
Sheilla tampak menghela nafasnya kala dirinya bisa duduk disalah satu kursi di dalam toko di mall tersebut. Sudah hampir 5 jam dirinya dan dua emak-emak rempong itu berbelanja. Dimana Sheilla hanya menurut saja dengan apa yang mereka pilihkan karena dia menolak pun juga tetap akan di paksa oleh mereka berdua. Dan dirinya yang tadi hanya ingin membeli satu dress saja, kini ditangannya sudah membawa 10 paper bag yang tentunya itu hasil pilihan Mama Ciara dan Franda untuknya, bukan hasil dari pilihannya sendiri.
"Emang ya, orang-orang kaya itu suka banget menghambur-hamburkan uang. Berasa uang itu adalah daun untuk mereka," gumam Sheilla dengan menatap kearah paper bag itu sebelum tatapannya berpindah kearah kedua wanita paruh baya yang masih asik berbelanja tersebut.
"Sheilla. Lihat ini. High heels ini cocok sama kamu," ujar Franda sembari menghampiri Sheilla.
"Ahhhh begini Tante, Sheilla tadi kan sudah beli high heels 4 pasang jadi Sheilla memutuskan untuk tidak membelinya lagi. Kaki Sheilla juga cuma satu pasang Tan dan paling Sheilla juga akan memakai 4 heels yang Sheilla beli ini beberapa kali saja karena terus terang, Sheilla kurang suka dengan heels," ucap Sheilla dengan jujur.
"Ehhhh begitu ya?" Sheilla menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah kalau begitu kita cari sepatu atau flat shoes untuk kamu." Sheilla melongo tak percaya saat mendengar ucapan dari Franda tadi.
"Ti---" belum sempat Sheilla menyelesaikan ucapannya, tangannya sudah digandeng oleh dua wanita paruh baya tersebut keluar dari toko yang ia datangi itu.
"Kita cari di toko lain. Ditempat ini flat shoes-nya gak ada yang bagus," ujar Mama Ciara yang disetujui oleh Franda. Namun tidak dengan Sheilla, terus terang saja ia ingin sekali menangis merasakan lelah karena sudah lama berjalan-jalan mengelilingi mall itu. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena Sheilla masih merasa segan jika dirinya lancang, meminta mereka untuk pulang. Sedangkan, Sheilla lihat-lihat keduanya masih betah berbelanja di mall tersebut.
Sheilla yang tadi berjalan dengan lemas menuju ke tempat yang diinginkan oleh Mama Ciara dan Franda, belum sempat mereka sampai ditempat tujuan, Sheilla sudah lebih dulu menghentikan langkahnya yang otomatis membuat kedua wanita tersebut juga mengentikan langkah mereka.
Dimana berhentinya Sheilla secara mendadak itu membuat Mama Ciara dan Franda saling tatap satu sama lain.
"Shinta," gumam Sheilla.
__ADS_1
"Shinta, siapa Shinta?" beo Mama Ciara sebelum matanya kini menatap tepat seorang gadis yang jauh berdiri didepan mereka dimana gadis itu juga yang sekarang tengah ditatap oleh Sheilla.
"Kamu mengenal gadis itu, Sheilla?" tanya Franda penasaran.
"Sheilla sangat mengenalnya Tante karena dia adalah adik Sheilla," ujar Sheilla sebelum dirinya melepaskan cekalan kedua wanita tadi, bahkan barang belanjaannya ia taruh begitu saja di lantai di tengah-tengah antara Mama Ciara dan Franda. Lalu setelahnya ia berlari kecil menghampiri sang adik yang tengah bergelayut manja dengan seorang laki-laki.
"Shinta," panggil Sheilla yang membuat gadis yang merasa dirinya dipanggil pun menolehkan kepalanya. Dan saat gadis bernama Shinta itu melihat ada Sheilla di belakangnya ia tampak terkejut namun sesaat setelahnya keterkejutannya itu berganti dengan decakan malas.
Sedangkan laki-laki disamping Shinta tadi menatap lekat Sheilla dari ujung rambut hingga ujung kaki Sheilla.
"Apa kamu kenal dia, beb?" tanya laki-laki tersebut yang membuat Sheilla yang mendengarnya melongo tak percaya. Bahkan matanya kini langsung menatap kearah laki-laki itu. Dimana laki-laki itu Sheilla tebak usianya sangat jauh dengan adiknya itu terlihat dari warna rambutnya yang sudah banyak yang memutih serta kerutan yang sangat terlihat di wajah laki-laki tersebut.
