The Dark Love

The Dark Love
104. Isi Kartu Terkuras


__ADS_3

Kini tepat pada hari malam weekend, Monik telah rapi dengan kaos polos berwarna putih yang ia lapisi dengan jaket denimnya dan dipadu padankan dengan celana jeans berwarna senada dengan jaket danimnya tadi tak lupa sepatu putih kini terpakai di kaki jenjangnya itu.


Monik menatap tampilan dirinya itu dari pantulan kaca dengan senyum yang mengembang sebelum dirinya kini keluar dari dalam kamar dan bergegas menuju ke lantai dua mansion tersebut untuk menjemput seseorang disana.


Tok tok tok!


Monik mengetuk salah satu pintu yang ada di lantai dua mansion tersebut kala dirinya sudah berdiri didepan kamar itu. Dimana kamar tersebut merupakan kamar milik Vina.


"Nona Vina!" panggil Monik dengan tangan yang terus mengetuk pintu tersebut hingga terdengar sautan dari dalam kamar tersebut.


"Ya tunggu sebentar!" teriak Vina dari dalam kamar tersebut yang membuat Monik langsung menghentikan aksi mengetuknya itu dan dirinya memilih untuk menunggu sampai pintu itu terbuka.


Dan tidak sampai menunggu lama, pintu itu akhirnya terbuka dan menampilkan Vina yang tampak cantik dengan balutan dress berwarna merah muda dipadu padankan dengan sepatu high heelsnya dengan warna yang senada. Jangan lupakan dandanannya yang cukup sederhana karena ia hanya memiliki satu lipstik dan satu buah bedak saja. Namun hal tersebut justru membuat perempuan itu terlihat sangat cantik.


"Wahhhhh cantik sekali," puji Monik yang tak bohong.


Vina yang mendapat pujian dari Monik yang sudah menjadi maid pribadinya itupun ia tersenyum sebelum tangannya kini bergerak untuk mengibaskan rambutnya dengan sangat centil.


"Tentu saja. Kalau tidak cantik bukan Vina namanya," ujar Vina sombong yang justru membuat Monik terkekeh kecil.


"Tepat sekali. Dan saya sangat mensetujui hal itu. Jadi bagaimana? Apakah Nona sudah siap untuk berbelanja?" tanya Monik.


"Tentu. Jadi tunggu apa lagi Monik, let's go kita pergi sekarang," ujar Vina sembari melangkahkan kakinya di ikuti Monik di belakang.


Ya, selama 5 hari ini Monik sangat dekat dengan Vina. Bahkan dia sendiri yang mendedikasikan dirinya sebagai maid pribadi yang siap melayani Vina selama 24 jam. Dan malam ini karena Monik tengah mendapatkan uang gajiannya, dirinya berinisiatif untuk mengajak Vina keluar dari mansion itu hanya sekedar untuk jalan-jalan dan sekalian untuk menghabiskan uang Monik tentunya. Vina yang memang tengah bosan di dalam mansion terus menerus pun ia mensetujui ajakan dari Monik tadi dan berakhirlah mereka sekarang berniat menghabiskan malam weekend ini bersama.


Jangan tanyakan dimana Digo, Sheilla dan Henry saat ini berada karena ternyata mereka bertiga juga tengah menikmati malam weekend mereka masing-masing. Bahkan mereka sudah lebih dulu pergi satu jam yang lalu sebelum Monik dan Vina pergi.


"Tujuan kita kemana dulu?" tanya Monik yang tengah mengendarai mobil yang tentunya milik Digo itu.


"Hmmm bagaimana kalau kita ke daerah yang dekat-dekat dengan Eiffel tower saja. Disana kita bisa jalan-jalan sekaligus bisa berbelanja barang-barang branded," ujar Vina dengan binar mata bahagianya. Maklum saja ia sudah lama tak menghambur-hamburkan uang lagi setelah tinggal di mansion milik Digo itu.

__ADS_1


"Eiffel tower ya hmmmm boleh juga. Kalau begitu let's go kita kesana," ucap Monik dengan menambah kecepatan laju mobil yang tengah ia kendarai itu.


45 menit lamanya didalam perjalanan akhirnya mereka berdua kini telah sampai di tempat tujuan mereka.


"Mau jalan-jalan dulu atau mau belanja dulu Nona?" tanya Monik yang benar-benar terlihat seperti seorang bawahan yang berniat untuk mengambil hati atasannya itu.


"Lebih baik kita belanja dulu saja, sebelum pusat perbelanjaan tutup semua nanti." Monik yang mendengar jawaban dari Vina itu pun ia menganggukkan kepala dan setelahnya ia mengikuti kemanapun langkah Vina itu pergi.


Dan tujuan perempuan itu adalah ke sebuah toko dengan merk terkenal yang sangat melejit di dunia sosialita. Monik yang melihat tempat tujuan Vina itu ia sempat menelan salivanya sendiri karena ia tau harga di toko tersebut tak ada yang murah sama sekali. Bahkan tangannya kini bergetar hebat saat matanya melirik salah satu harga sebuah tas yang mencapai puluhan juta itu.


