The Dark Love

The Dark Love
74. Meragukan Sheilla


__ADS_3

Digo terus saja didiamkan oleh Sheilla sampai perempuan itu kini telah selesai dengan aktivitas merawat wajahnya dan kini perempuan itu telah berdiri lalu melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu kamar tersebut mengabaikan Digo yang sedari tadi menatap pergerakan dia. Tapi saat Sheilla menolehkan kepalanya kearah Digo, laki-laki itu dengan cepat mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Mau ikut makan malam di bawah tidak?" tanya Sheilla akhirnya membuka suaranya setelah hampir satu jam ia mengunci mulutnya sendiri.


"Tidak. Kalau kamu mau makan, makan saja sendiri," ujar Digo dengan ketus yang membuat Sheilla mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Oke," balas Sheilla dengan singkat sebelum dirinya membuka lebar pintu tersebut lalu keluar dari kamar itu.


Digo yang melihat tubuh Sheilla sudah menghilang dari balik pintu pun ia melongo tak percaya atas respon yang diberikan oleh kekasihnya itu.


"Dia hanya bilang oke begitu saja? Tanpa mau mencoba membujuk saya agar mau ikut makan bersama dia?" ucap Digo sembari berdiri dari duduknya.


"Dia benar-benar sangat menyebalkan!" geramnya namun beberapa saat setelahnya kaki Digo bergerak menuju pintu kamar tersebut dengan sesekali ia menghentak-hentakkan kakinya sendiri untuk melampiaskan kekesalannya itu.


Dan setelah dirinya sampai di ruang makan, ia bisa melihat Sheilla yang tengah sibuk mempersiapkan makanan yang akan dihidangkan diatas meja makan itu. Dan apa yang Digo lihat saat ini benar-benar membuat dirinya semakin sebal saja.


"Siapa yang menyuruh kamu untuk ikut menata semua makanan ini?" tanya Digo dengan dingin tepat di depan tubuh Sheilla.


Sheilla yang terkejut karena keberadaan Digo yang tiba-tiba berada didepannya saat ia baru memutar tubuhnya, ia kini menghela nafas saat mendengar ucapan dari Digo tadi.


"Tidak ada," jawab Sheilla. Lalu setelahnya kakinya ia gerakan untuk menuju kembali kearah dapur namun baru satu langkah saja, Digo sudah lebih dulu mencekal lengannya.


"Berani kamu kembali ke dapur, saya potong kaki kamu saat ini juga," ancam Digo.


"Lakukan saja, saya tidak takut," balas Sheilla yang membuat Digo memelototkan matanya.

__ADS_1


"Kamu---" ucapan Digo terputus saat suara seseorang memekik masuk kedalam telinga semua orang yang ada di dalam ruang makan saat ini.


"Digo!" teriak orang tersebut yang tak lain adalah Vina sembari berlari dengan senyum lebarnya.


Sheilla dan Digo, mereka berdua menatap kearah Vina yang baru memasuki area ruang makan itu. Dan dengan kompak sepasang kekasih itu menghela nafas panjang. Sebelum Sheilla memilih untuk mengalihkan pandangannya kearah Digo kembali.


"Tuh di panggil sama dedemit mansion ini. Dan mungkin perempuan itu mau menampung bibit kamu itu tanpa ada ikatan yang pasti seperti kemauanmu tadi," ujar Sheilla. Lalu setelahnya ia melepaskan cekalan tangan Digo dari lengannya. Dan tanpa memperdulikan delikkan mata dari Digo, Sheilla lebih memilih untuk kembali masuk kedalam dapur dengan Digo yang terus menatap kearahnya.


Dan tatapan mata Digo itu teralihkan saat ia merasakan tubuh seseorang dengan lancangnya memeluk tubuhnya. Dan jangan ditanya lagi siapa orang yang berani melakukan hal tersebut kepada Digo jika bukan Vina lah sang pelaku.


