The Dark Love

The Dark Love
12. Perasaan Aneh


__ADS_3

Malam harinya, Sheilla sudah bertekad dengan ide yang sejak tadi siang sudah ia pikirkan matang-matang. Dan tepat malam ini di jam 12 malam ia akan melancarkan aksinya. Dengan pergerakan pelan tapi pasti Sheilla membuka pintu kamarnya yang sudah rusak karena dobrakan yang dilakukan oleh beberapa anak buah Digo saat membawanya ke dalam kamar setelah ia pingsan gara-gara cekikan dari Digo tadi siang.


Ia mengedarkan pandangannya saat berhasil membuka sedikit pintu kamar tersebut.


"Haishhhhh," desisinya saat ia melihat dua anak buah Digo berada di samping kanan dan kiri pintu kamar tersebut. Dan hal itu membuat dirinya kini menutup kembali pintu kamar tersebut sembari mencari cara agar dua orang itu tak menggagalkan rencana dirinya.


1 menit, 2 menit hingga setengah jam, ia tak menemukan satu pun ide di otaknya.


"Arkhhhh sialan. Ini otak kenapa gak bisa diajak kompromi sih. Kalau terus-terusan gini yang ada rencanaku kali ini gagal dan dia--- arkhhhh gak, gak hal itu tidak akan pernah terjadi. Dan salah satu cara supaya aku bisa melancarkan aksiku hanya melawan mereka berdua dengan kekuatan yang aku punya. Ya, aku harus bisa melawan mereka," gumam Sheilla. Dan karena ia tak bisa mendapatkan ide selain melawan mereka dengan tenaganya, Sheilla kini kembali bergerak untuk membuka pintu tersebut secara perlahan.


Ia tak langsung menyerang keduanya melainkan ia menatap situasi di sekitar sekaligus melihat diantara dua orang itu siapa yang masih dalam keadaan on sepenuhnya maka ia yang pertama kali akan Sheilla hadapi.


Ia tersenyum miring saat situasi di sekitar dua penjaga tadi tampak sepi dan setelah ia menemukan salah satu penjaga yang sudah terkantuk-kantuk juga masih on sepenuhnya. Dan tanpa menunggu waktu lama lagi, Sheilla dengan gesit membuka pintu kamar tersebut selebar-lebarnya lalu dengan cepat ia menyerang satu penjaga yang masih on tadi dengan pukulan yang cukup keras di tengkuk penjaga tersebut. Dan aksinya itu membuat satu penjaga lainnya langsung melebarkan matanya kemudian ia membantu temannya yang sepertinya sudah tak sadarkan diri itu untuk menyerang Sheilla. Tapi baru saja penjaga itu ingin melayangkan pukulannya, Sheilla lebih dulu menendang tepat di dada laki-laki itu hingga tersungkur dan terbatuk.


Sheilla yang melihat kesempatan untuk membuat penjaga itu menyusul temannya agar tak sadarkan diri, Sheilla langsung naik ke atas tubuh penjaga tadi yang tengah terbaring diatas lantai lalu ia memberikan beberapa pukulan tepat di wajah penjaga tadi bahkan beberapa kali juga ia melayangkan beberapa pukulan tepat di dada penjaga tersebut tanpa memberikan celah untuk penjaga itu membalas pukulannya. Hingga akhirnya laki-laki itu menutup matanya. Bukan mati, melainkan pingsan karena ulah Sheilla yang membabi buta.


Sheilla yang sudah berhasil membuat dua penjaga tadi tumbang pun ia langsung menampilkan senyum miringnya, apalagi saat ia melihat ada sebuah pisau lipat yang berada di balik baju laki-laki yang baru saja ia buat pingsan itu. Tangannya kini terulur untuk mengambil pisau lipat tersebut.

__ADS_1


"Gak sia-sia juga aku membuat kamu pingsan. Dan untuk pisau ini aku pinjam dulu sebentar ya. Nanti aku kembalikan setelah aku berhasil membunuh bos kalian," ujar Sheilla sembari menepuk pipi laki-laki yang masih berada di bawahnya sebelum ia bangkit dari posisinya itu. Dan dengan melihat kearah kanan dan kirinya yang ternyata masih aman, ia berlari kecil menuju kearah kamar yang tak jauh dari ruangan yang ia tempati selama dua hari dirinya di kurung di rumah mewah tersebut.


Setelah ia sampai di depan pintu kamar yang ia yakini itu adalah kamar Digo, lagi-lagi ia melihat ke sekelilingnya hingga saat ia pastikan masih aman, tangannya perlahan membuka pintu kamar tersebut. Dan hal pertama yang membuat dirinya terkejut adalah pintu kamar tersebut tak terkunci sama sekali. Namun keterkejutannya itu hanya sesaat sebelum dirinya kini membukakan pintu kamar tersebut dan melihat situasi didalam kamar Digo sebelum nantinya ia akan masuk kedalam.


