
Kegugupan mulai menjalar di tubuhnya saat Sheilla sudah berdiri di depan pintu dengan cat warna hitam yang tak lain adalah pintu kamar milik Digo. Bahkan tangan yang sekarang tengah membawa nampan berisi makanan untuk laki-laki di dalam kamar itu tampak bergetar.
Ya, hari ini matahari sudah terbenam dan digantikan oleh cantiknya sang rembulan. Namun sejak tadi siang karena insiden tadi, Digo sama sekali tak terlihat keluar dari dalam kamarnya dan mengabaikan makan malamnya.
Apalagi saat Henry pulang beberapa jam tadi dengan raut wajah lesu sekaligus marah ia mengatakan, "Gara-gara kamu, pekerjaanku semakin bertambah. Kalau kamu tadi tidak sakit di jam makan siang. Pasti aku tidak akan kelabakan sendiri harus mengatur ulang jadwal pertemuan bos dengan klien dari Malaysia. Untung saja klien itu baik sekali mau mengerti keadaan saat ini. Jika tidak perusahaan pasti akan rugi besar! Sialan memang kamu ini." Begitulah kira-kira ucapan dari Henry yang sudah bisa simpulkan jika Digo tadi meninggalkan pekerjaannya gara-gara dirinya. Dan hal tersebut membuat Sheilla semakin merasa bersalah saja.
Sheilla menghela nafas beberapa kali dengan meyakinkan dirinya sendiri jika nanti ia tak akan kenapa-napa saat berhadapan dengan Digo didalam.
Setelah memastikan jika dirinya benar-benar siap untuk bertemu dengan Digo. Perlahan tangan kirinya bergerak untuk mengetuk pintu kamar tersebut, hingga akhirnya pintu itu terbuka sendiri.
Sheilla menghela nafas kembali sebelum dirinya melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar bernuansa hitam itu.
"Mau apa kamu kemari?" Suara bariton si pemilik kamar membuat langkah kaki Sheilla terhenti.
"Maaf tuan. Saya kesini hanya untuk mengantar makan malam tuan," jawab Sheilla tanpa berani menatap kearah Digo yang sekarang tengah duduk di salah satu sofa di kamarnya dengan laptop menyala di hadapannya.
"Hanya itu?" tanya Digo yang membuat Sheilla menegakkan kepalanya lalu menatapnya sesaat sebelum dirinya kembali menunduk.
"Iy---iya tuan," jawab Sheilla dengan keringat dingin yang sudah membasahi keningnya.
"Jika hanya itu saja, keluar!" suara tegas nan terkesan dingin itu membuat Sheilla menggigit bibir bawahnya. Ia ingin sekali mengatakan jika kedatangannya menemui Digo itu bukan hanya sekedar mengantar makan saja melainkan juga ingin meminta maaf, tapi setelah melihat raut wajah Digo yang masih tak mengenakan itu membuat nyalinya untuk meminta maaf menciut. Tapi jika ia tak segera meminta maaf, rasa bersalahnya akan semakin besar pastinya.
__ADS_1
"Kenapa masih disitu! Kamu tidak dengar suara saya tadi? Keluar sekarang!" suara Digo semakin meninggi membuat Sheilla semakin meremas nampan yang sekarang tengah ia bawa itu.
"Tapi makan mal---"
"Bawa makanan itu! Dan keluar sekarang!" Bentak Digo.
"Tuan---"
"Saya bilang keluar ya keluar!" bentakan itu semakin menjadi bahkan Digo sempat menggebrak meja di hadapannya itu hingga membuat meja yang terbuat dari kaca retak.
Sheilla yang melihat kemurkaan dari Digo tampak kesusahan menelan salivanya sendiri. Namun walaupun begitu, Sheilla bukannya keluar sesuai dengan perintah Digo sebelumnya, ia justru melangkahkan kakinya mendekati Digo yang kini berdiri dengan tatapan tajam yang mengarah ke Sheilla.
