The Dark Love

The Dark Love
50. Perintah Vina


__ADS_3

Vina kini telah keluar dari kamarnya dengan balutan dress berwarna nude yang baru saja di belikan oleh Digo tentunya. Dan dengan senyum yang mengembang ia melangkahkan kakinya menuju ke kamar Digo berada.


Tok tok tok!


Vina mengetuk pintu kamar bercat hitam itu namun 3 kali ketukan tak membuat pintu di hadapannya segera terbuka.


Vina tak menyerah begitu saja, dengan senyum yang masih merekah, ia kembali mengetuk pintu tersebut.


Tok tok tok!


Vina menunggu beberapa saat, tapi ternyata masih saja tak ada tanda-tanda jika pintu itu akan terbuka. Dan hal tersebut membuat dirinya kini berdecak sebal.


"Ck, kemana sih dia? Kenapa lama sekali buka pintunya? Apa jangan-jangan dia lagi mandi seperti tadi pagi saat aku mengantar makanan untuk dia? Hmmmm sepertinya memang begitu. Baiklah aku akan tunggu beberapa saat lagi," gumam Vina. Lalu setelahnya ia menyandarkan tubuhnya di tembok samping pintu kamar Digo. Ia akan menunggu beberapa saat lagi karena ia menganggap jika Digo tengah melakukan ritual mandi dan ia tak mau mengganggunya lagi seperti tadi pagi.


Tak terasa waktu cepat berlalu dan Vina telah menunggu di depan kamar Digo selama 30 menit.


"Udah selesai kali ya acara mandi dia?" Gumamnya sembari melihat jam tangan kecil yang melingkar di tangannya. Kemudian ia kembali berdiri, berhadapan dengan pintu kamar tersebut lalu tangannya bergerak untuk mengetuk pintu tersebut.


Tok tok tok!


1 detik 2 detik hingga 5 menit pintu itu tak kunjung terbuka.


"Ck, aku nunggu dia sudah 30 menit lamanya lho. Masa dia belum selesai juga mandinya? Apa jangan-jangan dia malah tidak ada di kamarnya sekarang? Ohhhh astaga kenapa otakku yang cantik ini tidak kepikiran tentang hal itu sih. Kalau benar dia tidak ada didalam sana, sia-sia sudah aku menunggu selama 30 menit disini," gerutu Vina merutuki dirinya sendiri.


"Terus kalau begini aku harus cari dia dimana? Apa dia sekarang ada di lantai utama rumah ini? Sepertinya memang iya. Baiklah aku akan mencarimu, Digo," ucap Vina lalu setelahnya ia beranjak dari depan pintu kamar Digo menuju ke lift di rumah tersebut.


Sesampainya Vina di lantai utama dan ia tak mau jika kejadian tadi pagi terulang lagi, lebih baik ia mencari salah satu maid di mansion Digo ini untuk ia tanyai.


Vina mengedarkan pandangannya, hingga matanya terhenti di dua objek yang tak jauh darinya.

__ADS_1


Dengan langkah anggun bak model ternama, Vina mendekati ojek yang ia lihat tadi. Dan objek itu adalah bik Nah dan Sheilla yang tengah memasak di dapur dengan sesekali mereka saling bercengkrama.


"Ehemmm," dehem Vina yang membuat bik Nah dan Sheilla menolehkan kepala mereka ke sumber suara. Dan betapa terkejutnya mereka saat melihat Vina tengah berdiri tak jauh dari posisi mereka saat ini dengan kedua tangan terlipat di depan dada.


Bik Nah dan Sheilla, mereka berdua bergegas mendekati Vina.


"Ada yang bisa saya bantu Nona?" Tanya bik Nah dan Sheilla secara bersamaan.


"Aku sedang tidak membutuhkan bantuan. Aku kesini hanya ingin bertanya kepada kalian berdua. Kalian tau dimana Digo sekarang berada?" Tanya Vina to the point.


Bik Nah dan Sheilla kini saling pandang satu sama lain setelah mereka mendengar pertanyaan dari Vina tadi.


"Ck, kalian ini, tinggal jawab dimana Digo sekarang berada saja lama sekali. Cepatlah katakan dimana Digo sekarang berada. Jangan membuang-buang waktuku yang berharga ini," ucap Vina tak sabaran.


