
"Kakak ipar!" teriak Kiya kala dirinya sudah menginjakkan kakinya di lantai satu mansion tersebut. Dimana teriakannya itu membuat Digo yang kini tengah bersama dengan Sheilla di ruang keluarga setelah dirinya menjelaskan semuanya kepada kekasihnya itu yang untungnya Sheilla langsung percaya kepadanya kini mendengus kesal.
"Ada apa lagi sih tuh anak satu," gemas Digo dengan menolehkan kepalanya ke sumber suara.
"Sabar," ucap Sheilla dengan mengelus lengan sang kekasih dan elusan itu membuat dirinya menghela nafas panjang dengan menganggukkan kepalanya.
"Kakak ipar, where are you!" teriak Kiya lagi kala dirinya tak kunjung menemukan keberadaan Sheilla.
"Jawab saja sayang. Biar di tidak berisik lagi," suruh Digo yang diangguki oleh Sheilla, walaupun ia pasti akan sangat canggung setelah membalas teriakan dari Kiya tadi.
"Kakak ipar---"
"Aku ada disini!" balas Sheilla yang membuat Kiya mengentikan langkahnya dan dengan memasang telinganya baik-baik ia kembali berucap, "Dimana?"
"Di ruang keluarga!" Kiya yang mendengar ucapan dari Sheilla pun ia segara berlari kearah ruang keluarga di mansion tersebut.
Dimana saat dirinya telah memasuki ruangan tersebut, ia langsung duduk di tengah-tengah Digo dan Sheilla.
Dan tanpa merasa bersalah sedikitpun kepada Digo, ia langsung memeluk tubuh Sheilla yang sempat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Kiya sebelumnya.
"Huwaaaa Kakak ipar, maafin kejahilan Kiya tadi," ucap Kiya dengan suara cetar membahananya itu yang membuat telinga Sheilla pengang.
Digo yang tau penderita kekasihnya pun ia angkat suara, "Kalau bicara di samping telinga seseorang itu jangan sambil teriak bisa kan?"
Teguran dari Digo tadi membuat Kiya kini melepas pelukannya dari tubuh Sheilla.
__ADS_1
"Nye Nye Nye Nye."
Digo memelototkan matanya dan tangannya yang sudah gatal pun kini bergerak ingin menjewer telinga adik nakalnya itu. Namun sayangnya belum sempat tangannya itu mendarat di telinga Kiya, niatannya itu dihentikan oleh Sheilla yang memegang lengannya dengan gelengan di kepalanya.
Kiya yang melihat hal itu pun ia kini menjulurkan lidahnya kearah Digo sebelum dirinya memiringkan tubuhnya, sepenuhnya menghadap kearah Sheilla. Dan tak peduli dengan Digo yang kini tengah ngedumel di belakangnya, Kiya kembali angkat suara.
"Kakak ipar mau kan memaafkan aku?" ujar Kiya dengan mengeluarkan jurus andalannya yaitu puppy eyes.
"Jangan mau sayang," timpal Digo yang langsung dihadiahi pukulan di dadanya oleh Kiya.
"Abang diam. Kiya sedang tidak bicara dengan Abang dan jangan mencoba memberikan pengaruh buruk ke Kakak ipar," ujar Kiya.
Dan pertengkaran dari sepasang Kakak beradik itu membuat Sheilla menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sudah-sudah. Jangan bertengkar lagi. Dan untuk nona Kiya, saya memberikan maaf saya untuk nona," ucap Sheilla dengan begitu sopan.
"Tunggu sebentar, apa Kiya tadi tidak salah dengar kalau Kakak ipar memanggil Kiya dengan sebutan nona? Dan apa tadi Kakak ipar menggunakan panggilan saya dan anda?" Sheilla menggaruk tengkuknya yang tak gatal sebelum dirinya menganggukkan kepalanya untuk menimpali ucapan dari Kiya tadi.
"Astaga. Siapa yang nyuruh Kakak ipar melakukan itu? Kiya tidak suka ya kalau kakak ipar memanggil Kiya dengan sebutan nona dan jangan pakai saya sama anda lagi. Pakai aku, kamu dong biar cepat akrabnya. Canggung banget kalau pakai saya, anda," protes Kiya.