Ia tersenyum tipis saat dirinya melihat seseorang yang tengah tertidur di atas ranjang kamar tersebut.


"Sebentar lagi kamu akan mati Digo," gumam Sheilla sembari menutup pintu kamar itu setelah dirinya masuk sepenuhnya kedalam kamar bernuansa hitam dengan pencahayaan yang sangat minim karena hanya ada dua lampu tidur yang hidup untuk menemani seorang laki-laki yang tengah tertidur nyenyak.


Dengan langkah perlahan Sheilla mendekati laki-laki yang ia yakini itu adalah Digo dengan tangan yang sudah memegang pisau lipat untuk ia jadikan senjata.


Setelah ia sampai disamping ranjang perlahan dirinya naik hingga dirinya bisa melihat jelas wajah Digo yang tampak damai.


Sheilla yang melihat hal tersebut pun ia tampak terdiam seperti patung. Ia benar-benar terkejut bukan main dengan apa yang barusan ia lihat. Apalagi saat darah ditangan Digo mulai menetes mengenai selimut laki-laki tersebut.


Hingga keterdiaman itu tersadar saat tubuhnya terbanting hingga jatuh telentang diatas ranjang milik Digo dengan laki-laki itu berada diatasnya tanpa melepaskan tangannya dari pisau tadi. Dan dapat Sheilla lihat tatapan Digo kini terdapat kilatan amarah walaupun dengan pencahayaan yang minim.


"Kamu mau membunuh saya, Sheilla?" tanya Digo dengan suara beratnya namun terdengar begitu mengintimidasi.

__ADS_1


"Jawab Sheilla!" bentak Digo yang semakin menatap lekat wajah Sheilla yang berada di bawah kungkungannya.


Sheilla tampak terkesiap mendengar bentakan dari Digo. Entah kenapa hatinya saat ini merasa sangat sakit setelah mendengar bentakan tersebut padahal sebelumnya ia sering mendapatkan bentakan dari seseorang yang berada di belakangnya, namun kenapa rasanya berbeda sekali ketika dirinya di bentak oleh Digo yang notabennya ia tak mengenal dekat dengannya.


"Jawab Arsheilla Anastasya!" Lagi-lagi bentakan dari Digo menggelegar memenuhi kamar tersebut. Dan hal tersebut membuat mata Sheilla berkaca-kaca.


"Ma---maaf." Entah kenapa mulutnya yang sebelumnya menginginkan Digo untuk segara mati kini dengan entengnya meminta maaf kepada seseorang yang hampir ia bunuh itu.


"Sudah saya bilang bukan. Jangan coba-coba melukai saya, jika kamu tidak mau melihat kemurkaan saya," ujar Digo yang mampu membuat Sheilla kini bungkam dengan air mata yang sudah mengalir dari ujung matanya. Dan itu semua tak luput dari penglihatan Digo.


Digo kini menghela nafas saat merasakan sesak di dadanya. Lalu dengan gerakan cepat ia menarik pisau tadi dari tangan Sheilla lalu setelah ia mendapatkan pisau tadi tangannya bergerak untuk menyentuh salah satu tombol yang tertempel di dinding kamarnya. Dan setelah tombol itu ia tekan, pintu balkon terbuka dan tanpa menunggu lama, Digo melempar pisau tadi dari atas ranjang menuju luar balkon kamarnya. Setelah itu ia kembali menekan tombol tersebut hingga pintu balkon tersebut tertutup kembali dan tangannya kini beralih menekan tombol satunya lagi hingga bunyi pintu terkunci terdengar. Dan setelah melakukan semua itu, Digo merebahkan tubuhnya disamping tubuh Sheilla yang tengah meringkuk antara ketakutan dan juga menyesal telah melakukan hal yang tiba-tiba sangat melukai hatinya itu.


Dan tanpa Sheilla duga, tangan Digo yang terluka karena menggenggam pisau tadi kini telah melingkar indah di perutnya, memeluk tubuhnya begitu erat tak memperdulikan lukanya yang masih terus mengeluarkan darah.


"Di---Digo," panggil Sheilla dengan berusaha melepaskan pelukan Digo dari tubuhnya. Namun bukannya lepas, pelukan itu justru semakin erat.


"Tidur Sheilla!" perintah Digo.

__ADS_1


"Tapi tangan kamu---"


"Saya menyuruh kamu tidur ya tidur Sheilla. Jangan sampai saya berbuat nekat jika kamu tidak menururi ucapan saya!" geramnya yang membuat Sheilla yang sebelumnya sudah memasang alarm bahaya, tak bisa berkutik lagi. Hingga mau tak mau dengan was-was juga perasaan aneh yang terus menerpa hatinya itu ia memaksakan matanya untuk tertutup seperti perintah Digo sebelumnya.


__ADS_2