
"Nona, ini minumannya," ucap Monik saat dirinya telah sampai di hadapan Vina.
Vina menatap Monik sesaat sebelum tangannya kini terulur untuk menerima minuman itu.
"Minuman apa ini?" tanya Vina dengan melihat cap minuman tersebut.
"Ini bubble tea nona. Rasanya enak sekali, aku juga membelinya, nih," ujar Monik sembari duduk di samping Vina dengan menyesap minumannya itu.
Vina menganggukkan kepalanya. Dan setelahnya tanpa curiga sedikitpun, ia kini meminum minuman tersebut.
"Gimana? Enakkan Nona?" tanya Monik.
"Hmmmm, sangat enak. Aku baru merasakan bubble tea seenak ini. Lain kali belikan aku minuman ini lagi," ujar Vina lalu menyesap kembali minumannya tersebut.
"Baiklah, saya akan menuruti apa yang dikatakan Nona," ucap Monik yang diangguki Vina.
Kedua perempuan itu kini menikmati minuman mereka masing-masing dengan menikmati keindahan kota Paris di malam hari seperti saat ini yang benar-benar sangat memanjakan mata.
Dan selang 15 menit, Monik melirik kearah Vina yang tampak mengerjabkan matanya dengan sesekali menggelengkan kepalanya.
"Nona kenapa?" tanya Monik pura-pura perduli dengan perempuan itu.
"Kepalaku pusing sekali Monik," ucap Vina.
"Hah? Kok bisa? Bukannya Nona tadi baik-baik saja?" tanya Monik.
"Entahlah aku juga tidak tau. Aku sudah tidak mau disini lagi, bawa aku pulang saja."
__ADS_1
"Lho kok pulang sih Nona. Padahal saya kan masih pengen disini," ucap Monik dengan raut wajah yang ia sedih-sedihkan.
"Besok kita kesini lagi. Dan sebelum kita pulang, kamu belikan aku minuman dingin apa saja terserah. Aku benar-benar butuh minuman dingin itu untuk menghilangkan rasa panas di tubuhku saat ini," ujar Vina dengan tangan yang kini ia gunakan untuk mengipasi dirinya sendiri.
"Huh baiklah kalau begitu kita pulang saja jika Nona sudah berjanji untuk kesini lagi besok," ucap Monik kemudian ia berdiri dari duduknya dan setelahnya mereka berdua berjalan menuju kearah parkiran mobil dengan Vina yang sudah seperti cacing kepanasan.
"Monik, cepat carikan aku minuman dingin!" perintah Vina kala mereka telah sampai di mobil yang mereka pakai tadi.
"Baiklah-baiklah nona. Nona tunggu didalam mobil oke, jangan kemana-mana. Saya akan cepat kembali," ujar Monik dan tanpa menaruh barang-barang belanjaan milik Vina, ia berlari menjauh dari mobil tersebut. Namun di tengah jalan, tangan kanannya bergerak untuk merogoh tas kecil yang ia bawa saat ini untuk mencari sebuah kunci mobil. Dan setelah ia mendapatkan kunci mobil itu, ia kini melemparnya ke seorang laki-laki yang tengah berjalan berselisihan dengannya yang langsung di tangkap oleh laki-laki tersebut dengan senyum di bibirnya.
Monik menghentikan langkahnya kala ia sudah benar-benar menjauh dari tempat parkir mobil tadi. Ia menatap pergerakan laki-laki tersebut yang kini sudah masuk dan tak berselang lama mobil tersebut berjalan meninggalkan area parkiran itu yang membuat Monik diam-diam tersenyum.
"Selamat menikmati malam panjangmu, Vina," gumamnya tanpa melunturkan senyumannya itu.
"Apakah balas dendam dengan seseorang sangat menyenangkan bagimu, Monik?" Suara seseorang yang tak asing di pendengaran Monik, membuat perempuan tersebut kini menolehkan kepala ke sumber suara yang ternyata pemilik suara itu sudah berdiri di sampingnya.
"Baiklah maafkan saya karena sudah mengagetkanmu. Jadi bagaimana? Apa jalan-jalan bersama Vina sangat menyenangkan?" tanya Henry yang mengganti pertanyaan awalnya tadi. Dan hal tersebut justru membuat Monik kini mencebikkan bibirnya.
"Tidak sama sekali," jawab Monik yang membuat Henry menaikkan sebelah alisnya.
