
Monik menggigit bibir bawahnya kala ia melihat punggung Henry yang membelakangi dirinya. Sepertinya laki-laki itu belum menyadari keberadaannya karena Henry tengah menatap keluar kamar tersebut tak lupa asap rokok yang menemani dirinya.
Namun Monik tidak bisa terus berdiam diri seperti saat ini terus menerus. Ia harus meminta maaf kepada Henry sekarang juga hingga ia kini berlari kecil mendekati Henry. Dimana saat dirinya sudah mendekati laki-laki itu...
Happ!
Ia memeluk tubuh Henry dari belakang sembari berkata, "Maaf."
Henry yang terkejut dan hampir memelintir tangan seseorang yang tengah memeluknya secara tiba-tiba, niatannya itu terhenti kala mendengar suara wanita yang satu Minggu ini mengambil perhatiannya.
Henry yang sadar akan keterkejutannya, dengan cepat ia membuang puntung rokok dari tangannya keluar jendela. Sebelum ia melepaskan tangan Monik tadi dari pinggangnya.
Kalau kalian menganggap Henry akan dengan mudah memaafkan Monik, kalian salah besar. Pasalnya setelah dirinya terlepas dari pelukan wanita itu, ia menatap sekilas wajah Monik sebelum dirinya beranjak dari depan wanita tersebut menuju ke arah nakas samping ranjang untuk mengambil obat pencegah diare.
Monik yang merasa dirinya di abaikan pun ia mengerucutkan bibirnya. Ia paham jika Henry masih marah dengannya. Tapi ia tidak boleh egois dan menyerah begitu saja. Ia bertekad di hari ini juga, ia harus bisa mendapat maaf dari calon suaminya itu. Hingga dirinya kini mengikuti Henry yang tengah meminum obatnya.
Monik melirik wadah obat tersebut dengan menggigit bibir bawahnya sebelum tatapan matanya beralih kearah Henry yang masih terdiam bahkan laki-laki itu menyibukkan dirinya dengan ponselnya.
"Kamu masih marah ya sama aku?" tanya Monik.
Hening, tak ada balasan sama sekali dari laki-laki yang duduk di hadapannya itu.
__ADS_1
"Sayang. Maaf."
Henry masih saja diam. Ia tak berniat untuk menjawab atau memaafkan Monik hari ini juga. Biar calon istrinya itu tau jika ia benar-benar sedang marah saat ini juga sekaligus untuk memberikan pelajaran kepada Monik dengan harapan agar calon istrinya itu tak melakukan kesalahan yang sama seperti tadi. Apalagi sampai menganggap dirinya lemah dan lebay. Sumpah demi apapun, mengingat perkataan dari Monik itu membuat darah Henry kembali mendidih.
"Sayang ishhhh, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak tau jika daya tahan tubuh kamu itu lemah. Dan maaf karena aku tadi sudah menganggap kamu lebay. Pokoknya aku minta maaf atas semua yang aku lakukan sampai membuat kamu marah seperti ini. Kamu mau kan maafin aku?!" Lagi dan lagi ucapan dari Monik tak mendapat respon dari Henry. Laki-laki itu masih setia dengan layar ponselnya.
Dimana keterdiaman Henry itu rasanya Monik ingin menangis saja. Tidak enak juga ternyata didiami oleh orang yang kita sayang, batin Monik.
"Sayang, kenapa diam saja? Aku minta maaf. Kamu jawab dong," pinta Monik dengan mata berkaca-kaca.
"Sayang," rengeknya.
Dia menatap sekilas wajah Henry dari bawah sebelum ia menelungkupkan wajahnya di balik kedua lengannya yang ia sandarkan di paha Henry. Dirinya menangis sejadi-jadinya di posisinya saat ini. Ia menyesal, benar-benar sangat menyesal sudah membuat Henry marah. Jika saja dirinya tadi bisa menjaga lisannya mungkin semua ini tak akan terjadi.