"Keluar!" suara Digo kembali memasuki indra pendengarannya yang membuat Sheilla menghela nafas panjang. Hingga setelah memantapkan hatinya dan siap menerima konsekuensi dari Digo nantinya, ia kini memberanikan dirinya untuk menatap wajah Digo yang tampak memerah, terlihat jelas jika tengah menahan amarah.
"Saya kesini juga berniat untuk meminta maaf atas ulah saya yang sudah membuat tuan marah. Meminta maaf atas semua kesalahan saya yang telah saya perbuat. Saya siap menerima hukuman apapun dari tuan asalkan tuan memaafkan saya," ujar Sheilla sembari membungkukkan badannya.
Digo yang mendengar Sheilla mengatakan jika akan menerima hukuman apapun darinya pun ia tersenyum miring.
"Apa kamu yakin akan melakukan apapun agar saya memaafkan kamu?" Sheilla yang masih membungkukkan badannya pun ia menganggukkan kepalanya dengan mantap, "Ya tuan, saya bersedia menerima apapun hukuman dari tuan," ujar Sheilla.
"Baiklah kalau begitu," ucap Digo kemudian ia berjalan menuju kearah nakas yang berada di samping tempat tidurnya. Lalu membuka laci nakas tersebut untuk mengambil sesuatu yang selalu tersimpan rapi di dalam nakas tersebut. Kemudian setelah mengambil barang dari sana, Digo kembali melangkahkan kakinya hingga kini ia telah berdiri kembali di hadapan Sheilla.
__ADS_1
"Bunuh diri kamu sendiri didepan mataku." Digo menyerahkan satu buah pistol kehadapan Sheilla yang otomatis membuat perempuan itu terkejut bukan main. Wajahnya sekarang pun sudah pucat pasi dengan keringat dingin yang semakin deras keluar dari tubuhnya.
Digo yang melihat raut wajah Sheilla, ia kembali menampilkan sebuah senyuman yang teramat tipis.
"Bagaimana? Apa kamu sanggup menerima hukuman kamu ini?" Diam. Sheilla masih tampak terdiam dengan menatap pistol di tangan Digo.
"Ini---"
"Saya beneran Sheilla. Bukannya kamu menginginkan maaf dari saya bukan? Maka tembakkan peluru di dalam pistol ini kearah jantung kamu," ujar Digo. Sheilla yang tadinya menganggap jika Digo tengah mengerjai dirinya kini anggapannya itu musnah saat melihat raut wajah serius dari Digo.
"Kamu tidak bersedia kan Sheilla?" Tanya Digo yang terkesan meremehkan. Dan hal tersebut membuat Sheilla kini menatap kearah wajahnya sebelum berganti menatap pistol itu kembali.
"Ahhhh saya rasa kamu memang tidak bersedia. Baik lah kalau begitu---" belum sempat Digo menyelesaikan ucapannya bahkan belum sempat tangannya yang memegang pistol tadi ia tarik kembali, tangan Sheilla dengan cepat merebut pistol tersebut dari tangan Digo lalu mengarahkan ke jantungnya sendiri.
Digo yang melihat hal tersebut tampak terkejut bahkan matanya kini terbuka sempurna.
"Sheilla, apa yang kamu lakukan!" Sheilla tersenyum dengan setetes air mata yang keluar dari mata indahnya itu.
"Saya ingin menebus semua kesalahan saya, tuan. Sudah begitu banyak nyawa juga yang sudah hilang di tangan saja. Dan mungkin hari ini adalah hari dimana pembalasan untuk diri saya sendiri atas kekejaman yang saya lakukan dulu maupun akhir-akhir ini. Dan saya akan memenuhi permintaan tuan untuk menembak diri saya sendiri sebagai tanda pemintaan maaf saya. Sekali lagi saya minta maaf tuan dan terimakasih sudah memberikan sedikit waktu untuk saya sadar dari kesalahan yang saya perbuat selama ini," ujar Sheilla tanpa melunturkan senyumannya. Dan hal tersebut justru membuat Digo kalang kabut. Apalagi melihat mata Sheilla sudah memejam dan jari telunjuk perempuan itu sudah mulai menekan pelatuk pistol itu, hingga....
Dorrr!
__ADS_1