The Dark Love

The Dark Love
131. Berebut Sheilla


__ADS_3

Kini sudah 5 hari Kiya liburan di negara yang sama dengan negara yang ditempati oleh Abangnya dan selama itu juga dia selalu saja membuat Digo dan orang-orang di manison itu pusing karena tingkahnya. Apalagi setiap malam Digo harus ribut dengan Kiya, memperebutkan Sheilla untuk mereka jadikan teman tidur. Tidak ada yang mengalah diantara mereka berdua tapi tetap saja yang menjadi pemenangnya adalah Kiya.


Seperti yang terjadi di malam ini, setelah makan malam tadi sepasang Kakak beradik itu terus memeluk lengan Sheilla sembari berjalan menuju ke lantai tiga mansion tersebut. Dan sesampainya mereka di lantai itu, terjadilah aksi berebut dengan cek-cok yang terjadi diantara dua orang itu yang membuat Sheilla yang terombang-ambing karena Kiya dan Digo menarik lengannya secara bergantian harus memperbanyak stok sabarnya.


"Abang lepas ih. Kiya sudah mau tidur sama Kakak ipar ini lho," ucap Kiya dengan menarik lengan Sheilla hingga membuat perempuan itu berada didepannya. Namun sesaat setelahnya Digo menarik tangan Sheilla, hingga sang kekasih berada di dekapannya.


"Kalau mau tidur, tidur saja sendiri sana. Kakak ipar kamu malam ini tidur sama Abang," ujar Digo yang semakin memeluk tubuh Sheilla sampai membuat Kiya tidak bisa menarik tubuh Sheilla kembali.


"Gak boleh. Kakak ipar harus tidur sama Kiya. Ihhhh lepasin Kakak ipar, Abang." Kiya memukul-mukul lengan Digo tapi tak kunjung Abangnya itu melepaskan Sheilla.


"Tidak akan. Udah sana ke kamar kalau kamu ngantuk. Jangan gangguin Abang sama Kakak ipar kamu," ujar Digo yang membuat Kiya mencebikkan bibirnya.


"Gak mau. Kiya gak mau tidur sendiri. Kiya maunya tidur sama Kakak ipar. Jadi Abang ngalah dong. Masa sama adik sendiri gak mau ngalah sih."


"Heyyy Tukijah, Abang dari kemarin-kemarin udah ngalah ya sama kamu. Tapi kamunya malah semakin lama semakin ngelunjak. Kalau Abang selalu ngalah sama kamu, program ponakan kamu gak akan selesai dan tidak akan jadi ini," ucap Digo yang membuat Kiya menghentikan aksi memukulnya.


"Hah? Program ponakan? Maksudnya?" tanya Kiya tak paham.


"Kamu mau kan punya keponakan dari Abang sama kakak ipar kamu ini?" Dengan polosnya Kiya menganggukkan kepalanya.


"Nah maka dari itu Abang sama kakak iparmu ini akan proses membuat baby alias keponakanmu itu. Jadi kamu jangan ganggu Abang sama kakak ipar kamu dan jangan nyuruh kakak iparmu ini terus menemani kamu tidur karena kalau dia terus-terusan nemenin kamu tidur, keponakanmu tidak akan pernah jadi," ujar Digo.


"Masak sih?" Digo menganggukkan kepalanya.


"Hmmmm kalau begitu, malam ini boleh deh Kakak ipar sama Abang. Tapi besok pagi keponakan Kiya sudah harus ada di depan mata Kiya," ujar Kiya yang membuat Digo memelototkan matanya. Dikira membuat anak satu malam jadi gitu? Dasar Kiya.

__ADS_1


Tapi tak urung Digo menganggukkan kepalanya. Dan sebelum otak pintar Kiya kembali, Digo dengan cepat menggendong Sheilla menuju ke kamarnya. Tak lupa ia juga mengunci pintu kamar tersebut.


Kiya yang otaknya masih loading itu kini otak pintarnya akhirnya kembali juga.


"Ehhhh tunggu dulu. Kalau buat baby kan harus nikah dulu ya kan? Tapi Abang sama Kakak ipar kan belum nikah. Jadi gak bisa dong kalau mereka bikin baby sekarang. Wahhhhh gak bisa di biarkan," ujar Kiya dengan berjalan mendekati kamar Digo dan Sheilla dimana saat dirinya telah berdiri didepan pintu kamar itu tangannya langsung bergerak untuk menggedor pintu tersebut diiringi dengan teriakannya.


"Abang! buka pintunya! Abang sama Kakak ipar tidak boleh melakukan hal itu. Kalian berdua belum menikah woyyyy!" Brakkk brakkk brakkk brakkk!!


Digo yang berada di dalam kamar pun ia terkekeh karena ia bisa membohongi Kiya tadi.


