The Dark Love

The Dark Love
54. Berbohong


__ADS_3

Kekehan Digo terhenti saat laki-laki itu kembali teringat dengan tangan Sheilla yang tampak memerah. Ia pun segera beranjak dari tempatnya saat ini kemudian ia melangkahkan kakinya menuju kearah kamar mandi.


Tok tok tok!


Digo mengetuk pintu kamar mandi tersebut saat ia sudah berada didepan kamar mandi.


"Sheilla! Keluar sekarang!" teriak Digo.


"Tidak mau! Kalau saya keluar nanti tuan mesum lagi sama saya!" balas Sheilla dari dalam.


"Saya tidak pernah mesum dengan kamu, Sheilla. Cepatlah keluar atau kamu memilih pintu ini saya dobrak!"


Sheilla yang ada didalam tampak mengigit kukunya. Ia bingung sekaligus takut jika saat dirinya keluar, Digo akan langsung menerkamnya diatas ranjang. Namun kalau tidak, pintu kamar mandi itu akan di dobrak oleh Digo dan berakhir dirinya juga akan tertangkap oleh laki-laki itu.


"Sheilla, saya hitung sampai tiga jika kamu tidak membuka pintu ini. Jangan salahkan saya jika saya buat kamu besok tidak bisa berjalan!" Sheilla dengan susah payah menelan salivanya. Ia benar-benar takut sekarang.


"Satu!" hitungan dari Digo itu semakin membuat Sheilla kalang kabut.


"Dua!"


"Tig---"


Ceklek!


"Oke, saya kalah tuan. Tapi tolong jangan patahkan kaki saya," ujar Sheilla dengan tampang memohonnya.


Digo yang mendengar ucapan dari Sheilla itu, ia tampak mengerutkan keningnya.


"Memangnya siapa yang mau mematahkan kaki kamu?"


"Tuan. Tuan tadi bilang kalau saya tidak membuka pintu ini tuan akan buat saya tidak bisa berjalan besok. Berati kan tuan---"


Tukkk!


"Awsss," ringis Sheilla saat sentilan maut dari Digo mendarat di keningnya.


"Apakah kamu memang sepolos ini Sheilla?"

__ADS_1


"Polos maksud tuan?" Digo memutar bola matanya malas.


"Sudahlah abaikan saja," ujar Digo sembari berjalan menuju sofa kembali.


"Ngapain kamu masih berdiri di sana? Cepat kesini dan ambil kotak P3K di laci nakas itu sekalian," sambung Digo sembari menujuk salah satu nakas yang ada di samping ranjang.


"Kotak P3K untuk apa tuan?" tanya Sheilla.


"Jangan banyak tanya Sheilla karena kamu nanti akan tau sendiri setelah kamu mengambilkan saya kotak itu," ujar Digo.


"Baiklah," final Sheilla kemudian ia segera berjalan menuju kearah nakas yang ditunjuk oleh Digo tadi. Dan saat dirinya sudah menemukan kotak P3K itu, lalu ia mengambilnya dan saat ia ingin menutup kembali laci tersebut, dirinya dibuat terpaku dengan satu benda yang juga berada di dalam laci tersebut.


"Ini," gumam Sheilla dan saat tangannya bergerak ingin mengambil benda tadi, suara Digo mengentikan aksinya.


"Cepatlah Sheilla. Jangan membuat saya menunggu lama," ujar Digo.


"Ahhhh baik tuan," ucap Sheilla sembari menarik tangannya kembali lalu ia segera menutup laci nakas tersebut sebelum dirinya berjalan mendekati Digo dengan pikiran yang terus tertuju kearah benda tadi.


"Ini tuan." Sheilla menyerahkan kotak P3K tadi ke hadapan Digo yang langsung diterima oleh laki-laki tersebut.


"Duduk!" perintah Digo dengan tangan yang sibuk membuka kotak tadi.


"Kemarinkan tangan kamu," ucap Digo.


"Hah? Tangan saya? Untuk apa tuan?" Digo berdecak dan dengan gerakan cepat ia meraih tangan Sheilla yang masih terlihat memerah itu.


"Kenapa?" tanya Digo sembari mulai mengobati luka bakar ditangan Sheilla.


"Awsss sakit tuan. Pelan-pelan please," rintih Sheilla yang membuat Digo memutar bola matanya malas.


"Hanya luka kecil seperti ini saya rasa kamu bisa menahannya Sheilla. Seperti kamu menahan rasa sakit saat anak buah saya menyiksa kamu waktu itu. Jadi tahanlah untuk sebentar," ujar Digo.


Sheilla lagi-lagi mengangguk kepalanya. Dan untuk menahan rasa perih, ia mengigit bibir bawahnya agar ia tak mengeluarkan suara rintihan.


"Kenapa bisa seperti ini?" tanya Digo lagi setelah dirinya selesai mengobati luka Sheilla itu.


Sheilla tampak terdiam tanpa berniat menjawab ucapan dari Digo tadi.