"Kenapa tidak menyenangkan?" tanyanya.
"Ya, tuan lihat saja apa yang saya pegang saat ini. Ini semua barang belanjaan Vina yang dibeli Vina menggunakan uang tabungan saya. Kalau barangnya tidak mahal sih saya fine-fine saja tapi barang-barang ini semuanya adalah barang branded yang harganya bikin sakit kepala," ucap Monik dengan menundukkan kepalanya. Menyesali ide yang ia buat untuk mengajak Vina keluar dan mentraktir perempuan itu.
Henry yang melihat kesedihan di wajah Monik pun ia mengelus kepala Monik dengan sangat lembut.
"Kamu tenang saja semua barang-barang yang di beli oleh Vina akan saya ganti uangnya," ucap Henry yang membuat Monik kini menetap kearah wajah laki-laki tersebut yang kini tengah menatap ke bawah tepatnya ke sebuah dompet yang sekarang berada di tangan laki-laki itu.
__ADS_1
"Dan kartu ini sebagai gantinya," ujar Henry sembari menyerahkan sebuah platinum card ke hadapan Monik yang membuat Monik melongo tak percaya. Ayolah dirinya tak bodoh dan ia tau kartu yang di berikan oleh Henry itu ia yakini memiliki limit yang sangat-sangat besar dibandingkan dengan jumlah barang-barang yang di beli oleh Vina tadi.
"Kenapa malah diam saja, ambil Monik," ucap Henry.
"Ahhhhh tidak tuan. Saya tidak bisa menerimanya," tolak Monik.
"Saya tidak menerima penolakan," ujar Henry sembari memasukkan platinum card tadi ke tas kecil yang di pakai Monik saat ini.
"Dan lebih baik kita sekarang lihat perkembangan rencana kita itu sudah sampai dimana sebelum kita pulang nantinya," sambung Henry dan setelah mengucapkan hal tersebut, dengan refleks ia menggandeng tangan Monik menuju ke mobil milik laki-laki tersebut.
Monik yang sudah tak bisa menolak pun ia menghela nafas pasrah dan dirinya memilih untuk mengikuti kemana langkah kaki Henry membawanya.
Sedangkan disisi lain, lebih tepatnya di sebuah kamar di rumah terpencil di kota itu, penampilan Vina sudah sangat acak-acakan. Dress yang tadi ia kenakan pun sekarang sudah lepas dari tubuhnya. Bahkan sedari tadi ia memohon-mohon dibawah kaki laki-laki yang membawanya tadi untuk segar menyentuhnya.
"Aku mohon, segara sentuh aku. Aku sekarang sangat-sangat menginginkan sentuhanmu," racau Vina dengan buah dadanya yang ia gesek-gesekkan di kaki laki-laki tersebut.
"Kamu yakin menginginkan sentuhanku Nona?" ucap laki-laki tersebut dengan menyentuh pipi Vina yang membuat perempuan itu semakin meremang.
"Ya aku sangat menginginkannya," ujar Vina.
"Berhubung kamu yang menginginkannya maka akan aku turuti permintaanmu itu," ucap laki-laki tersebut sebelum dirinya kini berjongkok dan menggendong tubuh Vina ala bridal style menuju ke atas ranjangnya. Dan tanpa basa-basi lagi bahkan tanpa menunggu perintah dari Henry, laki-laki itu segera melancarkan aksinya itu untuk menyentuh setiap inci tubuh Vina yang semakin menggelinjang diatas ranjang tersebut saat ia merasakan sentuhan yang diberikan oleh laki-laki asing yang baru ia temui itu.
Dan di tengah kegiatan panas antara Vina dan laki-laki asing tersebut, Monik dan Henry baru sampai di rumah itu. Dan tanpa mengetuk pintu utama rumah tadi, Henry membuka pintu itu lalu ia dan Monik segara masuk kedalamnya.
"Apakah di rumah ini mereka akan melakukan hal itu?" tanya Monik dengan kaki yang terus mengikuti langkah Henry yang membawanya menuju ke lantai dua rumah tersebut.
"Ya dan lebih tepatnya mereka akan melakukannya di dalam kamar ini," ucap Henry dengan tangan yang bergerak membuka pintu dimana didalam ruangan tersebut terdapat kegiatan panas yang dilakukan oleh Vina dan orang suruhan Henry.
__ADS_1