"Tuan Digo tidak ada di lantai ini Nona. Kita berdua sebenarnya juga tidak tau tuan Digo sekarang ada dimana. Dan hanya ada dua kemungkinan jika tuan Digo tidak ada di lantai ini, kemungkinan beliau ada di ruang kerjanya atau kalau tidak ya berada di perpustakaannya," jawab bik Nah.


"Dilantai tiga rumah ini." Vina tampak mengangguk-anggukkan kepalanya setelah dirinya mendengar jawaban dari bik Nah tadi.


"Baiklah kalau begitu, buatkan minuman yang sekiranya sering Digo minum saat bekerja atau minuman yang sering menemani dirinya untuk membaca buku," perintah Vina.


"Baiklah saya akan membuatkannya," ucap bik Nah. Namun saat wanita paruh baya itu ingin kembali masuk kedalam dapur, ucapan dari Vina menghentikannya.


"Tunggu. Biar Sheilla saja yang membuatkan minuman itu," ujar Vina sembari melirik Sheilla yang masih berdiri dihadapannya.


Bik Nah menolehkan kepalanya kearah Sheilla.


"She---" ucapan bik Nah terputus saat Vina kembali berucap.


"Kamu tidak keberatan kan Sheilla membuatkan minuman untuk tuanmu sendiri?" tanya Vina dengan salah satu alis terangkat, menambahkan kesan sadis di wajah cantik perempuan itu.

__ADS_1


Sheilla menghela nafas, kemudian ia menggelengkan kepalanya.


"Saya tidak keberatan Nona," ucap Sheilla.


"Tapi She---"


"Sudah tidak apa bik. Biar Sheilla saja yang membuatkannya," ucap Sheilla. Lalu setelahnya ia bergegas masuk kedalam dapur untuk membuatkan minuman yang sebenarnya Sheilla sendiri juga tidak tau, minuman apa yang sering Digo minum saat kerja atau saat membaca buku seperti saat ini.


"Kopi, teh, atau coklat hangat?" gumam Sheilla sembari menatap kearah 2 macam bubuk kopi dan coklat serta 1 kotak teh celup yang berada di lemari kecil didapur tersebut.


"Atau dia minum susu mungkin?" gumamnya lagi dengan melirik kearah kulkas yang berada di sebelah lemari kecil tadi.


"Ahhhh tapi tidak mungkin jika tuan minum susu saat bekerja. Kalau begitu---"


"Sheilla! Cepatlah!" teriakan dari Vina itu membuat Sheilla menjadi gugup sendiri. Alhasil ia dengan cepat menjatuhkan pilihannya kepada bubuk kopi hitam di dalam lemari kecil tadi. Dan dengan takaran yang sekiranya pas, Sheilla mulai menyeduh kopi tersebut tak lupa ia juga menambahkan gula didalamnya.


"Sheilla!"


"Iya Nona. Sebentar lagi minumannya selesai saya buat," balas Sheilla sembari menaruh segelas kopi yang ia buat tadi keatas nampan. Kemudian setelahnya, ia bergegas mendekati Vina dan bik Nah yang tengah menatap dirinya kemudian tatapan mata dari wanita paruh baya itu beralih ke secangkir kopi yang berada di tangan Sheilla.


"Sheilla, tuan---" Untuk yang kedua kalinya ucapan dari bik Nah diputus begitu saja oleh Vina.


"Kamu lama sekali sihhh. Cuma buat kopi saja sampai bermenit-menit lamanya. Sekarang buruan kamu antar aku ke ruangan Digo!" perintah Vina yang hanya diangguki patuh oleh Sheilla saja.


Dan saat Vina melihat anggukan di kepala Sheilla, ia lebih dulu melangkahkan kakinya menuju kearah lift di lantai tersebut diikuti oleh Sheilla di belakangnya.


Sedangkan bik Nah, ia menghela nafas sekaligus khawatir dengan keadaan Sheilla jika tuannya nanti marah saat laki-laki itu nanti lihat dan mencium apa yang telah Sheilla bawa saat ini.


"Ya Tuhan lindungilah Sheilla dari kemurkaan tuan Digo," ucap bik Nah sembari terus menatap kearah punggung Sheilla yang semakin lama, semakin menjauh dan tak terlihat lagi di penglihatannya.

__ADS_1


__ADS_2