"Hmmm tapi---"
"Haishhhh pakai tapi itu nanti akan lama pembahasannya. Pokoknya Kiya tidak mau mendengar penolakan dari Kakak ipar," ujar Kiya dan setelah mengucapkan hal tersebut ia kini membalik tubuhnya dari menghadap kearah Sheilla kini ia menatap kearah Digo tanpa menunggu persetujuan dari Sheilla terlebih dahulu. Dan apa yang ia lakukan itu membuat Abangnya itu menaikkan sebelah alisnya.
"Apa?" tanya Digo dengan perasaan yang sudah tidak enak.
__ADS_1
Tangan Kiya bergerak, menengadah tepat didepan Digo.
"Minta black card," ucap Kiya seenak jidatnya.
Dan hal tersebut membuat Digo menghela nafas panjang, perasaannya memang tidak pernah salah mengira.
"Kamu sudah punya sendiri Kiya. Buat apa minta black card Abang? Kalau mau belanja kan pakai kartu kamu sendiri itu juga bisa, gak akan habis juga uang didalamnya walaupun kamu beli pakaian satu truk sekaligus." Kiya memutar bola matanya malas.
"Kata siapa Kiya minta black card Abang buat Kiya sendiri. Orang Kiya minta kartu itu untuk Kakak ipar. Jadi buruan kasih salah satu black card Abang itu," ujar Kiya.
"Ohhhh buat Sheilla." Digo mengangguk-anggukkan kepalanya dengan tangannya yang kini bergerak untuk mengambil salah satu black card miliknya itu.
Sedangkan Sheilla, ia yang mendengar perbincangan dari kedua orang itu ia kini bersuara.
"Aku tidak mau black card itu, Kiya. Aku juga tidak membutuhkannya. Lagian aku pernah dikasih platinum card dari Abang kamu sampai sekarang kartu itu belum aku gunakan sekalipun. Jadi jika aku memegang black card itu pasti tidak akan pernah kepakai sama sekali karena Abang kamu sudah benar-benar sangat mencukupi hidupku selama di mansion disini. Dimana aku hanya bisa merepotkan dia saja," ujar Sheilla.
"Heyyy siapa yang bilang kamu merepotkanku. Kamu tidak merepotkanku sama sekali sayang. Jadi hentikan kamu jangan berbicara seperti itu lagi." Kiya menganggukkan kepalanya.
"Benar apa yang dikatakan oleh bang Al tadi Kakak ipar. Kalau Kakak ipar itu tidak merepotkan sama sekali karena hidup Kakak itu sudah menjadi tanggungjawab Abang. Malah kalau bisa kuras semua harta Abang, Kak. Nanti kalau sudah berhasil, jangan lupa bagi dua," ujar Kiya dengan menaik turunkan alisnya sembari tersenyum penuh arti.
"Tapi tunggu, Kakak tadi bilang kalau Kakak ipar hanya di beri kartu platinum saja?"
"Iya, dan kartu itu sudah benar-benar sangat cukup untuk aku," ucap Sheilla yang justru membuat Kiya menatap tajam kearah Digo.
"Astaga Abang udah berubah pelit ya sekarang. Kartu yang Abang berikan untuk calon istri Abang saja hanya platinum card bukan black card. Allahuakbar, Abang kan punya black card 3 tuh kasih satu lah ke Kakak ipar. Jangan pelit jadi orang itu," omel Kiya.
__ADS_1
"Heh enak aja nuduh Abang pelit. Perlu kamu tau ya Kiya. Abang sudah pernah kasih ini kartu ke dia, tapi dia-nya aja yang benar-benar nolak dan dia baru mau nerima salah satu card Abang itu saat Abang kasih dia platinum card itu. Kakak juga sudah pernah bilang, gunakan card yang Abang berikan itu semau dia tapi dia itu benar-benar beda dengan perempuan di luar sana Kiya. Mungkin dia memang suka belanja tapi tidak segila perempuan diluar sana. Dan nih coba kamu paksa Kakak iparmu itu untuk menerima black card ini. Abang mau ke atas dulu, ganti baju," ujar Digo sembari memberikan black card tersebut ketangan Kiya sebelum dirinya beranjak dari tempat duduknya. Ia tak jadi ke kantor pagi ini karena ulah Kiya tadi yang membuat dirinya harus menyelesaikan permasalah itu hingga sekarang pukul 10 pagi. Tapi dia juga sangat berterimakasih kepada adik nakalnya itu walaupun dirinya tadi sempat dibikin emosi olehnya tapi niatnya untuk tak berangkat kekantor dan untuk bermesraan dengan Sheilla akhirnya terlaksana juga.