
"Sudah selesai. Jangan sampai kena air dulu ya Nona lukanya," ucap Monik setelah selesai mengobati luka di kaki Vina.
"Iya-iya aku juga tau. Kalau gitu daripada kamu disini terus-terusan mending kamu ambilkan aku sarapan sana," perintah Vina.
"Sarapan ya? Baiklah akan aku ambilkan. Mohon tunggu sebentar," ujar Monik sebelum dirinya berjalan meninggalkan kamar tersebut. Namun saat dirinya berada di depan pintu, ia menghentikan langkahnya dan dengan diam-diam ia menempelkan benda yang diberikan oleh Henry tadi di tembok sebelah pintu itu lalu setelahnya barulah ia keluar dari sana.
Dengan sedikit berlari saat pintu lift itu terbuka, Monik menghampiri Henry yang tengah terduduk di ruang tamu dengan wajah tertekuk.
"Tuan bagaimana? Apakah kecurigaan kita itu benar adanya?" tanya Monik saat dirinya sudah sampai di samping Henry.
Henry yang tadinya menatap lurus kedepan ia kini mengalihkan pandangannya kearah Monik sekilas sebelum dirinya menggelengkan kepalanya.
"CCTV yang mengarah ke dapur rusak sejak kemarin pagi. Jadi kita tidak bisa melihat siapa pelaku yang telah menjebak kita," ucap Henry yang membuat Monik kini menghela nafas.
"Begitu ya? Tapi tunggu tuan. Kalau CCTV yang mengarah ke dapur rusak gimana dengan CCTV lainnya? Apa yang lain juga rusak? Jika tidak, kita bisa lihat rekaman CCTV itu. Yang mungkin mengarah ke lift, tangga atau ruangan lain ahhhhh bagaimana dengan rekaman CCTV yang ada di ruang makan khusus untuk pekerja di mansion ini. Apa juga ikut rusak? Kalau tidak kita lihat saja rekaman itu karena kan seperti yang saya katakan tadi pagi jika saya mendapatkan minuman itu di atas meja ruang makan. Jadi kemungkinan besar orang yang menjebak kita itu menaruh sendiri minuman itu di atas meja," ujar Monik yang membuat Henry langsung berdiri dari duduknya.
"Kamu benar juga. Baiklah saya akan mencoba untuk memeriksa rekaman yang berada di ruang makan khusus pekerjaan. Kamu mau ikut?" tawar Henry.
"Saya nanti menyusul saja tuan. Karena masih ada hal lain yang harus saya kerjakan," ujar Monik yang diangguki oleh Henry sebelum laki-laki itu pergi kembali menuju ke ruang CCTV.
Sedangkan Monik, ia bergegas menuju ke dapur untuk mengambilkan sarapan untuk Vina. Dan setelahnya ia kembali menuju ke kamar Vina.
__ADS_1
"Ini Nona sarapannya," ucap Monik kala dirinya sudah berada didalam kamar Vina.
Vina yang tadinya fokus ke acara televisi di hadapannya itu kini ia melirik kearah Monik dan tatapan matanya itu beralih menatap kearah makanan tersebut sebelum tangannya kini terulur menerima makanan tersebut yang membuat Monik diam-diam tersenyum devil.
"Memang aku belum bisa membuktikan jika kamu adalah pelaku dari kejadian semalam. Tapi karena aku sangat geram atas keberadaanmu di mansion ini maka mengerjai kamu tidak ada salahnya bukan?" batin Monik dengan otak liciknya itu.
Senyum Monik kembali mengembang saat sesuap demi sesuap makanan itu masuk kedalam perut Vina. Hingga akhirnya makanan tersebut habis tak tersisa.
"Ini minumannya Nona," ucap Monik sembari memberikan segelas minuman kepada Vina yang langsung diterima oleh perempuan tersebut.
"Apa ada sesuatu yang perlu saya kerjakan untuk Nona?" tanya Monik kala Vina sudah memberikan gelas yang sudah tak ada isinya itu kepadanya.
"Tidak. Dan lebih baik kamu segara keluar," usir Vina.