"Dear, jangan begitu ih. Kasian Kiya-nya," ujar Sheilla yang membuat Digo kini mengentikan kekehannya itu dengan menolehkan kepalanya kearah sang kekasih yang berada di pelukannya itu.


"Anak seperti Kiya itu jangan dikasihani sayang karena dia kalau di kasihani malah ngelunjak. Dan biarkan saja dia terus teriak-teriak seperti itu. Kita tidur saja sekarang atau malah mau mengabulkan permintaan Kiya untuk mendapatkan keponakan?" Sheilla dengan refleks memukul lengan Digo.


"Jangan mengada-ada. Tidak akan aku kasih aset berhargaku ke kamu sebelum ada kata sah," ujar Sheilla sebelum dirinya melepaskan diri dari pelukan Digo dan memilih untuk menuju ke ranjang mereka dan segera merebahkan tubuhnya disana.


Dan setelah bergumam seperti itu, ia ikut merebahkan tubuhnya disamping tubuh Sheilla yang sudah menutup matanya tanpa terganggu oleh gedoran yang terjadi di pintu kamar itu dan pelukan dari Digo tersebut.


Sedangkan diluar kamar itu, Kiya yang sudah lelah menggedor pintu itu dengan teriakannya. Ia dengan gusar berlari menuju ke dalam kamarnya. Dan saat dirinya sudah masuk kedalam kamarnya, ia langsung mengambil ponselnya untuk ia gunakan untuk menghubungi sang Mama yang ada di Indonesia. Ia hari ini benar-benar akan melaporkan perbuatan Digo itu kepada orangtuanya. Karena 5 hari yang lalu saat dirinya berniat untuk melaporkan Digo yang sudah memiliki kekasih itu gagal karena dirinya sudah di suap oleh Digo dengan beberapa uang, tapi kali ini ia harus melaporkannya karena perbuatan Abangnya itu sudah benar-benar di luar batas.


📞 : "Halo, kenapa nak?" tanya Mama Ciara di sebrang.


"Ma, gawat ma."


📞 : "Gawat? Gawat kenapa?"

__ADS_1


"Abang ma."


📞 : "Abang kamu kenapa Kiya? To the point. Jangan bikin Mama disini khawatir," ucap Mama Ciara tak sabar mendengar penjelasan Kiya tentang anak pertamanya itu.


"Abang udah punya pacar, Ma."


Mama Ciara yang berada disebar sana, ia berdecak sebal saat mengetahui jika kehebohan Kiya itu hanya karena dia tau Digo punya kekasih saja. Mama Ciara kira Digo kenapa-napa.


📞 : "Ya ampun Kiya, Abang kamu punya pacar ya sudah lah, gak ada yang gawat hanya karena dia punya pacar saja."


"Ck, tapi ini benar-benar gawat Mama. Bukan karena Abang cuma punya pacar saja tapi Mama akan segera punya cucu. Pacarannya Abang sekarang tengah hamil anak Abang."


Mama Ciara yang ada di sebrang terkejut bukan main akan apa yang barusan ia dengar itu.


📞 : "Kiya, kamu jangan bercanda ya," ujar Mama Ciara.


"Kiya tidak sedang bercanda Ma. Apa yang Kiya katakan itu benar. Kalau Mama tidak percaya, Mama kesini saja sendiri. Mungkin besok pagi cucu Mama sudah ada di dunia ini," ujar Kiya sebelum sambungan telepon itu diputus sepihak oleh Mama Ciara yang tengah shock berat sebelum wanita paruh baya itu berancang-ancang untuk berteriak.


"Sayang!" teriak Mama Ciara yang membuat Papa Devano yang tadi tengah mandi pun dengan posisi hanya memakai handuk yang ia gunakan untuk menutupi aset berharganya itu keluar dengan busa sabun yang masih melekat di tubuhnya.


"Ada apa sayang?" tanya Papa Devano.


"Kita ke Paris sekarang juga!" ucap Mama Ciara.


"Hah? Ke Paris untuk apa? Apa Kiya disana tengah membuat keributan yang mengakibatkan dia di amankan oleh kepolisian di negara itu?" tanya Papa Devano bertanya-tanya yang langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh Mama Ciara.

__ADS_1


"Tidak sayang. Kiya masih aman, dia tidak membuat ulah disana tapi Al yang membuat masalah. Dia sudah menghamili anak orang yang dimana anak dia yang otomatis cucu kita akan lahir besok. Jadi jangan banyak bertanya lagi, karena kita harus segera kesana sekarang juga," ujar Mama Ciara yang membuat Papa Devano yang tadi sempat terkejut karena anaknya mengikuti jejaknya itu, kini ia tersadar kembali sebelum ia menganggukkan kepalanya, mensetujui ucapan dari sang istri itu. Dan setelahnya ia bergegas menuju ke kamar mandi untuk membilas tubuhnya sebelum ia membantu membereskan barang-barang keperluan yang akan mereka bawa nanti.


__ADS_2