
Sedangkan disisi lain, seorang perempuan dengan pakaian yang masih sama dengan pakaian yang ia kenakan kemarin perlahan ia berjalan keluar dari kamar yang ia gunakan untuk tidur semalam. Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi dan perutnya sudah keroncongan bukan main, maklum saja setelah dirinya sampai di negara ini sampai detik ini juga, ia belum memasukkan segelintir nasi ataupun makanan lain yang bisa mengganjal perutnya.
Pada awalnya ia berpikir akan ada seseorang yang mengantar makanan untuknya kedalam kamar seperti maid yang bekerja di rumahnya yang selalu senantiasa melayani dirinya dengan senang hati. Namun ternyata dari pagi ia menunggu hal itu, tak ada satupun seseorang yang masuk kedalam kamar tersebut sehingga mau tak mau ia harus keluar dari kamar tersebut dengan kondisi perut yang sudah meronta-ronta ingin dikasih makan.
Ia terus berjalan dan menaiki lift sebelum dirinya kini telah sampai di lantai utama rumah tersebut dimana ruang makan juga ada di sana. Beberapa maid yang melihat kedatangannya, mereka tampak memberikan salam dengan membungkukkan tubuh mereka yang dibalas senyum tipis oleh perempuan tersebut. Ia melanjutkan langkahnya hingga akhirnya ia telah sampai di meja makan.
"Ada yang bisa saya bantu Nona?" tanya salah satu wanita paruh baya yang ia yakini jika wanita itu adalah kepala pelayan di rumah ini dan ya orang itu adalah bik Nah.
"Hmmmm saya lapar bik. Apa boleh saya makan?" tanya perempuan itu. Bik Nah tampak tersenyum, lalu tangannya kini bergerak untuk menarik salah satu kursi makan yang berada disamping tubuh perempuan tersebut.
"Silahkan Nona. Makan lah sepuasnya," ujar bik Nah sembari mempersilahkan perempuan itu untuk segera duduk di kursi yang tadi ia tarik.
Perempuan itu tampak membalas senyuman bik Nah tersebut sembari duduk di kursi tadi.
"Mau saya siapkan nona?" tanya bik Nah saat perempuan itu hanya diam saja dengan memandangi menu masakan di depannya.
"Boleh. Saya mau lauknya daging ayam saja," ujar perempuan tersebut yang diangguki oleh bik Nah.
Wanita paruh baya itu kini bergerak mengambil makanan untuk perempuan yang tengah duduk anteng di kursinya itu. Lalu setelah ia selesai menyiapkan makanan untuk perempuan tersebut, ia menaruhnya di depan perempuan tadi.
"Silahkan dimakan Nona. Dan sebentar, saya akan menyiapkan susu untuk nona dulu." Perempuan itu tampak menatap sekilas ke bik Nah sebelum ia menganggukkan kepalanya lalu matanya mengalihkan pandangannya kembali ke makanan yang ada di hadapannya itu.
Namun saat dirinya ingin memasukkan sesuap nasi dan lauk, ia teringat jika saat dirinya keluar dari kamar tadi, ia tak melihat laki-laki yang telah menolongnya tadi malam. Dan hal tersebut membuat dirinya kini celingak-celinguk kesana kemari, siapa tau ia bisa melihat laki-laki itu di sekitar ruangan ini.
__ADS_1
"Permisi Nona. Ini susunya." Ucapan dari bik Nah tadi membuat perempuan tersebut menatapnya dengan tatapan penuh tanya.
Bik Nah yang menyadari tatapan berbeda dari perempuan tersebut pun ia kini mulai angkat suara kembali.
"Ada yang bisa saya bantu lagi nona?" tanyanya.
"Hmmmm tidak ada. Hanya saja saya mau tanya sama kamu. Dimana laki-laki yang menolong saya tadi malam itu? Karena saat saya keluar dari kamar hingga sekarang saya tidak melihat keberadaannya," ujar perempuan tersebut.
"Laki-laki yang menolong Nona? Tuan Digo atau tuan Henry?" tanya bik Nah karena tadi malam perempuan itu pulang dengan kedua laki-laki tersebut.
Perempuan itu tampak berpikir sejenak, seakan-akan ia mengingat siapa nama laki-laki yang menolongnya tadi malam.
"Ahhhh yang namanya Digo. Kemana orang itu sekarang bik? Apa dia sudah berangkat bekerja?" tanya perempuan tersebut penasaran.
"Memangnya dia kerja apa sampai dia bisa sesantai ini?" tanyanya.
Bik Nah tersenyum. Tenyata di dunia ini masih ada seseorang yang tidak mengetahui pekerjaan tuannya. Padahal ia cukup terkenal di kalangan pebisnis. Dan ia kira terkenalnya nama tuannya membuat seluruh orang di dunia ini tau tentang tuannya, namun ternyata tebakannya itu salah besar.
"Nona tidak tau pekerjaan tuan?" Perempuan itu menggelengkan kepalanya.
"Nona tau RD'S company?" Perempuan itu menganggukkan kepalanya.
"Nah tuan Digo adalah pemilik dari perusahaan itu sekaligus beliau juga memegang jabatan sebagai CEO disana," jelas bik Nah yang berhasil membuat perempuan tersebut menganga tak percaya.
__ADS_1
Pantas saja laki-laki itu tampak santai di jam kerja seperti ini, ternyata oh ternyata dia pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Dan pantas saja dia bisa memiliki mansion yang begitu besar dan mewah yang baru pertama kali ia lihat.
Perempuan itu kini mengerjabkan matanya saat ia sadar jika ekspresi wajahnya saat ini sangat lah lucu hingga membuat wanita paruh baya didepannya tampak menahan tawanya.
"Jadi dia pemilik perusahaan RD'S company?" bik Nah menganggukkan kepalanya.
"Bibik tidak bohong sama saya kan?"
"Untuk apa saya berbohong Nona. Apa yang saya katakan itu benar adanya. Dan saya bekerja dengan tuan itu sebelum tuan mendirikan perusahaan itu," ujar bik Nah yang membuat perempuan tersebut tampak menganggukkan kepalanya.
"Baiklah-baiklah saya akan percaya dengan ucapan kamu tadi. Tapi jika dia sekarang masih tidur, apa saya tidak sopan jika saya makan terlebih dahulu dari pemilik rumah ini?" tanya perempuan tersebut yang tampaknya tak enak hati.
"Nona tenang saja. Tadi tuan sudah berpesan jika nona tak perlu sungkan di rumah ini. Yang berarti jika nona lapar maka tuan tidak mempermasalahkan jika nona makan terlebih dahulu," ujar bik Nah.
"Yang benar bik? Dia bilang seperti itu?" bik Nah menganggukkan kepalanya.
"Iya Nona. Makanya kalau Nona sudah lapar makan dulu saja karena jika menunggu tuan yang ada Nona nanti keburu pingsan. Lagian kita juga tidak tau kapan tuan bangun dari tidurnya," ucap bik Nah yang membuat senyum tipis di wajah perempuan tersebut terlihat.
"Baiklah kalau begitu saya akan makan terlebih dahulu. Dan kamu boleh pergi," ujar perempuan tersebut.
"Baik, saya permisi dulu Nona. Jika ada apa-apa atau Nona membutuhkan bantuan, Nona bisa panggil maid disini," ucap bik Nah yang diangguki oleh perempuan tersebut yang sudah mengunyah makanannya.
Bik Nah yang melihat anggukan di kepala perempuan itu pun ia kini beranjak dari ruang makan, meninggalkan perempuan itu yang tengah asik melahap makanannya.
__ADS_1