"Setelah ini aku jamin kamu akan mondar mandir ke kamar mandi Vina," gumam Monik. Lalu setelahnya ia berjalan pergi dari depan kamar Vina itu. Dan tujuannya saat ini adalah ruang CCTV dimana Henry saat ini berada.
"Permisi," ucap Monik saat dirinya telah sampai di depan ruang CCTV itu dengan kepala yang ia sembulkan kedalam.
"Masuk saja Monik." Bukan, bukan dari dua penjaga ruangan tersebut yang bersuara dan mengizinkan dirinya masuk melainkan Henry lah yang memberikan perintah. Dan hal tersebut diangguki oleh Monik kemudian ia berjalan mendekati Henry.
"Bagaimana, apakah tuan sudah menemukan pelakunya?" tanya Monik yang berdiri di belakang Henry.
__ADS_1
"Belum. Ini sedang proses. Dan benar apa katamu jika CCTV yang ada di ruang makan itu sedang tidak mengalami kerusakan kemarin. Jadi kita tunggu saja karena kita tidak tau pastinya pelaku itu masuk kedalam ruangan itu kapan. Dan lebih baik kamu duduk disini," ujar Henry sembari menepuk kursi yang ada di sampingnya itu.
"Ahhhh tidak usah tuan saya---"
"Saya memberikan perintah untuk kamu jalankan bukan untuk kamu tolak," ucap Henry memutus ucapan Monik itu.
Monik yang tak bisa membantah lagi pun ia segara duduk disamping Henry dan setelahnya keduanya fokus melihat rekaman CCTV itu.
Sedangkan di dalam kamarnya, Vina kini sudah lebih dari 2 kali ia mondar-mandir masuk kedalam kamar mandi.
"Sialan. Ada apa dengan perutku ini? Apa semua ini gara-gara aku makan makanan yang diambilkan oleh Monik tadi. Arkhhhh kalau memang benar berarti aku sedang di kerjai saat ini. Sttttt sial," ucap Vina sebelum dirinya kembali masuk kedalam kamar mandi lagi saat dirinya merasakan mulas di perutnya.
"Sial sial sial, rencanaku tadi malam sudah gagal dan sekarang aku di kerjai oleh perempuan sialan itu. Arkhhhh Monik sialan. Awas saja kamu. Aku akan balas perbuatanmu itu dan aku jamin rencanaku untuk yang kedua kalinya nanti tak akan gagal. Kamu tunggu saja tanggal mainnya Monik. Aku akan membalasmu dengan langsung mengirim kamu ke neraka," ujar Vina yang sudah berada didalam kamar mandi untuk membuang isi perutnya itu.
Dan saat Vina tengah kewalahan dengan rasa mulas yang menerpanya itu, Monik dan Henry matanya masih fokus ke layar monitor yang perlahan mulai menampilkan gerak-gerik seseorang disana. Hingga tangan Monik dan Henry sama-sama mengepal saat orang yang ada di rekaman itu menaruh satu gelas minuman di meja makan Monik. Dan orang itu adalah Vina. Ya, entah kerusakan yang terjadi di CCTV yang berada di dapur itu disengaja atau tidak yang jelas jika memang disengaja maka orang yang melakukan sabotase itu sangat bodoh karena telah melewatkan satu CCTV yang mengarah ke ruang makan khusus untuk para pekerja yang disana juga merupakan tempat eksekusi si pelaku itu.
"Vina sialan!" erang Henry.
"Salin rekaman itu ke flashdisk ini," ucap Henry sembari menyerahkan satu flashdisk tersebut. Dan perintahnya itu langsung di lakukan oleh salah satu penjaga CCTV tersebut tanpa bertanya ada masalah apa yang tengah terjadi diantara Henry, Monik dan Vina itu karena masalah yang melibatkan tiga orang itu bukan masalah untuk para penjaga CCTV tersebut.
Setelah menyerahkan flashdisk tadi, Henry kini menolehkan kepalanya kearah Monik yang tampaknya tengah menahan emosi itu. Hingga tatapan mata penuh dengan kemarahan tersebut kini beralih menatap kearah Henry saat ia merasakan jika tangannya di genggam erat oleh laki-laki tersebut.
__ADS_1
"Kita akan segera membalas perbuatan dia," ucap Henry berusaha untuk menenangkan Monik.