
Tangan Henry dan Digo tampak mengepal erat hingga membuat otot di lengan mereka terlihat. Tatapan mata kedua laki-laki itu menajam setelah mendengar nama yang baru saja mereka dengar tadi. Nama yang sudah hampir 7 tahun ini mereka cari keberadaannya setelah mereka kehilangan jejak saat keduanya melakukan pembantai di keluarga laki-laki yang saat ini tengah berbicara dengan Sheilla lewat telepon. Jangan ditanya kenapa mereka saat masih muda sudah menghabisi nyawa seluruh keluarga Raider jika bukan karena dendam yang sudah mereka tahan sejak lama sebelum akhirnya aksi mereka terlaksana
Sheilla dan Monik yang menangkap raut wajah menggelap dari kedua laki-laki disamping mereka pun entah karena kebetulan atau memang mereka memiliki pemikiran yang sama, tangan kedua perempuan itu bergerak mengarah ke tangan suami masing-masing. Mereka genggam tangan suami mereka bermaksud untuk menenangkan diri mereka berdua. Sebelum Sheilla kini angkat suara kembali agar laki-laki diseberang sana tak curiga kepada dirinya.
"Oh tuan Raider Zulfikar. Bomi sering bercerita tentang tuan lho, kata Bomi, tuan ini sangat kuat, tampan, gagah serta berwibawa."
Digo mendelik mendengar pujian yang terlontar dari bibir istrinya itu. Bisa-bisanya Sheilla memuji laki-laki lain didepannya langsung. Tapi saat dirinya ingin protes kepada Sheilla, tangan Sheilla yang tadi menggenggam tangan Digo kini beralih kearah bibir sang suami, membungkam bibir tersebut dengan memberi kode agar Digo tetap diam jika ia tak mau dengan cepat mereka ketahuan. Dimana hal tersebut membuat Digo langsung melepaskan tangan Sheilla dari bibirnya sebelum ia mencebikkan bibirnya kesal. Namun sayangnya, Sheilla mengabaikan dirinya itu dan memilih fokus kembali ke sambungan telepon tersebut dimana orang di sebrang sana mulai membalas ucapan dari Sheilla tadi.
📞 : "Benarkah Bomi selalu bercerita tentang saya?"
"Iya benar. Dan tuan tau saat Bomi selalu bercerita tentang tuan, saya merasa iri kepada Bomi yang selalu bertemu dengan tuan. Kan saya juga mau bertemu dengan tuan tapi sayangnya saya tidak diizinkan oleh Bomi, kata dia nanti saya bisa terpikat pesona tuan dan akan meninggalkan dia," balas Sheilla yang hampir ingin mengeluarkan isi didalam perutnya, mual dengan ucapannya sendiri.
Sedangkan seseorang yang ada di sebrang sana justru tengah terkekeh kecil mendengar ucapan dari Sheilla tadi.
📞 : "Kamu yakin ingin bertemu dengan saya?"
__ADS_1
"Tentu saja. Saya sangat penasaran dengan tuan dan saya juga akan membuktikan apakah tuan benar-benar seperti yang dikatakan Bomi itu. Tapi saya rasa, saya tidak bisa bertemu dengan tuan karena Bomi tidak akan pernah mengizinkan saya," ucap Sheilla.
📞 : "Kalau kamu mau bertemu dengan saya. Tidak perlu izin dengan Bomi, langsung kesini temui saya. Saya juga cukup penasaran dengan kamu yang selalu menjadi kebanggaan Bomi," ujar Raider yang mulai masuk kedalam perangkap yang dibuat oleh Sheilla tanpa disadari oleh Bomi.
"Benarkah?" tanya Sheilla yang berlagak antusias.
📞 : "Ya. Untuk apa saya berbohong. Tapi kalau kita nanti sudah bertemu, saya tidak bertanggungjawab jika kamu tertarik dengan saya dan berakhir kamu akan ke pelukan saya dan mencampakkan Bomi."
Sheilla maupun Monik dengan serempak keduanya memutar bola matanya malas saat mendengar balasan dari Raider yang ternyata seorang buaya darat itu. Namun Sheilla sebisa mungkin untuk menahan dirinya untuk tidak memberikan komentar pedas kepada Raider karena ia masih ingat akan tujuannya kali ini. Sehingga ia kini menjawab, "Kita lihat saja nanti tuan. Lagian Bomi juga sangat memuakkan. Oh ya, tapi kalau saya mau bertemu dengan tuan. Saya harus kemana? Saya kan tidak tau posisi tuan saat ini ada dimana?"
Sheilla kini menatap kearah sang suami yang wajahnya semakin tak enak dipandang.
Sedangkan Digo yang tengah terbakar api cemburu itu, ia tetap saja paham akan arti dari tatapan Sheilla yang meminta solusi kepadanya. Karena tidak mungkin Sheilla memberikan nomor ponsel asli perempuan itu sehingga Digo dengan cepat mengambil ponselnya lalu menyerahkan kepada Sheilla. Dimana hal tersebut langsung di terima oleh istrinya tersebut.
"Nomor ponsel saya ya. Hmmm baiklah, saya nanti akan mengirimkan pesan ke tuan dari nomor ponsel saya."
__ADS_1
📞 : "Baiklah dan saya tunggu pesan darimu."
"Siap tuan. Ahhhh tuan maaf sebelumnya tapi sepertinya sambungan telepon kita harus sampai disini dulu karena pekerjaan rumah belum selesai saya kerjakan. Jadi saya tutup ya tuan. Selamat siang," ujar Sheilla yang sebenarnya sudah sangat-sangat muak berbicara dengan laki-laki hidung belang di sebrang sana.
📞 : "Oh begitu ya. Baiklah. Selamat siang. Tapi tunggu sebentar." Gerakan tangan Sheilla yang ingin menutup sambungan telepon tersebut terhenti.
"Ya, kenapa ya tuan?"
📞 : "Saya hanya mau berpesan kepada kamu. Kalau nanti Bomi sudah pulang suruh dia buat telepon saya atau mengirimkan pesan kepada saya. Katakan kedua kalau saya menunggu kabar darinya," ucap Raider.
"Baik tuan. Nanti saya akan sampaikan. Jadi bolehkan saya menutup teleponnya sekarang juga?"
📞 : "Silahkan."
Tanpa menunggu lama, Sheilla yang mendengar kata silahkan dari orang diseberang sana pun dengan cepat tangannya langsung menekan ikon telepon berwarna merah untuk mengakhiri sambungan telepon keduanya sebelum si laki-laki hidung belang itu kembali menghentikannya lagi. Dimana setelah sambungan telepon tersebut terputus Sheilla bisa menghela nafas lega dengan tubuhnya yang ia sandarkan ke sandaran sofa tanpa sadar jika ia kini tengah ditatap tajam oleh suaminya yang masih saja cemburu itu.
__ADS_1