
Monik yang sudah menghabiskan minumannya itu kepalanya terasa pening dengan tubuh yang mendadak terasa sangat panas.
"Astaga. Apa yang terjadi denganku? Kenapa kepalaku sangat pusing dan Arkkhhhhhhh badanku sangat-sangat panas sekali. Aku butuh air dingin," ucap Monik kelabakan sendiri yang kini tengah berlari menuju ke dapur mansion tersebut.
Tak hanya Monik saja yang kini tengah merasa pening serta rasa panas di tubuhnya itu, melainkan ada Henry yang juga merasakannya. Bahkan saking rasa panas yang ia rasakan membuat dirinya melepaskan beberapa kancing piyama yang tengah ia gunakan itu. Namun bukannya rasa panas itu hilang justru tubuhnya semakin lama semakin panas saja.
"Astaga. Apakah yang aku rasakan ini adalah efek dari musim panas? Ya Tuhan demi apapun ini sangat panas. Aku harus segera menghilangkan rasa panas ini dengan berendam," gumam Henry sebelum dirinya kini berdiri dari duduknya itu dan memutuskan untuk masuk kembali kedalam mansion tersebut tak lupa ia membawa gelas yang sudah habis isinya itu untuk ia kembalikan.
Henry menggelengkan kepalanya saat rasa pening dan panasnya kini menjalar ke sesuatu yang ada di bawah sana.
"Ahhhhh shitt. Ini tidak benar. Minuman yang aku minum tadi pasti sudah di taruh obat perangsang. Arkhhhh sialan!" geram Henry yang baru menyadari jika apa yang tengah ia rasakan saat ini bukanlah efek dari musim panas, melainkan efek obat perangsang.
Namun sebisa mungkin Henry harus menahan rasa ingin menyentuh seorang perempuan saat ini juga. Hingga saat dirinya sampai di dapur betapa terkejutnya dia saat melihat tubuh seorang perempuan yang sudah terduduk di atas lantai dengan kancing baju yang hampir terlepas semua hanya tersisa dua di bawah saja. Dan jangan tanya siapa perempuan itu jika bukan Monik orangnya.
Bahkan tatapan perempuan itu sekarang sudah sangat berbeda. Jika di hari-hari biasanya ia menatap dengan tatapan tajam, sekarang tatapan itu berganti dengan tatapan penuh napsu.
Monik yang tau jika ada seseorang tengah masuk kedalam dapur pun ia kini menengadahkan kepalanya dengan tatapan sayunya, seakan-akan tatapan mata itu meminta pertolongan ke orang yang ia lihat saat ini. Sebelum ia kini berdiri dari duduknya kemudian segera menghampiri Henry yang tengah berdiri dengan kabut napsu dimatanya. Apalagi saat ia melihat buah dada Monik yang menyembul di balik BH perempuan itu.
Dan saat Henry ingin kehilangan kesadarannya itu ia langsung menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Tahan Henry tahan. Nakal boleh tapi jangan sampai merusak anak orang," batin Henry terus mengingatkan dirinya sendiri agar tak terlena.
Bahkan saat Monik mendekati dirinya, Henry memundurkan langkahnya. Begitu terus hingga Henry terpojok di tembok dapur tersebut.
"Monik sadar. Jangan kesini saya mohon. Jika kamu kesini saya tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Please Monik berhenti sekarang!" ucap Henry yang benar-benar takut jika dirinya lepas kendali disaat napsunya sudah hampir menguasai dirinya sepenuhnya itu.
"Tuan Henry badan saya panas. Tolong bantu saya," ujar Monik dengan melepaskan dua kancing yang tersisa tadi lalu setelahnya ia menanggalkan bajunya itu begitu saja yang membuat Henry gelagapan sendiri sekarang.
Dan saat tangan Monik ingin melepas kaitan BH-nya dengan cepat Henry mendekat kearahnya lalu kemudian ia mengambil baju yang tergeletak di atas lantai tersebut dan setelahnya tangannya bergerak untuk menutupi tubuh Monik itu. Namun sayangnya Monik sekarang justru memeluk tubuh Henry dengan sangat erat. Dan hal tersebut memancing Henry untuk menyentuh tubuh Monik itu.
