
Perempuan itu yang masih saja sibuk mengumpat, umpatnya terhenti saat ia merasakan sebuah tepukan di bahunya. Ia perlahan menolehkan kepalanya ke arah pemilik tangan yang masih bertengger di bahunya itu.
"Nama? Asal negara?" ucap orang yang menepuk bahunya tadi.
"Hah?"
"Nama anda siapa? Dan anda dari negara mana? Jangan membuang-buang waktu saya," tutur orang tersebut yang ternyata adalah Henry dengan wajah yang masih kusut karena baru bangun dari mimpi indahnya.
"Untuk apa kamu tanya namaku dan negara asalku? Siapa kamu? Berani-beraninya mau berkenalan denganku?" tanya perempuan itu secara beruntun.
Henry memutar bola matanya malas.
"Saya orang yang ikut tuan Digo menolong anda tadi malam. Jadi cepat katakan nama dan negara asal anda sekarang!"
Perempuan itu tampak mengatupkan bibirnya, ia terkejut dengan ucapan Henry tadi.
"Ohhhh jadi kamu laki-laki yang ikut menolongku tadi malam? Ahhhh aku mau berterimakasih kepadamu karena sudah ikut menolongku. Terimakasih ya dan maaf aku sudah lupa dengan wajahmu," ucap perempuan tersebut dengan senyum di bibirnya.
"Saya tidak butuh kata terimakasih dan maaf dari anda itu. Karena yang saya butuhkan itu nama dan negara asal anda saja. Cepat lah jangan menunda pekerjaan saya," ujar Henry dengan tegas.
"Ahhhh baiklah-baiklah. Nama saya, Vina. Alvina Ayudia. Negara asal saya Indonesia," tutur perempuan tersebut sembari mengulurkan tangannya.
Henry menganggukkan kepalanya lalu tanpa membalas uluran tangan dari perempuan tadi ia memutar tubuhnya dan segera beranjak dari hadapan perempuan tersebut yang tengah mengepalkan tangannya begitu erat.
"Tampan sih tapi sombong. Cihhh," gumam perempuan tersebut yang sepertinya hari ini ia harus memperbanyak kesabarannya menghadapi orang-orang dirumah ini yang ia anggap sangat angkuh dan sombong kecuali Digo yang masih ia pandang laki-laki yang sangat baik karena telah membantunya keluar dari mara bahaya terutama laki-laki itu juga sudah menyembuhkan luka di kakinya. Dan karena otaknya saat ini tengah memikirkan Digo, tanpa ia sadari sebuah senyuman kini terukir di bibirnya.
Sedangkan Henry yang baru saja sampai di kamarnya, ia membanting pintu tersebut dengan kasar.
"Sialan, hari cuti masih saja di suruh kerja. Huh," keluh Henry sembari membanting tubuhnya sendiri diatas ranjang. Kemudian tangannya bergerak mengambil ponsel yang berada diatas nakasnya untuk menelepon salah satu anak buahnya.
"Cari tau tentang identitas seorang Alvina Ayudia dari Indonesia sekarang juga. Dan secepatnya cari barang-barang dia yang hilang di bandara," perintah Henry kala sambung telepon terhubung.
Dan tanpa menunggu persetujuan dari anak buahnya, Henry lebih dulu menutup sambungan telepon tersebut sebelum dirinya kembali menutup matanya yang masih saja mengantuk itu. Dan tak berselang lama ia sudah berada di alam mimpi.
Sedangkan disisi lain, Digo dan Sheilla kini telah sampai disalah satu mall terbesar di kota yang mereka tinggali saat ini.
__ADS_1
"Tuan, kita kesini mau ngapain?" tanya Sheilla setelah keduanya keluar dari mobil pribadi Digo.
"Saya rasa kamu tau kita kesini mau apa. Jadi tak perlu bertanya lagi. Jalan sekarang!" perintah Digo sembari melangkahkan kakinya masuk kedalam area mall tersebut diikuti Sheilla dibelakangnya.
Namun baru beberapa langkah saja, Digo mengentikan langkahnya secara tiba-tiba dan hal tersebut membuat Sheilla yang tadi berjalan sembari mendudukkan kepalanya, menabrak punggung lebar laki-laki itu.
"Aduhhh," rintih Sheilla sembari mengusap keningnya. Digo yang mendengar rintihan itu pun ia segera membalikkan tubuhnya dan menatap wajah Sheilla lalu tangannya ikut bergerak untuk mengelus kening Sheilla.
Sheilla yang mendapat elusan di keningnya itu pun tubuhnya terasa membeku ditempat dengan detak jantung yang lagi-lagi berdetak tak normal.
"Kalau begini terus-menerus aku tidak menjamin kalau jantungku akan terus aman didalam sana. Aku takut karena aku sering deg-degan seperti ini, jantungku akan merosot sampai ke lutut," batin Sheilla dengan mata yang terus menatap kearah wajah Digo.
Digo yang lagi-lagi melihat keterbengongan Sheilla pun ia dengan gemas menyentil kening perempuan tersebut.
