The Dark Love

The Dark Love
06. Dia Sadar


__ADS_3

Dinda yang kini telah selesai mengobati perempuan yang masih setia menutup matanya itu pun ia kini memandang lekat wajah yang penuh luka itu.


"Siapa kamu sebenarnya? Ada hubungan apa kamu dengan Digo?" tanyanya yang ia tujukan kepada perempuan itu walaupun ia tau jika pertanyaannya itu tak akan mendapat jawaban apapun dari perempuan tersebut.


"Apa benar yang diucapkan oleh Henry tadi jika kamu kekasih Digo atau calon istrinya? Tapi tidak mungkin karena aku tau Digo selama ini tidak pernah dekat dengan perempuan manapun kecuali aku," ucapnya penuh dengan keyakinan. Karena memang selama dia kenal dengan Digo, ia tak pernah melihat seorang perempuan pun yang berada di sekitar laki-laki itu bahkan hampir seluruh karyawan di kantornya kebanyakan adalah laki-laki dan untuk karyawan perempuan hanya bisa dihitung dengan jari saja. Jadi besar kemungkinan jika apa yang dikatakan oleh Henry sebelumnya hanya bualan saja bukan sebuah fakta.


Saat dirinya masih menatap lekat wajah perempuan tersebut, ia dikejutkan dengan suara pintu kamar yang terbuka. Dan saat dirinya menolehkan kepalanya, ia bisa melihat Digo yang membuka pintu tersebut.


"Sudah selesai?" tanya Digo sembari berjalan mendekati Dinda yang masih berdiri disamping ranjang.


"Seperti yang kamu lihat. Jika aku sudah berdiri tegak begini maka semua pekerjaanku telah selesai. Semua luka yang ada di tubuhnya sudah aku obati dan untuk peluru yang ada di kakinya, sudah aku keluarkan," jawab Dinda yang diangguki oleh Digo.


Dinda yang melihat anggukan kepala dari laki-laki itu pun ia kini menghela nafas sebelum dirinya kini kembali angkat suara.


"Sebenarnya siapa perempuan ini, Digo?" tanya Dinda penasaran.


Digo yang mendapat pertanyaan itu pun ia mengernyitkan dahinya.


"Untuk apa kamu tanya siapa dia? Itu bukan urusan kamu dan kamu juga tidak perlu tau siapa dia. Tugas kamu disini hanya mengobati luka-luka di tubuhnya tidak lebih dari itu. Dan jika tugasmu itu sudah selesai, silahkan keluar dan kembalilah bekerja ditempat yang semestinya," ucap Digo yang membuat Dinda berdesis tak terima dirinya diusir begitu saja oleh sang tuan rumah.


"Tega sekali kamu mengusirku begitu saja setelah aku membantu kamu untuk mengobati luka perempuan ini," ujar Dinda.


Digo yang mendapat omelan dari Dinda itu hanya terdiam namun tangannya bergerak aktif diatas layar ponselnya.

__ADS_1


"Biaya pengobatan sudah saya transfer. Dan silahkan keluar sekarang juga karena saya sedang tidak ingin berdebat denganmu," tutur Digo sembari menggeser tubuhnya untuk memberi ruang agar Dinda bisa segara pergi dari kamar tersebut.


Dinda menggeram kesal dan karena Digo tak mau melihatnya lama-lama disana maka mau tak mau dirinya bergegas keluar dari kamar tersebut dengan menghentak-hentakkan kakinya.


Setelah Dinda keluar dari kamar tersebut, Digo kembali mengalihkan pandangannya kearah perempuan itu dengan tatapan datar nan dingin. Dan tatapan itu hanya berselang beberapa saat saja sebelum dirinya kini beranjak dari samping ranjang tersebut menuju ke pintu kamar.


"Kalian berdua jaga dia didalam. Jika saat dia nanti sudah sadar dan melakukan hal yang membahayakan, panggil saya," ujar Digo saat ia sudah keluar dari dalam kamar tersebut.


Dua maid yang tadi membantu Digo membersihkan bekas darah di tubuh perempuan itu juga membuka kedok perempuan itu dari perban di dada hingga rambut palsu yang entah kenapa tak pernah Digo sadari dari awal pun keduanya kini menganggukkan kepalanya dengan patuh. Kemudian mereka berdua bergegas masuk kedalam kamar, menunggu tawanan bos mereka sadar.


"Dan untuk kalian, tetap disini. Jangan biarkan ada keributan didalam nanti," ujar Digo kepada dua anak buahnya yang ia tugaskan menjaga pintu kamar tersebut.


"Siap bos!" tutur keduanya dengan serempak.


...****************...