"Kamu!" geram Digo dan dengan sekali sentakan saja Digo berhasil melepaskan pelukan Vina tadi dan lagi-lagi laki-laki itu mendorong tubuh Vina hingga terjatuh ke lantai.


"Aduhhh Digo. Kenapa kamu mendorongku?" tanya Vina tak suka.


"Anda hanya hama di mansion ini Nona yang sewaktu-waktu bisa saya singkirkan dan saat hal itu terjadi anda akan menjadi gelandangan di negara ini. Dan sebelum waktu itu terjadi lebih baik anda menjaga sikap anda. Jangan menjadi hama yang tidak tau diri seperti ini," ucap Digo dengan tajam tanpa menjawab pertanyaan dari Vina tadi.


Sedangkan Sheilla yang melihat tubuh Vina masih terduduk di lantai pun ia menahan tawanya mati-matian. Ia tadi sebenarnya juga melihat aksi Digo yang mendorong tubuh Vina hingga terjatuh. Tapi ia hanya diam saja dari kejauhan dan karena sekarang dirinya harus menaruh sop jagung buatnya tadi keatas meja makan, mau tak mau ia harus bergabung dengan dua orang yang sudah lebih dulu di ruang makan itu.


"Lho Nona Vina, kenapa duduk disitu?" ucap Sheilla saat dirinya sudah berdiri disamping perempuan itu dengan ekspresi wajah pura-pura kaget melihat posisi Vina saat ini.


Dan ucapan dari Sheilla itu justru membuat Vina mantapnya dengan tatapan tajam. Lalu dengan segera ia berdiri dari posisi duduknya tadi.


"Terserah aku dong mau duduk dimana. Pantat juga pantatku bukan pantatmu, kenapa kamu yang repot," ujar Vina dengan menepuk-nepuk pantatnya yang otomatis membuat Sheilla melangkahkan kakinya menjauh dari perempuan tersebut.


"Ihhhh Nona banyak bakterinya," celetuk Sheilla yang membuat Vina mendelik tak terima.

__ADS_1


"Apa kamu bilang?" tanya Vina tak santai.


"Nona banyak bakterinya. Iya kan tuan Digo? Apa yang saya katakan itu benar?" ucap Sheilla sembari mengalihkan pandangannya kearah Digo. Digo yang sedari tadi menatap perdebatan antara kekasihnya dan Vina pun, ia mengalihkan pandangannya kearah Sheilla. Dan saat dirinya ingin protes kepada Sheilla karena kekasihnya itu telah memanggilnya dengan sebutan tuan lagi pun ia urungkan saat Sheilla telah memberikan tatapan garang kepadanya. Dan dengan terpaksa ia hanya menjawab dengan anggukan kepala atas pertanyaan dari Sheilla tadi.


"Tuhhhh tuan Digo saja setuju dengan ucapan saya tadi, kalau Nona banyak bakterinya," ujar Sheilla.


"Mana ada dia setuju dengan ucapanmu, padahal dia sedari tadi hanya diam tanpa mengucap kata iya atau tidak," ucap Vina.


"Lah Nona tidak melihat tuan tadi menganggukkan kepalanya?"


"Dia kan hanya mengangguk saja---" belum sempat Vina menyelesaikan ucapannya, Digo lebih dulu memutusnya.


"Apa yang Sheilla katakan tadi memang benar. Kamu banyak bakterinya," timpal Digo yang membuat Vina langsung menatap kearahnya.


"Kenapa kamu mengucapakan kebohongan itu Digo? Tubuhku sekarang sangat bersih, hari ini aku sudah mandi 4 kali dan kamu masih menganggapku banyak bakteri? Harusnya ucapanmu itu kami tujukan kepada maid mu yang satu ini. Aku yakin dia hanya mandi satu kali sehari," ujar Vina dengan memandang tubuh Sheilla dari atas sampai bawah.


