The Dark Love

The Dark Love
103. Terapi Sheilla


__ADS_3

Selama proses terapi yang dilalui oleh Sheilla, Digo selalu menemani kekesihnya itu. Walaupun proses terapi itu tak menyakitkan bagi Sheilla namun yang namanya Digo, ia harus tetap memastikan sendiri sampai akhirnya proses terapi itu kini telah selesai.


"Terapi untuk yang kedua kalinya akan kita lakukan Minggu depan," ucap dokter yang di khususkan untuk membantu Sheilla terapi tadi sembari mendudukkan tubuhnya di hadapan Sheilla dan Digo.


"Ba---" saat Sheilla ingin meng-iya-kan ucapan dari dokter tadi, suara Digo justru memutusnya.


"Kenapa harus Minggu depan? Tidak bisa kah terapinya dilakukan setiap hari?" ucap Digo yang sepertinya laki-laki itu tidak sabar untuk menunggu ke sembuhan Sheilla.


Dan ucapan dari Digo itu langsung mendapat pelototan dari sang kekasih, tapi tak ia pedulikan.


Sedangkan dokter yang mendapat protesan itu ia justru malah tersenyum ramah kepada laki-laki yang duduk di sebelah pasiennya itu.


"Maaf tuan, tapi jika kita melakukan proses terapi secara rutin setiap hari saya khawatir nona Sheilla bukannya sembuh dia justru akan stress. Jadi saya putuskan untuk melakukan terapi 1 kali dalam seminggu. Tapi kalau tuan Digo keberatan kita bisa melakukan terapi 3 kali dalam seminggu. Dan saya rasa itu sudah cukup untuk menyembuhkan penyakit yang tengah di derita oleh nona Sheilla ini. Jadi bagaimana? Apa tuan setuju jika kita melakukan 3 kali pertemuan untuk terapi ini?" tanya Dokter tersebut yang membuat Digo kini berdecak. Ia sebenarnya tak puas dengan keputusan dokter tersebut. Ia benar-benar tak mau melihat Sheilla kesakitan seperti dua hari yang lalu. Ia hanya mau Sheilla segera sembuh dan tak merasakan sakit lagi. Namun setelah mempertimbangkannya, 3 kali pertemuan itu tidaklah buruk juga. Jadi Digo akhirnya meng-iya-kan ucapan dokter tadi.


"Baiklah saya setuju, jika memang 3 kali pertemuan dalam satu Minggu itu sudah paling terbaik untuk kesembuhan Sheilla. Maka lakukan saja," ujar Digo yang diangguki oleh dokter tersebut.


"Baiklah kalau memang tuan dan nona sudah setuju dengan keputusan ini. Maka kita akan bertemu dua hari lagi. Dan semoga di terapi yang kedua besok penyakit yang tengah Nona Sheilla derita sedikit hilang," ucap dokter tersebut yang langsung di aamiinkan oleh Sheilla maupun Digo.


"Dan saya berpesan untuk Nona Sheilla agar tidak melewatkan untuk meminum vitamin dan suplemen," sambungnya.


"Baik Dok. Saya akan terus meminum vitamin dan suplemen sampai penyakit saya ini sembuh. Hmmm dan apakah ada hal penting lagi dok yang perlu kita bicarakan?" tanya Sheilla.

__ADS_1


"Sudah tidak ada. Cukup itu saja untuk hari ini," jawab dokter tersebut tanpa melunturkan senyumannya.


"Baiklah kalau sudah tidak ada hal yang penting lagi, kita berdua permisi terlebih dahulu dok. Mari," ucap Sheilla yang diangguki oleh dokter tersebut.


Sheilla yang melihat anggukan kepala dari dokter itupun ia segar menarik tangan Digo untuk keluar dari dalam ruangan tersebut.


"Dear, terimakasih," ucap Sheilla kala mereka berdua benar-benar keluar dari ruang Dokter tadi dengan posisi mereka berdua saling berhadapan.


Dan ucapan dari Sheilla itu membuat Digo mengerutkan keningnya.


"Terimakasih untuk apa?" tanya Digo.