"Hiks, maaf. Aku tidak bermaksud membuat kamu marah. Hiks. Aku menyesal. Aku tidak akan mengulangi perbuatanku tadi. Dan aku siap menerima hukuman atas kesalahan yang telah aku perbuat ini," ucap Monik.
Henry yang memang tak tega jika melihat Monik menangis pun ia menghela nafas panjang dengan gerakan tangan yang menaruh ponselnya keatas nakas. Lalu setelahnya, tangannya itu bergerak untuk mengelus lembut kepala Monik. Hingga pergerakan tangannya itu membuat Monik kini menengadahkan kepalanya hingga tatapan mata yang memburam akibat air matanya itu bertatapan langsung dengan mata tajam namun terlihat sangat teduh milik Henry itu.
"Jangan nangis. Aku sudah memaafkanmu," ucap Henry. Tangannya yang ia gunakan untuk mengelus kepala sang calon istri kini berpindah untuk menghapus air mata Monik yang mengalir di pipi chubby milik perempuan itu.
"Aku memaafkanmu, tapi aku mohon jangan mengulangi kesalahan yang sama di masa depan. Kamu paham, sayang?" Monik yang masih setia menangis pun ia menganggukkan kepalanya. Dimana hal tersebut membuat Henry kini tersenyum.
__ADS_1
"Kalau begitu, berdiri sekarang. Lantai di bawah sangat dingin." Henry membantu Monik untuk berdiri dari posisi duduknya tadi. Dan saat Monik sudah benar-benar berdiri, Henry justru menarik pinggang Monik hingga perempuan itu kini duduk diatas pangkuannya.
Monik yang terkejut pun refleks tangannya kini mengalung di leher laki-laki tersebut yang sekarang tengah menatapnya lekat.
"Jangan nakal lagi oke. Apalagi sampai ngatain calon suami lebay dan lain sebagainya seperti tadi. Aku benar-benar tidak suka, sayang," ujar Henry mengatakan sebuah kejujuran.
"Maaf. Aku benar-benar minta maaf," ucap Monik yang kini memeluk tubuh Henry.
Henry tersenyum dibalik pelukan yang diberikan oleh Monik itu sembari tangannya bergerak, mengusap punggung Monik.
"Aku tadi sudah mengatakan jika aku sudah memaafkanmu. Jadi sudah ya jangan meminta maaf lagi dan jangan memikirkan hal itu lagi karena bumil tidak boleh terlalu memikirkan sesuatu yang bisa membuat stress. Jadi lebih baik kamu sekarang tidur ya, istirahat yang banyak karena besok aku yakin kita akan menguras energi kita untuk menerima tamu undangan yang sudah kita sebar," ujar Henry.
Monik kini melepaskan pelukannya namun masih berada di pangkuan Henry, ia berucap, "Tapi bagaimana dengan kamu? Apa kamu sekarang baik-baik saja? Dan gimana kalau kamu sakit gara-gara kejadian tadi?"
"Aku baik-baik saja. Kamu juga tenang saja, aku yakin jika tidak akan terjadi apapun denganku. Toh aku tadi juga sudah meminum obat pencegah diare. Jadi kemungkinan akan aman," ujar Henry.
"Sudah, jangan pikirkan aku akan gimana nantinya. Kalaupun aku nanti diare, aku sudah menelepon Diana untuk selalu siaga jika sewaktu-waktu aku membutuhkan pertolongan dia. Jadi tidur sekarang oke." Henry mengangkat tubuh Monik yang berada di pangkuannya itu lalu merebahkan tubuh calon istrinya di atas ranjang.
"Aku mau tidur tapi peluk," ucap Monik yang mode manjanya sudah mulai aktif kembali.
Henry hanya menanggapinya dengan senyuman lalu mengganggukan kepalanya sebelum ia ikut merebahkan tubuhnya disamping tubuh Monik. Membawa tubuh perempuan itu kedalam pelukannya dengan sedikit memberikan tepukan di bokong Monik agar calon istrinya itu segara tertidur.
__ADS_1