Digo yang mendengar ucapan Vina yang ia anggap merendahkan kekasihnya itu, ia hampir saja kelepasan untuk menampar mulut Vina agar tak bisa bicara kembali. Tapi belum sempat ia melakukannya, Sheilla lebih dulu bersuara.


"Maaf sebelumnya nona, tapi tebakan nona itu salah besar karena syukur Alhamdulillah saya masih bisa mandi dua kali sehari. Kebersihan di tubuh saya pun juga selalu saya perhatikan. Dan ucapan saya yang menganggap tubuh Nona sekarang banyak bakterinya, bukan semata-mata saya ingin mencemooh Nona. Tapi saya berbicara nyata karena Nona tadi sempat terduduk di atas lantai yang selalu diinjak-injak oleh semua orang yang ada di mansion ini. Memang kita para maid selalu memberikan lantai di mansion ini tapi kan hanya saat pagi hari saja yang otomatis bakteri yang dibawa oleh alas kaki semua orang yang ada di mansion ini tertinggal di lantai yang Nona tadi duduki. Nona kan juga tidak tau alas kaki itu habis dibawa kemana dan habis menginjak apa. Kalau alas kaki salah satu orang disini tak sengaja menginjak kotoran binatang di luar sana yang siapa tau kotoran itu mengandung bakteri Salmonella sp yang dapat membahayakan kesehatan Nona nantinya, bagaimana? Dan untuk menjaga kesehatan Nona, lebih baik Nona sekarang kembali ke kamar Nona untuk segara mandi lagi. Agar Nona tidak merasakan efek gatal yang nanti akan menyusahkan saya ataupun tuan Digo. Dan Nona tenang saja, tuan Digo akan menunggu Nona untuk makan malam bersama. Tuan Digo setuju kan?" Ingin sekali Digo mengatakan tidak tapi lagi-lagi tatapan tajam Sheilla membuat dirinya bungkam.


"Tuan Digo diam, berarti beliau setuju. Jadi Nona cepat kembali ke kamar lagi dan segara lah mandi karena saya tidak ada waktu untuk membantu Nona menggaruk tubuh Nona saat gatal nanti," ujar Sheilla dengan menekankan kata gatal, seolah dirinya menyindir secara halus kepada Vina, namun sepertinya yang ia sindir itu tidak merasa tersindir.


Karena Vina kini justru berdecak, tapi tak urung perempuan itu tetap melangkah kakinya keluar dari ruang makan meninggalkan Sheilla yang tengah menatapnya dengan helaan nafasnya.


Sedangkan Digo, laki-laki itu menatap Sheilla dengan tatapan menuntut penjelasan atas ucapan Sheilla yang menyuruhnya untuk menunggu perempuan hama itu selesai melakukan ritual mandinya agar mereka bisa makan malam bersama, yang benar saja?

__ADS_1


Dan apakah yang dilakukan oleh Sheilla ini adalah sikap dari seorang kekasih yang sebenarnya? Digo rasa bukan. Karena yang ia tau seorang kekasih itu akan cemburu jika pasangannya berduaan dengan perempuan lain, tapi kenapa Sheilla justru ingin Digo melakukan hal yang tak disukai oleh seorang kekasih? Apakah Sheilla benar-benar menanggapi dirinya sebagai kekasih dia atau justru tidak sama sekali sih? Kenapa dia melakukan hal yang seharusnya tak dia lakukan? Dan itu sangat-sangat menyebalkan dan membuat Digo kini berpikir apakah perasaan yang ia rasakan saat ini tak dirasakan oleh Sheilla? Apakah dia hanya mencintai perempuan itu sendiri tanpa dibalas oleh Sheilla? Apakah... Arkkhhhhhhh banyak sekali pertanyaan yang memutar di otak Digo saat ini yang membuat laki-laki itu menggeram kesal atas pertanyaan yang menggangu otaknya itu.


__ADS_2