"Dan lebih baik kita sekarang pergi saja, beb. Melanjutkan belanja kita," sambung Shinta. Tapi saat keduanya ingin meninggalkan Sheilla, Sheilla dengan cepat menarik lengan sang adik hingga membuat gandengan tangan Shinta dan kekasihnya itu terlepas.
"Apa yang kamu katakan tadi Shinta? Kenapa kamu berbicara seperti itu? Aku ini Kakak kamu, kenapa kamu tidak mengakuinya didepan dia?" ucap Sheilla tak terima.
Shinta yang merasa kesakitan karena cengkraman Sheilla yang cukup kuat itu, dengan sekuat tenaganya ia menyentak tangan Sheilla hingga lepas dari lengannya itu.
"Kakak? Heh, sejak kapan kita memiliki status itu?"
"Sejak kita lahir dari dalam rahim yang sama! Jadi jangan berlagak kita ini orang asing Shinta. Aku ini Kakak kamu dan alasan kamu kesini untuk apa? Bukan karena kamu mengikuti sebuah olimpiade kan? Kalau bukan kenapa kamu malah membolos dari sekolahmu hanya untuk berlibur saja? Kalau kamu mau berlibur tunggu sampai waktu libur sekolah tiba dan darimana kamu mendapatkan uang untuk datang ke negara ini?" tanya Sheilla yang masih saja penasaran alasan adiknya itu pergi ke negara yang sama dengan dirinya.
__ADS_1
"Jangan ikut campur masalahku. Kamu bukan siapa-siapaku. Mau aku kesini pakai uang orang lain kek itu bukan urusanmu. Dan daripada kamu mengurusi urusanku, lebih baik kamu urusin urusan kamu sendiri. Dan perlu aku katakan ke kamu jika kita itu tidak terlahir dari rahim yang sama. Kamu bukan anak ibu dan ayah. Kamu hanya anak yang dititipkan oleh mereka berdua. Dan lebih baik kamu sekarang cari orangtuamu itu yang tidak bertanggungjawab kepadamu dan aku tegaskan sekali lagi jangan pernah mencampuri urusanku lagi karena kita hanya dua orang asing yang tidak sengaja dipertemukan," kata Shinta yang membuat Sheilla terkejut.
"Shinta! Kamu boleh benci sama Kakak tapi kamu tidak boleh mengatakan sebuah kebohongan," ucap Sheilla yang tidak percaya dengan ucapan adiknya itu.
"Untuk apa aku berbohong kepadamu, buang-buang waktu saja. Dan jika kamu tidak percaya tanya nenek kamu di kampung sana yang mungkin sebentar lagi akan mati." Sheilla yang mendengar ucapan dari Shinta tadi tak bisa jika ia tidak menampar Shinta.
Plakkkk!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Shinta yang membuat kepala gadis itu menoleh kesamping.
"Jaga ucapan kamu, Shinta!" geram Sheilla yang justru membuat Shinta kini terkekeh dengan menatapnya.
"Kenapa aku harus menjaga ucapanku jika apa yang aku katakan itu memang benar adanya. Nenek kamu sebentar lagi akan mati menyusul kedua orangtuaku," ujar Shinta dengan menekan setiap kata di kalimat terakhirnya itu.
"Shinta!" Sheilla mengepalkan kedua tangannya.
"Apa? Kamu mau menamparku lagi. Tampar nih tampar." Shinta memajukan wajahnya tepat didepan Sheilla. Namun beberapa saat setelahnya tak terlihat jika Sheilla ingin menamparnya kembali yang membuat Shinta kini memundurkan wajahnya sebelum dirinya kembali berucap.
"Aku tekankan sekali lagi jika kamu tidak perlu mencampuri urusanku lagi. Dan aku sarankan kamu datang menemui nenekmu sebelum dia benar-benar mati dan segara cari kedua orangtuamu yang asli," tuturnya.
"Beb, kita pergi sekarang," sambung Shinta dengan menggandeng tangan laki-laki yang sedari tadi mencuri-curi pandangan kearah Sheilla itu. Dan setelahnya kedua orang tersebut berjalan meninggalkan Sheilla yang masih mengepalkan tangannya dengan air mata yang membasahi pipinya.
__ADS_1