The Dark Love

The Dark Love
89. Big Baby


__ADS_3

Vina melirik kearah dua bodyguard yang ternyata sedang berbincang-bincang itu. Dan hal tersebut Vina manfaatkan untuk berlari menuju ke seseorang yang tengah menunggunya sedari tadi.


"Paket atas nama Sheilla," ucap Vina saat dirinya sampai di samping laki-laki itu dengan mata yang sesekali melihat kearah gerbang takut jika dua bodyguard tadi menyadari kepergiannya.


Laki-laki tersebut menganggukkan kepalanya lalu ia menyerahkan sebuah paket yang berukuran kecil ketangan Vina.


"Silahkan tanda tangan," ucap laki-laki pengantar paket tersebut sembari menyerahkan sebuah pena dan kertas yang langsung di ambil oleh Vina dan segara perempuan itu tanda tangani.


"Thanks," ucap Vina yang membuat laki-laki tersebut menganggukkan kepalanya lalu ia segera pergi dari hadapan Vina tadi.


Vina yang melihat jika pengantar paket tersebut sudah mulai menjauh, ia lagi-lagi menatap kearah sekitarnya dan dirasa aman, ia menaruh paket tadi ke dalam bajunya. Dan dengan langkah pelan ia kembali ke tempat pembuangan sampah tadi. Saat dirinya sampai disana, ia menghela nafas lega kala dua bodyguard tersebut tak menyadari kepergiannya tadi. Lalu setelahnya Vina kini melangkahkan kakinya mendekati kedua bodyguard tadi.


"Terimakasih sudah menungguku disini," ucap Vina saat dirinya sudah masuk kembali kedalam area mansion tersebut tak lupa ia juga memberikan senyuman termanisnya kepada dua bodyguard tadi yang dibalas dengan anggukan oleh keduanya.


"Kalau begitu aku masuk dulu. Semangat bekerja," ujar Vina dan tanpa menunggu jawaban dari dua bodyguard tadi, Vina langsung saja berjalan menuju pintu utama manison tersebut meninggalkan kedua bodyguard tadi yang hanya menggelengkan kepalanya tanpa curiga sedikitpun.


Lagi-lagi Vina bisa menghela nafas lega saat belum ada bodyguard yang menjaga pintu masuk ataupun maid yang mulai bekerja. Didalam mansion itu masih sepi sama seperti sebelum dirinya keluar dari mansion itu.


Vina bergegas masuk kedalam lift untuk menuju ke kamarnya. Dan tak menunggu waktu lama, Vina sudah keluar dari lift tersebut dan sekarang dia sudah berada di dalam kamarnya.


Sebuah senyum miring terbit di bibir Vina kala dirinya telah membuka isi dari paket yang ia terima itu. Didalam paket terserah terdapat satu botol cairan dan beberapa pil serta bubuk yang terbungkus kertas kecil-kecil dan bubuk itu berjumlah 5 buah.


"Digo sebentar lagi kamu akan menjadi milikku. Dan untukmu Sheilla, sebentar lagi kamu akan musnah dari dunia ini," gumam Vina dengan menatap isi paketannya tadi dengan senyum yang masih mengembang.


Sedangkan disisi lain, Digo menatap Sheilla yang tengah menyibukkan dirinya dengan ponsel yang ada di tangan perempuan itu.


"Honey," panggil Digo yang hanya di jawab dengan deheman saja oleh kekasihnya itu. Dan hal tersebut membuat Digo kesal.


"Honey," panggilnya ulang.


"Apa?" tanya Sheilla tapi tatapan mata kekasihnya itu masih menatap kearah layar ponselnya.

__ADS_1


"Honey!" panggil Digo untuk ketiga kalinya yang membuat Sheilla kini menghela nafas kasar.


"Apa sih panggil-panggil?!" sentak Sheilla yang membuat Digo langsung terdiam.


"Ho---honey kamu membentakku?" tanya Digo dengan mata yang berkaca-kaca.


Sheilla yang melihat hal tersebut pun ia sempat melongo melihatnya, masa iya seorang Digo mau menangis karena ia tak sengaja menyentak dirinya tadi.


"Tidak, bukan maksudku untuk---" ucapan Sheilla terhenti saat Digo sudah lebih dulu menelusupkan wajahnya di balik lipatan kedua tangannya diatas meja dengan tubuh yang bergetar.


"Astaga, apakah dia sekarang tengah menangis?" batin Sheilla pada dirinya sendiri.


"Dear," panggil Sheilla namun tak dijawab oleh Digo yang membuat Sheilla kini langsung berdiri dari duduknya kemudian ia segera mendekati kekasihnya itu. Dan saat dirinya sudah berada di samping laki-laki tersebut, ia bisa mendengar isakan kecil yang keluar dari bibir Digo.


