
Digo diam-diam tersenyum saat mengingat wajah Sheilla yang pagi ini tampak tertekuk dan sangat masam. Sudah di katakan bukan, jika membuat Sheilla sebal adalah hobi baru Digo untuk meningkatkan moodnya. Dan perlu kalian tau, jika agedan tadi pagi bukan sepenuhnya Sheilla yang melakukan, melainkan Digo sendiri juga terlibat didalamnya. Ya, saat Sheilla masih nyenyak tertidur dengan posisi tubuh yang sudah mepet ke tubuh Digo bahkan sedikit lagi tubuh laki-laki itu terjatuh dari rajang. Alhasil dengan ide yang begitu cerdas milik Digo dan ia juga tak mau badannya kesakitan karena terjatuh, Digo berinisiatif untuk mengangkat tubuh Sheilla ke atas tubuhnya. Menjadikan tubuhnya sebagai kasur untuk Sheilla. Dan perlu di ingat itu untuk kebaikan bersama karena Digo tak mau jatuh dan tak mau mengganggu tidur Sheilla yang tampak nyenyak itu. Jadi apa yang ia lakukan itu bukan modus? Melainkan untuk kebaikan.
Bayang-bayang akan wajah Sheilla harus buyar saat suara ketukan pintu ruang kerjanya masuk kedalam indra pendengarannya. Hingga membuat dirinya mendatarkan kembali ekspresi wajahnya.
"Masuk!" perintahnya. Dan tak berselang lama pintu ruangannya terbuka dan muncul lah Henry dari balik pintu tersebut dengan wajah lelah yang cukup kentara di wajah laki-laki itu.
"Kenapa?" tanya Digo to the point. Dan hal itu membuat Henry berdecak sebal. Belum juga dirinya duduk dan menghela nafas terlebih dahulu, Digo sudah bertanya kepadanya dan itu sangat menyebalkan.
"Bisakah kamu izinkan aku untuk duduk terlebih dahulu," ucap Henry tak santai, dan tanpa di suruh terlebih dahulu ia sudah mendudukkan tubuhnya di kursi tepat di depan meja kerja Digo.
Digo terdiam memberikan waktu untuk Henry bernafas terlebih dahulu daripada dirinya nanti kena omel oleh laki-laki itu yang cerewetnya sama dengan cerewetnya Kiya. Ahhhh mengingat Kiya, Digo jadi rindu dengan adik satu-satunya itu.
"Anak buahku sudah menemukan keberadaan Yoga," ujar Henry yang membuat Digo kembali menatap kearah Henry.
"Katakan. Dimana lokasi dia saat ini," ucap Digo tak sabaran. Tangannya sudah gatal untuk membalas semua yang telah laki-laki itu lakukan kepadanya dan juga kepada Sheilla.
"Dia sekarang ada di Australia. Dan perlu kamu tau jika ternyata masih ada orang lain yang mengontrol dirinya." Digo mengerutkan keningnya.
"Kamu sudah tau siapa orang yang mengontrol Yoga?" tanya Digo penasaran.
__ADS_1
"Ya masalahnya itu. Kita tidak tau siapa orang yang ada di balik aksi Yoga. Semua anak buah kita bahkan aku sendiri sudah pernah mencoba membobol jaringan sosial di ponsel Yoga tapi sayangnya, bukannya kita mendapat informasi sedikit mengenai orang di balik laki-laki itu, justru benda elektronik yang kita gunakan untuk mencoba menghack akun itu justru langsung terkena virus. Dan dari situ aku menyimpulkan jika lawan kita kali ini bukanlah orang biasa. Mungkin dia juga seorang mafia atau malah orang berpengaruh di negara ini atau negara lain," ucap Henry memberikan penjelasan akan informasi yang beberapa hari ini telah ia tangani namun tak kunjung membuahkan hasil. Padahal dulu saat dirinya di beri tugas untuk mencari tahu seseorang yang sudah mengusik hidup Digo, hanya butuh satu atau paling lama 3 hari sudah ketemu dan orang itu sudah mendapat hukuman dari Digo sendiri. Tapi untuk kasus kali ini sudah hampir 5 hari ia tak mendapat hasil apapun. Dan hal tersebut benar-benar sangat menguras tenaganya.
Digo tampak terdiam sesaat sebelum dirinya kini bergerak untuk mengambil sebuah tap tak jauh dari dirinya lalu menghidupkan tap tersebut.