"Heyyy kenapa menunduk. Lihat aku sini," ujar Digo dengan tangan yang menangkup kedua pipi Sheilla lalu ia membawa wajah itu untuk menengadah, agar mereka berdua bisa saling tatap satu sama lain.


"Dengar baik-baik ya, Honey. Aku menerima kamu sebagai kekasihku berarti aku juga harus siap menerima dan menemani kamu saat kamu susah ataupun senang, bahagia ataupun sedih, sehat ataupun sakit. Karena perlu kamu tau aku menjadikanmu kekasih bukan hanya untuk kesenangan saja melainkan untuk saling menjaga satu sama lain. Aku menerima kekurangan kamu, kamu pun juga menerima kekuranganku. Kita sama-sama berusaha untuk melengkapi satu sama lain. Dan jangan anggap diri kamu itu hanya seseorang yang menjadi beban hidupku. Tidak, aku tidak menganggap kamu seperti itu karena kamu sekarang adalah tanggungjawabku," ujar Digo dengan suara yang benar-benar lembut.


Dan ucapan dari Digo itu justru membuat Sheilla berkaca-kaca. Ia tak percaya orang yang dulu ingin ia lenyapkan justru sekarang orang itu yang merangkul, mendekap bahkan melindunginya saat dirinya mengalami kesulitan seperti saat ini.


Digo yang melihat sang kekasih ingin menangis pun ia kembali berucap.


"Hey hey hey, kamu tidak boleh menangis. Dan dari pada kamu membuang-buang air matamu itu lebih baik kita makan siang saja yuk. Mau makan apa hmmm?" tanya Digo dengan merangkul pundak Sheilla sembari memberikan usapan lembut di pundak kekasihnya itu.

__ADS_1


"Aku mau menangis karena aku terharu dengan ucapanmu itu dan aku menangis karena bahagia tapi kenapa kamu malah melarangnya ishhh," ucap Sheilla yang justru kesal sendiri. Dan saking kesalnya ia tak menjawab pertanyaan terakhir yang Digo layangkan tadi.


Dan hal tersebut membuat Digo kini menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Ya sudah ya sudah. Aku minta maaf. Tapi sumpah demi apapun aku tidak mau melihat air matamu itu keluar dari mata indahmu itu Honey. Entah karena alasan kamu menangis bahagia atau alasan lain pun aku tetap tidak mau melihat air matamu itu. Aku hanya ingin melihat raut wajah bahagia dari dirimu, binar indah dimatamu dan senyum manismu," ujar Digo dengan melirik kearah Sheilla yang tengah mengerucutkan bibirnya.


"Sudahlah jangan bahas itu lagi yang penting aku tidak mau melihat kamu bersedih itu saja," sambung Digo.


"Dan lebih baik sekarang kamu katakan mau makan dimana?"


"Terserah mau makan dimana saja, aku tidak mempermasalahkannya. Yang terpenting sebelum kita makan siang aku mau kamu membelikanku es krim," ujar Sheilla persis seperti anak kecil saja.


Digo kini tersenyum dan dengan cepat ia mencuri sebuah kecupan di pipi Sheilla.


"Baiklah tuan putri. Hamba akan menuruti semua permintaan tuan putri. Mau es krim berapa saja akan hamba belikan kalau perlu sampai hamba beli pabriknya sekalian untuk tuan putri," ujar Digo.


"Mentang-mentang orang kaya, mau beli pabrik kayak mau beli permen. Tapi sayangnya aku tidak mau satu pabrik es krim. Aku hanya mau makan satu es krim saja," ucap Sheilla.


"Aku sedang tidak bercanda Honey. Kalau kamu memang mau satu pabrik es krim sekarang juga akan aku berikan."


"Ahhhh tidak-tidak. Tidak perlu. Sudahlah ayo kita beli satu es krim saja dan setelahnya makan siang," ujar Sheilla mengalihkan pembicaraan Digo agar laki-laki itu tidak berniat untuk membeli pabrik es krim sungguh. Dan setelah mengucapkan hal tersebut Sheilla melingkarkan tangannya di pinggang Digo sebelum dirinya mengajak kekasihnya itu untuk berjalan keluar dari rumah sakit tersebut.

__ADS_1


__ADS_2