The Dark Love

The Dark Love
168. Alasan Di Balik Rencana


__ADS_3

Papa Devano yang melihat Digo yang sudah mulai memberontak itu ia kini menghela nafasnya. Lalu kemudian ia menatap kearah Bian yang sedari tadi hanya diam. Dan saat tatapan keduanya saling bertemu, Bian menganggukkan kepalanya yang membuat Papa Devano juga membalas dengan anggukkan kepalanya sebelum laki-laki itu kini angkat suara.


"Kamu salah paham Al," ucap Papa Devano yang juga membuat Digo kini terkekeh dengan air mata yang sudah jatuh membasahi pipinya.


Jika yang ia hadapi saat ini adalah musuhnya yang lain, ia pasti sudah membunuhnya tanpa menunggu waktu lama seperti ini. Tapi ini adalah keluarganya. Walaupun dirinya dibuat kecewa dengan fakta yang baru ia tau ini, tapi dia masih punya hati nurani untuk membantai keluarganya sendiri. Bahkan lebih baik ia memilih mereka membunuh dirinya daripada ia yang harus membunuh mereka.


"Salah paham? Di map itu sudah tertulis dengan jelas. Jika anda berempat ini tengah merencanakan pembunuhan kepada saya. Jadi kesalahpahaman itu ada dimana?" teriak Digo.


"Kesalahan Abang karena Abang tidak baca isi map tentang rencana yang sudah di buat oleh Mama, Papa, Aunty Franda dan Uncle Bian sampai selesai. Jika Abang membaca sampai selesai pasti Abang tidak akan menuduh mereka berempat akan melenyapkan Abang dari dunia ini. Jadi lebih baik Abang baca lagi deh isi map itu sampai benar-benar selesai," timpal Kiya yang tiba-tiba saja masuk kedalam kamar inap Sheilla itu.


Dimana ucapan dari Kiya itu diangguki oleh keempat orang yang ada didalam kamar tersebut yang justru membuat Digo semakin bingung saja. Memang benar dirinya belum membaca sepenuhnya isi map tebal yang sekarang berada di tangan Bian itu. Tapi ia bisa menyimpulkan jika memang mereka menginginkan dia mati.


Kiya yang melihat tak ada pergerakan dari Digo pun ia berdecak sebal sebelum dirinya mengambil map dari tangan Bian tersebut, dan membacakan poin yang terdapat dalam isi map itu.


"Jika Abang tidak mau membaca sendiri, biarlah Kiya yang membacakan isi map ini." Kiya tampak mengambil nafas dalam-dalam sebelum ia menyambung ucapannya tadi.

__ADS_1


"Isi map ini mengatakan jika memang Mama, Papa, Uncel Bian dan Aunty Franda bergabung menjadi satu membentuk sebuah komplotan yang mereka beri nama Los Asteriscaz. Mungkin orang-orang yang sudah tau tentang nama itu berpikir jika Los Asteriscaz itu merupakan sebuah komplotan mafia kejam yang dengan sangat tega membunuh orang yang tidak bersalah. Namun mereka salah besar, memang benar Los Asteriscaz ini adalah mafia tapi bukan mafia darah dingin karena mereka tidak akan membunuh jika orang-orang luar tidak mengusik ketenangan komplotan ini. Karena Los Asteriscaz ini hanya fokus dengan satu tujuan mereka yaitu mempertemukan Abang dengan Kak Sheilla."


"Awalnya mereka berempat tidak ingin membuat kompolotan itu dan ingin langsung mempertemukan kalian berdua. Tapi karena Abang yang sangat-sangat anti dengan yang namanya perempuan alhasil dengan berbagai cara mereka berempat akhirnya memutuskan untuk membuat komplotan itu dimana seakan-akan Kak Yoga lah pemimpin dari komplotan ini. Dan dengan terpaksa mereka berempat mempertaruhkan nyawa Kak Sheilla dengan kedok sebagai pembunuh bayaran yang di suruh oleh Kak Yoga untuk membunuh Abang. Tapi dibalik pembunuhan tersebut niat mereka hanya untuk mempertemukan kalian berdua," ucap Kiya dengan berdecak kala dirinya bingung sendiri dengan ucapannya itu.


