The Dark Love

The Dark Love
227. Kambing Hitam


__ADS_3

Saat Bomi telah bergabung, ia mencari salah satu rekannya yang akan ia jadikan kambing hitam dalam permasalahan ini. Ia tersenyum kala targetnya yang sedari tadi ia cari akhirnya muncul juga.


Bomi segara mendekati orang itu masih dengan nampan yang berisi 4 gelas minuman ditangannya.


"Rivan." Seseorang yang merasa dirinya tengah dipanggil pun ia menolehkan kepalanya kearah sumber suara dengan salah satu alisnya yang terangkat kala dirinya sudah melihat jika orang yang memanggilnya itu adalah Bomi.


"Kenapa?" tanyanya kala Bomi sudah berdiri dihadapannya.


"Aku mau minta tolong ke kamu dong. Tolong antar minuman ini ke tuan Digo, tuan Henry, Nyonya Sheilla dan Nyonya Monik. Tadi mereka meminta minuman ini kepadaku," ujar Bomi menjelaskan maksud dirinya memanggil Rivan.


"Lah kan kamu yang di perintahkan, kenapa harus minta aku yang antar ke mereka? Harusnya kamu sendiri dong yang antar," ucap Rivan yang membuat Bomi berdecak.

__ADS_1


"Ck, aku tidak bisa mengantarnya Van, perutku sangat-sangat mulas. Kalau aku antar minuman ini terlebih dahulu ke mereka, takutnya aku nanti buang gas di kerumunan semua tamu undangan yang berakhir aku membuat malu tuan Digo dan tuan Henry. Kalau aku harus ke toilet dulu, aku takut nanti mereka akan murka kepadaku dan kasihan juga kan kalau mereka harus menunggu minumannya, bisa-bisa mereka nanti mati karena dehidrasi lagi dan yang di salahkan nanti aku. Jadi untuk menghindari itu semua, aku minta tolong ke kamu ya. Tolong antar minuman ini ke mereka. Please, aku mohon," tutur Bomi dengan tampang yang ia buat memelas.


Rivan tampak menatap wajah Bomi sebelum tatapannya itu berpindah ke minuman yang ada di nampan tersebut sebelum dirinya kini menganggukkan kepalanya.


"Oke. Kalau gitu aku bantu kamu untuk antar minuman ini ke mereka," kata Rivan sembari menerima nampan yang sudah di sodorkan oleh Bomi tadi kepadanya.


"Nah gitu dong dari tadi. Kalau gitu, aku ke toilet dulu. Thanks ya sudah mau bantu aku," ucap Bomi dengan menepuk-nepuk punggung Rivan namun sebelumnya tangannya itu ia gunakan untuk memindahkan botol racun yang tadi ia simpan di saku celananya ke saku celana milik Rivan.


Karena sangat sulit menemukan satu orang yang tidak terlalu menonjol di kerumunan orang-orang seperti ini. Apalagi baju yang tengah menjadi target pengawasan mereka memakai pakaian yang sama dengan puluhan anak buah Digo maupun Henry yang terus berlalu-lalang di sekitar mereka.


"Apa kamu sudah menemukan keberadaan dia?" bisik Sheilla dengan mencondongkan tubuhnya agar lebih mendekat kearah Digo.

__ADS_1


Digo tampak menghela nafas kemudian ia menggelengkan kepalanya.


"Ck, kemana sih perginya dia? Kenapa kita bisa kecolongan juga tadi? Astaga," ucap Sheilla masih dengan suara lirihnya dengan sesekali ia tersenyum kala ada beberapa tamu undangan yang melewati mereka dan menyapanya.


"Tenangkan diri kamu, sayang. Kita coba saja tanya Henry dan Monik. Siapa tau mereka tidak kehilangan jejak si penghianat itu," balas Digo dengan memberikan usapan lembut di kepala Sheilla. Dimana ucapan Digo tadi diangguki oleh perempuan tersebut. Lalu saat mereka berdua berniat mendekati Henry dan Monik, suara seseorang menghentikan langkahnya.


"Tuan Digo dan Nyonya Sheilla," ucap orang tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah Rivan.


Sheilla dan Digo dengan serempak mereka menolehkan kepalanya kearah sumber suara. Digo memincingkan alisnya yang tentunya untuk mewakili dirinya bertanya. Sedangkan Sheilla, ia berucap, "Ada apa, Van?"


Rivan semakin mendekati mereka berdua, lalu setelah dirinya berhadapan dengan dua bosnya itu ia menyodorkan nampan berisi empat gelas minuman kehadapan mereka sembari berkata, "Silahkan diminum Tuan dan Nyonya."

__ADS_1


__ADS_2