The Dark Love

The Dark Love
248. Strategi


__ADS_3

Untuk menyembunyikan kekesalan yang tengah melanda dirinya. Sheilla memperlihatkan senyum palsunya.


"Tidak perlu tuan," tolak Sheilla. Ia takut saja jika nanti laki-laki itu memiliki niat jahat kepadanya dengan memberikan obat tidur atau obat perangsang contohnya. Kan bisa bahaya nanti. Memang benar ia diberikan alat yang akan mengirimkan sinyal tanda bahaya kepada sang suami yang menunggu dirinya di basemen, tapi Sheilla juga tidak bisa menjamin ia akan sadar setelah meminum minuman itu sehingga ia bisa meminta pertolongan kepada sang suami atau justru langsung tepar dan tentunya ia hanya bisa pasrah dan menyesali semuanya yang sudah terjadi nanti. Tapi karena Sheilla tak ingin membahayakan dirinya sendiri, ia berusaha untuk menolak tawaran yang diberikan Raider.


"Saya tadi kan sudah bilang, kamu tidak perlu sungkan dengan saya, Sarah. Jadi katakan kamu mau minum apa?" Raider masih berusaha memaksa Sheilla.


"Tidak perlu tuan. Saya belum merasa haus untuk sekarang."


"Ayolah Sarah. Saya merasa tak enak kalau saya tidak memberikanmu minum. Kamu kan tamu saya sekarang. Jadi mau ya, demi melegakan hati saya," ucap Raider masih kekeuh ingin memberikan Sheilla minuman.


Sheilla tampak terdiam, kalau Raider terus memaksanya seperti ini. Mau tak mau Sheilla harus mengiyakan ucapan dari Raider bukan? Toh walaupun nanti Raider memberikan dirinya minuman, ia juga tidak akan meminumnya.


"Sarah. Heyyy kamu baik-baik saja kan?" Raider melambaikan tangannya tepat di depan wajah Sheilla yang tengah melamun itu.

__ADS_1


Mata Sheilla mengerjabkan matanya, sebelum senyumannya kembali mengembang.


"Ya tuan saya baik-baik saja. Maaf tadi sempat melamun," ucap Sheilla yang diangguki mengerti oleh Raider.


"Tidak apa-apa Sarah. Kelihatannya kamu juga tengah menghadapi suatu masalah yang besar. Kalau kamu mau cerita tentang masalah kamu, cerita saja sama saya karena saya merupakan pendengar yang baik. Tapi kamu harus mengatakan terlebih dahulu, kamu mau minum apa?" Sheilla tampak menghela nafasnya.


"Baiklah kalau tuan tetap memaksa. Saya hanya bisa menyerah, tuan. Saya akan minum apapun selagi tuan yang membuatnya sendiri," kata Sheilla. Tentunya ada rencana tersembunyi di balik ucapannya yang kelewat berani itu. Tentu saja ia akan melancarkan aksinya dengan membobol keamanan perusahaan itu ketika Raider berhasil ia keluarkan dari ruangan ini.


Tanpa ada keraguan sedikitpun Sheilla menganggukkan kepalanya. Dimana hal tersebut membuat Raider menghela nafas sebelum dirinya berdiri dari posisi duduknya dengan melonggarkan dasi yang melilit lehernya.


"Baiklah kalau begitu. Kamu tunggu disini. Saya akan membuatkan kamu minuman. Dan bersyukurlah kamu karena kamu satu-satunya orang yang berani menyuruh saya dan berhasil membuat saya bergerak mengikuti perintah kamu," ujar Raider yang hanya di balas cengiran oleh Sheilla.


"Kalau begitu tunggu disini. Jangan kemana-mana, kamu mengerti?" Sheilla menangguhkan kepalanya.

__ADS_1


Raider yang melihat anggukan kepala Sheilla, ia tersenyum dan dengan mencolek hidung Sheilla, ia berucap, "Good girl. Saya keluar dulu."


Lagi dan lagi Sheilla menganggukkan kepalanya.


Raider kini berjalan menuju pintu keluar ruangan kerjanya, meninggalkan Sheilla yang saat ini tengah mengusap-usap hidungnya. Seakan-akan hidungnya baru saja terpapar virus berbahaya setelah di sentuh oleh Raider tadi.


"Cih najis banget. Hidungku di sentuh sama laki-laki jahanam itu. Sialan," umpat Sheilla masih mengusap-usap hidungnya sampai memerah. Namun tak urung ia segara beranjak dari posisi duduknya, berjalan mendekati meja kerja Raider untuk melancarkan aksinya yang sudah tersusun rapi di kepalanya.


Saat Sheilla sudah menghadap ke arah laptop Raider dengan salah satu tangannya ingin menancapkan flashdisk di laptop tersebut tiba-tiba...


Kretttt!


Pintu ruangan tersebut terbuka.

__ADS_1


__ADS_2