"Haishhhh yang lebih singkatnya begini. Mereka terpaksa melakukan rencana pembunuhan kepada Abang karena mereka ingin mempertemukan juga menyatukan Abang dengan Kak Sheilla atau Kak Yura kembali. Dahhh itu points pentingnya," ucap Kiya dengan helaan lega setelah ia rasa ucapannya itu sudah cukup membuat Digo paham dengan maksud dari rencana yang dibentuk oleh keempat manusia paruh baya tersebut.


"Jangan gunakan nama Yura untuk menjadi kambing hitam dalam permasalahan ini!" murka Digo.


"Tidak ada yang mengkambing hitamkan Yura, Al. Tapi memang benar apa yang dikatakan oleh Kiya tadi. Rencana kita itu bukan untuk membunuh kamu betulan tapi hanya rencana pembunuhan palsu karena kita mau mempertemukan kamu dengan Yura yang saat ini kamu kenal sebagai Sheilla," timpal Papa Devano yang membuat Digo kini menggelengkan kepalanya.


"Mereka orang yang sama Al. Yura belum meninggal seperti yang kamu tau. Dia sengaja Aunty juga Uncle sembunyikan karena kita tidak mau Yura terluka kembali seperti sebelumnya. Sehingga mau tak mau kita harus memalsukan kematian Yura waktu itu," jelas Franda yang membuat Digo lagi-lagi menggelengkan kepalanya yang sulit untuk menerima semua ucapan dari orang-orang disekitarnya. Ia benar-benar bingung, marah, kecewa menjadi satu. Ia ingin sekali percaya namun pikirannya seakan-akan menolak untuk mempercayainya.


Hingga dirinya yang sedari tadi membelakangi brankar Sheilla pun ia merasakan jika lengannya tengah di pegang oleh seseorang dari belakang dengan suara seseorang yang sangat ia kenali.


"Al," panggil orang tersebut yang dengan cepat membuat Digo menolehkan kepala kearah Sheilla.

__ADS_1


Dimana saat dirinya menatap wajah Sheilla, perempuan itu tengah tersenyum kepadanya. Dan hal tersebut membuat Digo langsung memeluk tubuh kekasihnya itu. Ia benar-benar membutuhkan ketenangan saat ini juga.


"Apa ada yang sakit sayang? Katakan!" ucap Digo masih belum mau melepaskan pelukannya dari Sheilla.


"Tidak. Aku sudah baik-baik saja, Dear. Dan perlu kamu tau dan percaya jika apa yang dikatakan oleh Kiya, Papa Devano, Bunda Franda dan semua orang yang ada di sini. Semua yang mereka katakan tadi adalah sebuah kebenaran, Dear. Aku adalah Yura, sahabat masa kecil kamu itu," tutur Sheilla yang membuat Digo otomatis melepaskan pelukannya tadi dengan keterkejutannya.


Tapi bukan hanya Digo saja yang terkejut setelah mendengar ucapan dari Kiya tadi, melainkan semua orang yang ada di sana. Hingga akhirnya Franda kini mendekati brankar Sheilla.


"Sayang. Apa kamu sudah mengingat semuanya?" tanya Franda yang membuat Sheilla mengalihkan pandangannya kearah Franda dengan mata yang berkaca-kaca.


"Bunda," ucap Sheilla.


"Yura merindukan Bunda," sambung Sheilla yang membuat Franda kini langsung berhambur ke pelukan sang putri yang terpaksa ia kucilkan itu. Dan hal tersebut otomatis membuat Digo menyingkir dari samping brankar kekasihnya itu dengan kebingungan yang masih melanda dirinya.


Sebelum saat dirinya ingin beranjak dari kamar inap tersebut, lengannya lebih dulu dicekal oleh Papa Devano.

__ADS_1


"Jangan pergi. Masih banyak hal yang akan kita jelaskan ke kamu. Kamu boleh marah sama Mama, Papa atau kita semua yang sudah menyembunyikan fakta ini. Tapi nanti setelah kamu benar-benar mendengar cerita sampai akhirnya sebuah rencana yang di katakan oleh Kiya tadi harus kita lakukan kepadamu," ucap Papa Devano yang ingin sekali Digo lepas cekalan dari sang Papa itu, tapi karena cekalan yang diberikan sang Papa sangat erat ia tak bisa melakukannya. Toh sebenarnya didalam lubuk hatinya yang paling dalam ia juga penasaran kenapa mereka harus memalsukan kematian Yura dan mengganti identitas Yura menjadi Sheilla. Dan masih banyak lagi pertanyaan yang mungkin akan terjawab saat dirinya menuruti perintah dari Papa Devano tadi.


__ADS_2