Dipagi harinya, perempuan yang sedari kemarin senantiasa memejamkan matanya. Kini mata cantik itu perlahan mulai terbuka. Ia mengerjabkan matanya berkali-kali untuk menyesuaikan penglihatan. Hingga setelah penglihatannya mulai normal, ia mengedarkan pandangannya ke segala arah.


"Ini dimana? Apakah aku sudah ada di surga? Ahhhh tapi tidak mungkin disurga suasananya seperti di rumah begini. Dan ini kenapa ada dua perempuan yang tertidur di samping ranjang begini. Apa mereka tidak pegal dengan posisi tidur seperti itu? Ah satu lagi, tangan aku juga tengah di infus. Dan mana mungkin infus ada disurga. Tapi terakhir kali kan aku di kurung di ruangan pengap yang menyeramkan itu, disiksa habis-habisan oleh orang-orang sialan itu. Ck, menyebalkan. Kenapa juga aku bisa ketahuan secepat itu sih? Haishhhhh. Tapi tunggu," ucapan dari perempuan itu tergantung saat ia melihat pakaian yang ia kenakan sangat berbeda dengan pakaian yang ia pakai sebelumnya dan rambut palsunya itu juga sudah tak ia pakai lagi.


"Apa dia sudah membebaskan aku dari kurungan laki-laki ganas itu?" otaknya terus saja bertanya-tanya hingga salah satu maid itu terbangun dari tidurnya.


"Ah nona sudah bangun rupanya," ujar maid tersebut sembari berdiri dari posisi tidurnya.

__ADS_1


"Nona perlu apa? Biar saya ambilkan," ucapnya lagi yang membuat perempuan tersebut mengerutkan keningnya. Sejak kapan dirinya diperlakukan seperti tuan rumah seperti ini oleh seseorang yang ia yakini adalah pekerja di rumah yang entah rumah milik siapa ini.


"Ah saya tidak perlu apa-apa. Saya hanya mau tanya, ini sekarang saya dimana ya?" Maid tadi tersenyum ramah kearahnya sebelum maid itu menjawab pertanyaan darinya.


"Nona masih berada di kediaman tuan Digo." Jawaban dari maid tadi otomatis membuat mata perempuan tadi melebar sempurna.


"Apa!" teriak perempuan tersebut yang membuat satu maid lainnya yang tadi masih tertidur pulas kini terbangun dan tanpa aba-aba dirinya langsung berdiri tegak.


"Maaf tuan saya tidak akan mengulangi kesalahan saya lagi!" ucap maid yang baru bangun tidur tadi dengan membungkukkan badannya kearah pintu balkon yang otomatis membelakangi temannya dan satu perempuan lainnya yang kini menatap dirinya dengan melongo.


Satu maid yang tadi tenaga berbicara dengan tawanan Digo pun ia kini menepuk keningnya melihat tingkah dari temannya itu. Dan ia kini bergegas menghampirinya.


"Hey. Kamu apa-apaan sih. Yang teriak tadi bukan bos Digo atau bos Henry tapi perempuan yang sejak kemarin kita tunggu. Dan kamu juga bungkuk kearah siapa? Didepanmu tidak ada orang sama sekali," bisik maid tadi yang membuat temannya kini mengerjabkan matanya sebelum dirinya kini menegakkan tubuhnya. Dan saat tubuh itu berdiri tegak, ia baru bisa melihat situasi disekitarnya. Dan karena hal tersebut membuat dirinya kini merutuki kebodohannya itu.


Lalu setelah itu, ia kini memutar tubuhnya hingga matanya bisa melihat perempuan yang kini sudah terduduk diatas ranjang.


"Hehehe, maaf, saya kelepasan Nona," ujarnya yang hanya diangguki oleh perempuan tersebut.


Maid yang baru bangun dari tidurnya itu kini menyenggol lengan temannya lalu ia mendekatkan wajahnya ke telinga temannya itu.


"Apa tuan sudah lihat dia sadar?" tanyanya yang langsung di jawab dengan gelengan kepala oleh temannya itu.


"Ck, kamu itu gimana sih. Kan bos kemarin bilang kalau dia sudah sadar maka kita disuruh lapor ke beliau. Haishhh kamu ini. Ya sudah kalau gitu biar aku saja yang lapor. Kamu tetap disini saja. Jangan kemana-mana," ujarnya dan tanpa menunggu persetujuan dari temannya tadi, maid tersebut bergegas keluar dari kamar itu, tapi sebelum dirinya benar-benar keluar, ia sempat memberikan senyuman manis untuk tawanan bosnya yang sepertinya otaknya masih loading. Tapi biarkan saja, dia tidak akan berurusan lebih dalam lagi dengan perempuan tersebut jika ia masih sayang dengan nyawanya. Dan perempuan itu biar jadi urusan bosnya, dia tak akan ikut campur.

__ADS_1


__ADS_2