
Setelah beberapa menit kemudian, Sheilla sudah menghentikan tangisannya itu. Ia benar-benar merasa sangat lega setelah menumpahkan kekesalan yang berada di hatinya.
"Maaf," ucap Sheilla saat ia melihat baju Digo basah oleh air matanya.
Digo yang tadi memejamkan matanya dengan tangan yang masih saja aktif mengelus punggung Sheilla, matanya itu kini terbuka bahkan elusan yang dia berikan tadi sudah berhenti saat dirinya sedikit melonggarkan pelukannya itu lalu menatap wajah Sheilla yang juga tengah menatapnya.
"Maaf untuk?" tanya Digo tak paham tujuan Sheilla meminta maaf kepadanya itu.
"Untuk bajumu yang basah karena air mataku." Digo tersenyum kemudian ia kembali memeluk tubuh Sheilla.
"Tidak masalah sayang. Bajuku basah, nanti di cuci dan di jemur sudah kering lagi. Jadi jangan meminta maaf oke," balas Digo yang hanya dibalas dengan anggukan kepala oleh Sheilla.
Dan sesaat setelah percakapan itu berakhir, tak ada lagi percakapan setelahnya hingga beberapa menit kemudian, Sheilla kembali bersuara.
"Dear," panggil Sheilla yang membuat Digo menundukkan kepalanya agar bisa melihat wajah kekasihnya itu.
"Ya?"
"Aku mau cerita sama kamu tentang alasanku menangis tadi." Digo tersenyum saat Sheilla mau terbuka kepadanya.
"Silahkan. Akan aku dengarkan ceritamu itu," ucap Digo.
Sheilla kini menceritakan semua tentang pertemuannya dengan sang adik tadi hingga membuat dirinya kembali meneteskan air mata kala bibirnya mengucapakan jika sang nenek saat ini tengah tak baik-baik saja di negara kelahirannya itu.
"Apakah aku boleh pulang menemui nenek?" tanya Sheilla diakhir dia bercerita.
"Aku tidak mau terlambat melihat beliau, Dear. Walaupun jika benar aku ini bukan anak kandung orangtuaku yang berarti bukan keluarga nenek, tapi aku sudah menyayangi nenek seperti nenek kandungku sendiri. Aku mau melihat keadaan beliau, Dear," sambung Sheilla.
Digo yang melihat tatapan mata Sheilla penuh dengan kekhawatiran dan ketakutan itu pun ia mengusap mata tersebut. Ia benar-benar tak suka melihat tatapan Sheilla itu.
"Baiklah, kita akan mengunjungi nenekmu besok," kata Digo.
__ADS_1
"Benarkah?" Digo menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja sayang. Asal kamu tidak bersedih lagi oke dan biar aku tanyakan bagaimana kondisi nenekmu itu ke anak buahku disana," ucap Digo sembari meraih ponselnya yang tadi sempat ia letakkan di atas nakas kamar tersebut.
Dan setelah mendapatkan ponselnya itu, Digo langsung mengirimkan sebuah pesan kepada anak buahnya. Dan tak menunggu waktu lama pesan yang ia kirimkan tadi mendapat balasan.
Tanpa ba-bi-bu, Digo membaca pesan tersebut yang membuat sudut bibirnya kini terangkat.
Sheilla yang penasaran pun ia mengintip isi pesan tersebut dimana ia bisa menghela nafas lega saat mengetahui jika sang nenek masih terpantau sehat dan aman.
"Kamu sudah baca sendiri kan pesan dari anak buahku tadi. Jadi kamu jangan khawatir lagi oke. Beliau disana akan terus baik-baik saja dan akan sehat saat kita nanti berkunjung ke sana," tutur Digo yang diangguki oleh Sheilla bahkan senyuman di bibir Sheilla yang tadi sempat menghilang kini kembali lagi.
"Terimakasih untuk semuanya Dear. Aku adalah perempuan paling beruntung di dunia ini karena memiliki kekasih yang sangat-sangat perhatian sepetimu ini," ujar Sheilla sembari mengeratkan pelukannya, menelusupkan wajahnya di dada bidang kekasihnya itu.
"Ralat, bukan kekasih tapi calon suami," kata Digo memperbaiki ucapan Sheilla tadi yang justru membuat Sheilla terkekeh.
"Baiklah-baiklah. Terimakasih calon suami atas semua yang kamu berikan kepadaku."