"Demi apapun, Digo, seorang mafia yang ditakuti oleh semua orang dan disegani oleh semua pembisnis, sekarang tengah menangis. Ya Tuhan," batin Sheilla tak bisa berkata-kata lagi. Ia benar-benar terkejut melihat fenomena yang baru ia lihat hari ini.


Sheilla yang tak tega kala mendengar isakan itu, tangannya kini bergerak untuk mengelus punggung kekasihnya.


"Hiks, kamu sudah tidak sayang sama aku lagi. Kamu sudah membentakku tadi. Aku tidak suka di bentak. Hiks," ucap Digo yang masih mempertahankan posisinya.


"Dia tidak mau dan tidak suka dibentak. Tapi dia tidak sadar jika dulu dia sering sekali membentakku huh," dumel Sheilla dalam hati. Ia tak berani mengutarakannya langsung karena ia takut Digo akan semakin bertambah menangis lagi dan berakhir dirinya sendiri yang kesusahan menenangkan bayi besarnya itu.


"Baiklah-baiklah. Aku tidak akan membentakmu lagi lain kali. Jadi sekarang tegakkan tubuh kamu, biar aku bisa melihat wajah kamu," ucap Sheilla sembari memegang kedua pundak Digo, berusaha membantu laki-laki itu kembali duduk tegap. Namun sayangnya usahanya itu tak berhasil, Digo masih enggan menegakkan tubuhnya dan memperlihatkan wajahnya.


"Aku tidak mau hiks. Kamu jahat," ujar Digo yang membuat Sheilla menggaruk pelipisnya karena ia bingung harus berbuat apa.


"Baiklah aku akui kalau aku jahat. Makanya aku minta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Begini saja, kamu mau apa biar aku turuti," bujuk Sheilla. Dan hal tersebut berhasil membuat Digo kini langsung menegakkan kepalanya dan menoleh kearah Sheilla.


Sheilla yang melihat wajah Digo penuh dengan air mata pun ingin sekali ia tertawa melihat wajah Digo yang benar-benar sangat lucu dimatanya itu. Tapi sebisa mungkin Sheilla harus menahannya agar Digo tak marah.


"Ka---kamu beneran mau nurutin apa mauku?" Sheilla menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Iya. Tapi kamu harus janji tidak boleh menangis lagi," ujar Sheilla dengan tangan yang bergerak untuk menghapus air mata Digo yang membekas di pipi laki-laki tersebut.


Digo menganggukkan kepalanya.


"Baiklah aku tidak akan menangis lagi," kata Digo.


"Jadi? Kamu mau apa hmmm?" tanya Sheilla yang membuat Digo tersenyum lebar.


"Aku mau susu," jawab Digo dengan excited. Tapi apa yang ia katakan tadi justru mendapat delikkan dari Sheilla.


"Coba ulang. Kamu mau apa?"


"Mau susu, Honey. Aku mau su---"


Plakkkk!!


Tangan Sheilla mendarat di bibir Digo sebelum laki-laki itu menyelesaikan ucapannya tadi.


"Tolong tau diri juga tuan Digo yang terhormat. Kita memang sudah menjadi sepasang kekasih tapi tau batasan juga. Minta susu lagi, kamu kira aku ini sapi apa hah?" ucap Sheilla dengan berkacak pinggang.


"Tapi aku memang ingin susu sapi," kata Digo dengan air mata yang kembali menetes membasahi pipinya. Dan hal tersebut membuat Sheilla tertegun sesaat. Ia kira Digo akan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Taunya lelaki itu bukan mau menyusu langsung di sumber yang Sheilla punya melainkan Digo ingin susu yang ia buat. Dasar otak Sheilla sudah terkontaminasi dengan kemesuman Digo jadi dia tidak bisa berpikir jernih kembali.


"Ehhhh begitu ya. Hmmm maaf-maaf aku kira kamu tadi mau---"


"Susu kamu. Hiks tidak aku sedang tidak mau susumu. Aku mau susu sapi hiks," ucap Digo dengan isakannya yang membuat Sheilla menggaruk tengkuknya karena malu.


"Aku mau susu. Buatkan aku susu," ucap Digo meraung-raung.


"Iya-iya tunggu sebentar ya. Akan aku buatkan tapi kamu berhenti menangis oke." Layaknya seperti anak kecil Digo menganggukkan kepalanya dengan kedua punggung tangannya bergerak untuk menghapus air matanya sendiri.


Sheilla yang melihat hal tersebut pun ia tersenyum gemas dan sebelum dirinya meninggalkan ruangan Digo untuk membuatkan keinginan sang kekasih, tangannya ia sempatkan untuk menepuk-nepuk kepala laki-laki tersebut dan menyematkan satu kecupan di kening Digo. Dan apa yang dilakukan oleh Sheilla tadi membuat senyum Digo kembali terlihat di wajah laki-laki tersebut.

__ADS_1


__ADS_2