.

__ADS_1


"Al," ucap Henry. Terus terang saja ia tak percaya jika memang orang itu adalah si penghianat yang Digo dan Sheilla curigai.


Digo tampak mengangguk-anggukkan kepalanya sebelum dirinya kini angkat suara, "Ya, si penghianat yang tengah kita berdua curiga adalah laki-laki yang baru saja kalian berdua lihat dan orang itu adalah Bomi. Pemegang kendali semua anak buahku saat aku dan Henry tak ada di mansion ini dan saat ada musuh yang menyerang."


__ADS_2