"Bangkrut sudah aku hari ini," batin Monik menangis.


Dan saat dirinya terus di buat shock dengan harga-harga fantastis itu, suara Vina membuat dirinya kini langsung menolehkan kepalanya kearah sumber suara.


"Monik sini," ucap Vina sembari melambaikan tangannya agar Monik segara mendekati dirinya.


"Menurut kamu tas ini bagus tidak," ujar Vina kala Monik sudah berdiri didepannya itu dengan tangan yang kini memperlihatkan sebuah tas yang menarik dimata Vina tentunya.


"Beneran ini bagus?" Monik menganggukkan kepalanya.


"Kalau memang bagus aku mau ambil tas inilah. Tolong dibayar ya Monik sayang," ucap Vina dengan menyerahkan tas tadi ke tangan Monik.


"Aku tunggu kamu bayar itu sambil lihat-lihat lagi siapa tau ada yang membuat aku berminat untuk membelinya," sambungnya dengan senyum tak merasa bersalah sedikitpun dan setelah mengucapkan hal tersebut ia segara beranjak meninggalkan Monik yang kini menatap dirinya hingga menjauh.


Tatapan Monik kini beralih kearah tas yang ada di tangannya itu.


"Berapa harga tas ini?" gumamnya dan saat dirinya melihat harga di tag tas tersebut, hampir saja ia pingsan karena shock berat dengan harganya.


"Selamat Monik, uang tabungan kamu hari ini akan terkuras habis," ucap Monik dengan melangkahkan kakinya yang terasa lemas itu ke arah kasir di toko tersebut.


Ia menatap sebuah kartu yang ada ditangannya itu dengan mata yang sudah berkaca-kaca ingin menangis setelah dirinya membayar tas pilihan Vina tadi.

__ADS_1


"Uang 3 ribu euro hilang dalam sekejap mata," gumam Monik yang ingin sekali menangis saat itu juga.


Sedangkan Vina yang melihat Monik sudah membayar tasnya pun dengan senyumannya ia mendekati Monik.


"Kamu sudah membayarnya?" Monik menegakkan kembali kepalanya sebelum kepalanya itu mengangguk.


"Baiklah kalau gitu kita lanjut ke toko yang selanjutnya," ujar Vina dengan excited. Dan tanpa menunggu persetujuan dari Monik, ia lebih dulu keluar dari toko tersebut. Dan hal tersebut membuat Monik kini menghela nafas panjang sebelum dengan langkah beratnya ia mengikuti Vina.


Vina terus berbelanja dari satu toko ke toko yang lainnya hingga membuat Monik benar-benar tekor karena disetiap perempuan itu masuk pasti membawa satu barang belanjaan.


Dan karena Monik sudah benar-benar tak tega melihat isi kartunya di kuras oleh Vina akhirnya ia kini buka suara.


"Nona, tunggu sebentar," ucap Monik kala Vina berniat untuk masuk ke satu toko lagi.


"Kenapa?" tanya Vina dengan menatap Monik yang berada di belakangnya.


"Begini Nona. Apakah kita bisa istirahat terlebih dahulu. Saya benar-benar capek Nona, saya mau kita istirahat sebentar saja sebelum nanti kita melanjutkan shoppingnya," ujar Monik yang membuat Vina kini terdiam, tampaknya perempuan itu tengah menimang-nimang ucapan Monik tadi sebelum akhirnya ia menganggukkan kepalanya.


"Baiklah aku setuju kalau kita istirahat dulu." Monik yang mendengar hal itu pun ia tersenyum.


"Kalau begitu kita istirahat disana saja Nona. Tapi Nona duluan ya kesananya karena aku mau beli minuman dulu untuk kita berdua," ucap Monik.


"Disitu ya. Oke deh. Aku tunggu kamu disitu dan jangan lama-lama kembalinya."


"Siap. Saya hanya sebentar kok Nona. Saya tinggal dulu ya Nona," ucap Monik sembari memberikan barang belanjaan milik Vina yang tadi ia bawa tadi ke tangan perempuan itu.


Dan hal tersebut tak membuat Vina marah sedikitpun ia justru kini terkekeh melihat kepergian Monik itu.


"Aku yakin dia sebenarnya tidak lelah melainkan dia tidak mau jika aku menghabiskan uangnya lagi. Dan pasti dia bukan hanya pergi untuk mencari minuman saja melainkan ia juga mencari toilet yang akan dia jadikan tempat menangis. Hahahaha Monik-Monik, kamu itu sebenarnya pintar tapi lebih banyak bodohnya. Rasain tuh uang kamu habis terkuras karena aku. Hitung-hitung uangmu itu sebagai ganti saat dulu kamu sering melukaiku," gumam Vina sembari berjalan menuju ke tempat yang Monik tadi tunjuk.


Sedangkan disisi lain, Monik yang sudah membeli minuman pun membuat senyuman di bibirnya terbit seketika. Bukan, bukan karena ia sudah mendapatkan minuman itu melainkan ia senang karena sebentar lagi akan ada sebuah pertunjukan yang sangat menarik.

__ADS_1


__ADS_2