"Kalau sudah tidak bersedih kita kebawah lagi yuk. Tidak enak kalau kita terlalu lama meninggalkan tamu kita," ajak Digo.
"Baiklah. Aku juga mau minta maaf ke Mama Ciara sama Aunty Franda karena sudah membuat mereka khawatir dan melihat kelakuan Shinta tadi," tutur Sheilla sebelum dirinya melepas pelukannya dan mulai beranjak dari atas ranjang tersebut. Diikuti oleh Digo yang juga ikut turun dari ranjang dengan tangan yang melepas kaos oblongnya yang sudah basah tadi dan menggantinya dengan baju yang lain.
Dan setelah Digo berganti baju, barulah mereka berdua berjalan menuju lantai utama mansion tersebut untuk menemui dua pasang suami-istri tersebut.
"Sepertinya mereka masih berada di belakang mansion. Kita langsung kesana saja," ucap Digo kala mereka berdua telah sampai di lantai utama tadi. Sebelum mereka berdua kembali melangkahkan kakinya.
Dan benar saja tebakan dari Digo tadi jika dua pasangan suami-istri itu sekarang tengah bercengkrama di dalam gazebo samping kolam renang.
Dimana acara cuap-cuap manja mereka terhenti kala melihat Sheilla dan Digo menghampiri mereka berempat.
"Sheilla," panggil Mama Ciara dan Franda heboh yang di balas dengan senyuman oleh Sheilla.
__ADS_1
Sedangkan Digo, ia memutar bola matanya malas.
"Alay sekali para emak-emak ini," batin Digo yang tak berani ia ungkapkan secara langsung jika ia masih mau hidup di dunia ini dengan tenang.
"Sini Sheilla. Duduk sini." Mama Ciara menepuk-nepuk lantai kayu gazebo tersebut dimana posisinya berada di tengah-tengah antara Mama Ciara dan Franda.
"Iya nak, duduk sini detak sama Mama dan Bunda." Sheilla yang mendengar kata bunda keluar dari bibir Franda, ia mengerutkan keningnya.
"Bunda?" beo Sheilla.
"Iya sayang. Mulai hari ini kamu panggil aunty Franda dengan sebutan bunda ya," pinta Franda penuh harap.
"Bunda Franda?" Franda tersenyum haru, hatinya benar-benar tersentuh kala Sheilla memanggilnya dengan sebutan Bunda.
Sheilla kini berjalan mendekati dua wanita paruh baya tersebut lalu kemudian ia memeluk keduanya secara bersamaan yang dibalas pelukan juga oleh keduanya.
"Mama, Bunda. Maafin Sheilla yang sempat membuat Mama sama Bunda khawatir dan maaf Mama sama Bunda tadi harus melihat hal yang tidak mengenakan yang terjadi diantara Sheilla dan Shinta. Sheilla benar-benar minta maaf ke Mama sama Bunda," ucap Sheilla benar-benar dari dalam lubuk hatinya yang paling dalam.
"Harusnya kita berdua yang meminta maaf ke kamu, Sheilla karena kita tadi sempat melihat pertengkaranmu dengan adikmu itu. Maafkan kita berdua ya sayang," ucap Franda.
"Tidak. Bunda dan Mama tidak boleh meminta maaf. Jadi biarkan Sheilla yang meminta maaf." Franda dan Mama Ciara tampak menghela nafas panjang.
"Ya sudah ya sudah kita berdua memaafkanmu, Sheilla asal kamu tidak bersedih lagi seperti tadi." Sheilla kini melepaskan pelukannya itu dari dua wanita di hadapannya saat ini.
"Terimakasih Ma, Bun yang sudah memaafkan kesalahan Sheilla," ucap Sheilla yang dibalas anggukan dan senyuman dari keduanya.
"Sama-sama sayang," ucap keduanya dengan serempak.
Dan tanpa mereka semua ketahui, dari kejauhan ada seseorang yang tengah melihat semua yang telah 6 orang itu lakukan dengan menggigit ujung jarinya.
"Anak orang lain saja disayang-sayang. Giliran anak sendiri dikasih hukuman. Huh dasar menyebalkan!" ucap orang tersebut yang tak lain adalah Kiya dengan kerucutkan dibibirnya yang semakin maju itu. Dan dengan menghentakkan kakinya, ia berjalan menuju ke kamarnya lagi dengan membawa dua kantong plastik besar berisi makanan untuk persediaan makanannya selama dia merajuk didalam kamarnya.
__ADS_1