__ADS_1


"Jawab Sheilla sebelum saya mencari tahu penyebab kamu terluka seperti ini," ujar Digo yang membuat Sheilla menghela nafas.


"Maafkan saya tuan karena saya bekerja dengan ceroboh. Saat saya tadi ingin minum kopi tidak sengaja saya bertubrukan dengan nona Vina. Alhasil kopi yang saya pegang mengenai tangan saya," bohong Sheilla.


Digo menegakkan kepalanya dan menatap lekat mata Sheilla yang membuat senyum miring tercetak di bibirnya.


"Kamu tau Sheilla, jika saya paling tidak suka dan sangat benci dengan seseorang yang mengatakan sebuah kebohongan," ujar Digo kembali fokus dengan tangan Sheilla.


"Jadi jangan coba-coba untuk membohongi saya," sambung Digo dengan memberikan tatapan tajam kepada Sheilla. Yang membuat perempuan itu dengan cepat mengalihkan pandangannya.


"Sa---saya tidak bohong dengan tuan. Apa yang saya katakan tadi memang benar adanya. Saya berkata jujur sejujur-jujurnya tuan," ucap Sheilla.


"Baiklah saya akan mencoba untuk percaya dengan perkataan kamu itu," tutur Digo yang membuat Sheilla kini menghela nafas lega.


"Luka kamu sudah selesai saya obati. Dan kamu bisa ambilkan tablet saya itu," ujar Digo sembari melepaskan tangan Sheilla yang tadi ia genggam.


Sheilla yang mendapat perintah pun ia kini menganggukkan kepalanya dan dengan cepat ia bergerak untuk mengambilkan sebuah tablet yang tergeletak di atas ranjang. Lalu setelah Sheilla mengambil tablet tadi, dengan segera ia menyerahkan tablet tadi kepada Digo yang langsung di terima oleh laki-laki itu.


"Duduk sini!" perintah Digo sembari menepuk-nepuk sofa yang tadi ditempati oleh Sheilla.


Sheilla lagi-lagi hanya menurut perintah Digo saja. Dan saat dirinya sudah terduduk, tangan Digo mulai bergerak diatas layar tablet. Dan tujuan utama laki-laki itu adalah ke sebuah rekaman CCTV yang bisa laki-laki itu pantau dari tablet tersebut.


Sheilla yang melihat Digo telah membuka rekaman CCTV itu, nafasnya seakan-akan tercekat, dadanya berdebar cepat sekaligus terasa begitu sesak.


"Kamu siap melihat sebuah pertunjukan Sheilla?" tanya Digo diakhiri dengan seringaiannya yang membuat Sheilla semakin ketakutan. Bahkan keringat dingin sekarang sudah keluar dari pori-pori tubuhnya.


"Sepertinya kamu sudah sangat siap untuk melihatnya. Baiklah akan saya mulai pertunjukkannya," ujar Digo sembari tangannya bergerak untuk meng-klik sebuah rekaman CCTV yang mengarah langsung ke area dapur.


"Kita mundurkan waktunya ke 30 menit yang lalu," ucap Digo dengan tangan yang gesit mengotak-atik layar tablet tersebut tanpa memperdulikan raut wajah pucat dari Sheilla.


Rekaman itu sudah mulai Digo putar. Awalnya rekaman itu hanya menunjukkan kegiatan Sheilla dan bik Nah yang tengah sibuk membersihkan area dapur itu. Hingga beberapa menit setelahnya, Vina datang dan entah apa yang perempuan itu ucapkan kepada bik Nah dan Sheilla karena setelahnya Sheilla bergerak masuk kedalam dapur dan membuat minuman yang membuat kening Digo berkerut.


"Jadi kopi itu buatan Sheilla bukan buatan perempuan itu?" batin Digo dengan melirik wajah Sheilla yang semakin pucat saja.


Namun semua itu tak dihiraukan oleh Digo. Karena dengan begini ia bisa mengetahui sesuatu yang disembunyikan oleh Sheilla. Ia sebenarnya ingin sekali percaya dengan ucapan Sheilla tadi, tapi hati kecilnya berkata lain terlebih saat ia melihat mata Sheilla yang terpancar sebuah kebohongan disana yang membuat dirinya yakin kalau ucapan Sheilla itu bukanlah sebuah kebenaran melainkan sebuah kebohongan. Dan karena hal itu juga ia bisa tau jika yang membuat kopi untuknya tadi adalah Sheilla bukan Vina.


Rekaman itu terus berputar hingga mata Digo menajam saat rekaman CCTV itu memperlihatkan perlakuan Vina yang menyiram tubuh Sheilla dengan segelas kopi itu.

__ADS_1


Sedangkan Sheilla, perempuan itu kini sudah menundukkan kepalanya pasrah. Ia sudah benar-benar pasrah jika Digo akan menghukumnya atas kebohongan yang sudah ia lakukan itu.


__ADS_2