"Tuan saya mohon bantu saya. Saya benar-benar tidak kuat," ucap Monik dan tanpa Henry duga-duga, setelah Monik mengucapkan perkataannya tadi Monik langsung menyambar bibir Henry. Mencium bibir laki-laki itu hingga akhirnya Henry yang mati-matian menahan napsu tadi terlena juga.
Semakin lama ciuman itu semakin panas hingga sesekali membuat Monik mengeluarkan suara laknat kala tangan Henry dengan nakalnya mempermainkan buah dadanya dengan mencium area leher Monik itu.
Dan ditengah-tengah kegiatan mereka itu, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang mendekat kearah dapur itu. Dan hal tersebut membuat Henry kini mengentikan aksinya, kemudian ia segara menarik tubuh Monik menuju ke arah kamarnya dengan tubuh yang terus memeluk tubuh Monik agar dua gunung kembar perempuan itu tak terekspos begitu saja.
Untungnya selama mereka berdua berjalan menuju ke kamar Henry, tak ada satupun bodyguard ataupun maid yang melihat mereka berdua.
Dan saat pintu kamar Henry baru saja tertutup dan saat Henry ingin bersuara, bibirnya kembali di bungkam oleh bibir kenyal milik Monik itu.
__ADS_1
Henry yang tadi sudah mulai tersadar pun kini terpancing kembali. Hingga tanpa sadar Henry menggendong tubuh Monik menuju ke atas ranjang di kamar tersebut.
Dan jangan ditanya lagi apa yang selanjutnya terjadi diantara dua orang dewasa itu.
Sedangkan di area dapur, bik Nah menghela nafas panjang sebelum wanita paruh baya itu berucap.
"Di sini tidak ada siapa-siapa Ersa," ucap bik Nah dengan menatap kearah gadis yang tengah ketakutan itu.
"Sumpah demi apapun saya tadi dengar suara gaduh dari sini bik," ujar Ersa.
"Tapi kamu lihat sendiri kan kalau disini tidak ada siapa-siapa. Dan keadaan di dapur juga baik-baik saja tidak ada benda yang berpindah tempat. Jadi mungkin kamu tadi salah dengar kali."
"Saya tidak salah dengar bik. Saya benar-benar mendengar ada suara seseorang. Tapi mungkin orang yang membuat gaduh itu sekarang sudah pergi saat saya panggil bibik tadi. Tapi bibik harus percaya dengan ucapan saya ini. Saya tidak bohong sama sekali bik. Saya hanya salah saja saat saya mendengar suara tadi bukannya langsung melihatnya justru malah kabur mencari bibik," ujar Ersa yang masih kekeuh dengan ucapannya itu.
"Baiklah-baiklah bibik percaya sama kamu. Dan selagi keadaan manison ini baik-baik saja. Biarkan orang yang membuat kegaduhan tadi menyelesaikan permasalahan mereka sendiri. Jadi daripada memikirkan hal itu lebih baik kita tidur saja yuk," ajak bik Nah yang memilih untuk mengalah. Dan setelah mengucapkan hal tersebut bik Nah membawa Ersa pergi dari area dapur tersebut.
Sedangkan disisi lain, lebih tepatnya di kamar lantai dua mansion tersebut, Vina terlihat mondar-mandir di dalam sana.
"Terhitung sudah satu jam lamanya kenapa tidak terdengar kegaduhan di manison ini tentang kematian Henry dan Monik. Apa jangan-jangan racun yang aku berikan tadi belum bereaksi? Atau jangan-jangan mereka sebenarnya sudah mati tapi hanya saja belum di ketahui oleh orang-orang di mansion ini. Lagian para maid dan bodyguard pasti juga sudah berisitirahat saat ini. Hmmm kalau memang seperti itu lebih baik aku tidur saja sekarang untuk menyambut hari esok. Dimana di hari itu juga adalah hari duka dan hari pemakaman bagi Monik dan Henry," gumam Vina sembari merebahkan tubuhnya diatas ranjang tidurnya itu dengan senyumnya yang mengembang kala ia membayangkan semua orang di mansion ini akan mengenakan pakaian serba hitam dengan air mata mereka yang deras menetes membasahi pipi mereka semua.
__ADS_1