"Kirimkan semua akses media sosial Yoga," ujar Digo tanpa mengalihkan pandangannya kearah Henry.
Henry yang mendapat titah dari sang bos pun dengan cepat ia mengirim semua nama akun dan aksea dari media sosial Yoga. Ia tau apa yang akan di lakukan Digo saat ini sehingga dirinya kini menarik kursi yang ia duduki saat ini hingga mepet ke meja kerja Digo. Dan tanpa membuka bibirnya, Henry dengan anteng melihat kecekatan Digo dalam proses menghack akun media sosial milik Yoga.
Tapi baru sampai di tengah-tengah proses tersebut tiba-tiba layar tab Digo berubah menjadi hijau dan tak berselang lama layar tersebut mati.
"Sialan!" geram Digo dengan memukul meja kerjanya cukup keras.
Digo memejamkan matanya dengan tubuh yang sudah bersandar di sandaran kursi kerjanya. Ia akui sekarang jika lawannya kali ini bukan orang biasa hingga membuat dirinya kesusahan untuk yang pertama kalinya.
"Al, kalau kayak gini kita harus mulai dari mana untuk melawan mereka?" tanya Henry memecahkan keheningan di dalam ruangan tersebut karena ia dan Digo tadi sempat terdiam beberapa saat dengan pikiran yang aktif memikirkan cara untuk melenyapkan Yoga dan seseorang di belakangnya.
"Kita fokus ke Yoga terlebih dahulu. Beri perintah ke anak buah kamu untuk terus mengawasi dia dan terus memberikan update pergerakan dia. Kita besok mulai bergerak," ujar Digo dengan mantap namun hal itu justru membuat Henry menghela nafas lelah.
"Al, kamu gak mau nunda dulu satu hari aja. Setidaknya izinkan aku buat istirahat sebentar," pinta Henry dengan wajah yang ia buat se-menyedihkan mungkin.
__ADS_1
"Kamu mau istirahat Henry?" Dengan mata berbinar Henry menganggukkan kepalanya. Bahkan senyuman di wajahnya sudah terukir di wajah tampannya itu.
"Baiklah kalau begitu aku akan kabulkan permintaan kamu," ujar Digo yang semakin membuat Henry melebarkan senyumnya.
Namun beberapa detik setelahnya senyuman itu luntur, binar bahagia di wajahnya tergantikan dengan pelototan mata. Bahkan tubuh kini melorot hingga terduduk di atas lantai di ruangan Digo dan dengan pergerakan yang cepat ia menyembunyikan tubuhnya di balik meja kerja Digo.
"Kemari Henry!" perintah Digo yang di jawab gelengan kepala oleh laki-laki itu walaupun tak di lihat oleh Digo.
"Bukannya kamu tadi menginginkan istirahat? Jadi cepatlah jangan bersembunyi dan membuang-buang waktuku lebih lama lagi," ujar Digo.
"Ya memang aku menginginkan istirahat. Tapi bukan istirahat dalam kata lain mati. Aku hanya ingin merebahkan tubuhku di atas ranjang saja bukan di atas tanah makam," ucap Henry tanpa beranjak dari tempatnya saat ini. Ya siapa yang mau beranjak dari tempat persembunyiannya jika saat dirinya keluar, ia langsung disambut dengan pistol dan kemungkinan pada saat itu juga peluru langsung menembus kulitnya.
"Bukan kah itu sama saja? Dan lebih baik jika kamu tidur selamanya karena kalau kamu tidur selamanya kamu tidak akan pernah merasakan lelah lagi." Henry mencebikkan bibirnya.
"Sama dari mana coba. Ayolah Al, aku masih mau hidup dan belum siap masuk ke neraka. Dan niatku tadi aku urungkan. Aku sudah tidak mau istirahat lagi dan sesuai dengan perkataanmu tadi jika besok kita akan pergi ke Australia," ucap Henry yang membuat Digo tersenyum miring lalu menyembunyikan kembali pistol tadi ke dalam laci meja kerjanya.
"Keluarlah Henry. Nyawa kamu sudah aman sekarang," ujar Digo.
Henry yang mendengar suara itu, ia perlahan menyembul wajahnya untuk melihat kearah Digo dan dirasa laki-laki itu sudah tak memegang pistol kembali, Henry akhirnya keluar dari persembunyiannya sembari mengelus dadanya yang tadi sempat berdebar hebat karena saking takutnya dengan laki-laki didepannya itu yang sayangnya adalah teman sekaligus bosnya itu.
__ADS_1