"Lain kali kalau jalan itu jangan nunduk dan jangan di belakang saya," ujar Digo. Dan setelah mengucapkan hal tersebut, Digo meraih tangan kanan Sheilla untuk ia genggam.
"Tu---tuan." Digo melirik sekilas kearah Sheilla yang menatap kearah tangannya.
"Stttt diamlah Sheilla. Dan jangan panggil saya dengan sebutan tuan jika kita tengah di luar rumah. Kamu cukup panggil nama saya saja. Kamu mengerti?"
"Menolak sama dengan memberi saya satu kecupan," timpal Digo yang berhasil menutup mulut Sheilla yang ingin protes atas permintaan Digo sebelumnya.
Digo yang melihat keterdiaman Sheilla pun ia menyeringai puas atas ancamannya tadi. Lalu setelahnya ia mulai melangkahkan kakinya semakin dalam di mall tersebut tanpa melepaskan genggaman tangannya dari tangan Sheilla. Sedangkan Sheilla, perempuan itu hanya bisa pasrah saja dengan perlakuan yang Digo berikan kepadanya itu. Jika ia ingin menolak pun nanti justru akan merugikan dirinya sendiri.
Mereka berdua terus melangkahkan kakinya hingga Digo membawa dirinya masuk kedalam sebuah toko elektronik yang ada didalam mall tersebut.
"Pilih yang kamu mau," ucap Digo.
"Hah maksud tuan?" tanya Sheilla yang masih tak mengerti dengan tujuan Digo mengajaknya masuk kedalam toko elektronik tersebut.
"Pilih ponsel apa yang kamu mau Sheilla. Jangan menguji kesabaran saya dengan kepura-puraanmu yang tak paham maksud saya," geram Digo yang ingin sekali menerkam Sheilla diatas ranjang. Ehhhh...
"Jadi tuan mau membelikan ponsel untuk saya?"
"Sheilla!"
__ADS_1
"Ohhh oke baik, saya pilih emmmm." Sheilla mengedarkan pandangannya melihat beberapa ponsel yang terpajang di dalam toko tersebut. Matanya melotot saat ia melirik harga salah satu ponsel yang berada di dekatnya.
"Tu---tuan apa tuan tidak salah mengajak saya ke toko ini? Ponsel disini mahal semua tuan. Harganya sama seperti biaya hidup saya selama 1 tahun," ujar Sheilla yang tak enak hati dengan tuannya itu.
Digo berdecak sebal.
"Saya rasa kamu dari tadi protes terus Sheilla. Dan kamu masih ingat bukan dengan perkataan saya tadi jika kamu protes maka satu kecupan yang akan saya dapatkan dari kamu. Dan saya akan tagih kecupan itu ketika kita sudah berada di rumah nanti," ucap Digo.
"Ehhhh kok---"
"Oke dua kecupan." Sheilla memelototkan matanya.
"Tuan---"
"Tiga kecupan. Mau nambah lagi Sheilla?" Sheilla menggertakkan gigi. Sumpah demi apapun Sheilla sangat kesal dengan laki-laki disampingnya ini.
"Kenapa natap saya seperti itu? Kamu mau cium saya disini? Tidak sabar untuk melakukan itu di rumah saja hmmm?" goda Digo dengan seringaiannya.
"Jika memang itu mau kamu, baiklah akan saya turuti," sambung Digo sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Sheilla. Sheilla yang melihat hal tersebut pun ia dengan cepat menolehkan kepalanya kearah lain lalu ia menjauhkan tubuhnya dari tubuh Digo agar laki-laki itu tak mengambil kesempatan mencuri kecupannya lagi.
"Saya pilih yang itu saja tuan," ujar Sheilla sembari menujuk kearah salah satu ponsel yang ia rasa harganya tidak setinggi dengan harga ponsel yang lainnya.
Digo mendengus sebal kala Sheilla menjauh dari dirinya.
Ia mengedarkan pandangannya kearah seluruh toko tersebut lalu setelah ia melihat karyawan yang bekerja di toko tersebut ia langsung memanggilnya dengan jentikkan jarinya.
Karyawan toko yang paham akan kode dari Digo itu ia segera mendekati keduanya.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanyanya kala sudah berada di hadapan dua orang tadi.
"Bungkuskan satu ponsel termahal disini," ujar Digo sembari mengeluarkan sebuah kartu black card-nya dari dalam dompet lalu menyerahkan kepada karyawan toko tersebut.
"Baiklah. Tunggu sebentar ya tuan dan nyonya," ucap karyawan tersebut lalu ia bergegas pergi dari hadapan mereka berdua.
Sedangkan Sheilla, ia melongo mendengar perkataan Digo tadi. Apa-apaan laki-laki itu yang tadi menyuruh dirinya untuk memilih sendiri ponsel yang dia inginkan, tapi setelah ia memilih justru laki-laki itu tak membelikan ponsel yang ia mau tadi dan berakhir laki-laki itu sendiri yang memilihkan untuknya! Jika tau hal ini akan terjadi, Sheilla memilih untuk tak memilih tadi. Ck, menyebalkan!
__ADS_1