The Dark Love

The Dark Love
143. Mencari Tahu Tentang Shinta


__ADS_3

Kepergian Sheilla dan sang nenek tadi membuat Digo kini langsung mengambil ponselnya. Dimana benda itu akan dia gunakan untuk memanggil salah satu anak buahnya yang berada di negara Indonesia ini.


📞 : "Halo tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya tangan kanannya itu.


"Tolong carikan rumah kosong yang siap untuk di tempati sekarang juga," perintah Digo.


📞 : "Baik, akan saya usahakan untuk mendapatkan rumah sesuai dengan keinginan tuan," ujar tangan kanannya itu.


"Baiklah, akan saya tunggu kabarnya." Ucapan Digo itu menjadi akhir percakapan dari Digo dan tangan kanannya tersebut.


Dan bertepatan dengan putusnya sambungan telepon itu, Sheilla dan sang nenek berjalan menghampirinya.


"Maaf, nenek hanya punya teh manis saja dan tidak ada cemilan apapun untuk menjamu kedatangan kalian berdua," ucap nenek Sheilla sembari mendudukkan tubuhnya disalah satu kuris kayu itu dengan raut wajah yang benar-benar menyesal karena tidak bisa menjamu calon cucu menantunya itu dengan baik.


"Ahhhh tidak apa-apa nek. Teh manis ini saja sudah sangat-sangat cukup untuk kita berdua," ujar Digo yang diangguki setuju oleh Sheilla yang baru selesai menaruh tiga gelas teh manis itu diatas meja dihadapan mereka semua. Lalu kemudian Sheilla mendudukkan tubuhnya disamping sang nenek dengan memeluk tubuh wanita tua itu dari samping yang otomatis membuat sang nenek kini tersenyum dengan mengelus lembut kepala Sheilla.


Untuk beberapa saat, dua orang itu terus berpelukan untuk menyalurkan rasa rindu yang ada di diri mereka masing-masing sebelum pelukan itu terlepas dan sebelum Sheilla angkat suara dengan posisi yang kini tengah menghadap kearah sang nenek sepenuhnya.


"Nek, Sheilla boleh tanya sesuatu dengan nenek?" tanya Sheilla dengan menatap lekat wajah neneknya yang sudah menua itu.

__ADS_1


"Tentu saja. Kamu mau tanya apa?" ucap sang nenek sembari membelai wajah ayu Sheilla.


"Sheilla mau bertanya tentang Shinta." Nenek Sheilla menganggukkan kepalanya.


"Nek, sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan dia? Sheilla selama ini tinggal di negara Paris, Prancis dan satu hari sebelum Sheilla memutuskan untuk pulang kesini, Sheilla tidak sengaja bertemu dengan Shinta di mall di negara itu. Sheilla penasaran kenapa bisa dia ke negara itu nek? Apakah dia mendapatkan tiket gratis liburan dari pihak sekolah dia karena prestasinya itu?" tanya Sheilla yang membutuhkan kejelasan tentang adiknya itu.


Dan ucapannya itu membuat sang nenek tampak murung dengan menggelengkan kepalanya.


"Tidak Sheilla. Dia tidak mendapatkan tiket gratis atas prestasi dia. Karena prestasi yang selalu membuat kita bangga dulu, sekarang sudah hilang. Shinta yang dulu memilik banyak prestasi, dia sudah tidak memperdulikan prestasi itu lagi bahkan dia sekarang sudah sering membolos sejak dia kenal dengan seorang laki-laki tua itu," ujar wanita tua tersebut sepetinya sangat marah dengan Shinta, cucu keduanya itu.


"Laki-laki tua? Apa laki-laki yang di maksud nenek ini adalah laki-laki yang sama dengan yang aku lihat waktu itu?" batin Sheilla menebak-nebak.


"Dia memakai uang hasil menggadaikan rumah ini dan mengambil semua perhiasan peninggalan Kurni." Ucapan dari sang nenek tadi membuat Sheilla tampak terkejut.


Sedangkan Digo yang memang sudah tau fakta jika adik kekasihnya itu tak sebaik yang Sheilla kira pun ia hanya diam saja.


"Apa? Dia gadaikan rumah ini dan dia juga mengambil perhiasan peninggalan Mama?" Wanita tua itu menganggukkan kepalanya.


"Ya Tuhan. Kenapa dia bisa berubah 180° seperti ini nek?" tanya Sheilla yang tak menyangka jika adiknya itu bisa melakukan hal semacam itu hanya untuk kesenangan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Nenek juga tidak tau kenapa dia menjadi seperti itu nak. Yang nenek tau dia berubah saat dia kenal dengan laki-laki tua itu. Nenek benci dengan laki-laki itu yang sudah merebut Shinta dan merubah dia menjadi seperti saat ini," ujar sang nenek dengan air mata yang akhirnya menetes juga.


Sheilla yang melihat neneknya menangis pun ia langsung memeluk tubuh ringkih tersebut.


"Nek, nenek jangan menangis seperti ini. Tak apa jika Shinta menjauh dari nenek, karena masih ada Sheilla yang akan selalu disamping nenek, Sheilla tidak akan meninggalkan nenek seperti yang Shinta lakukan kepada nenek. Dan maaf, Sheilla tidak menemani nenek saat dia melakukan semua itu kepada nenek. Tapi saat Sheilla sudah tidak ada di dekat nenek waktu itu, apa Shinta pernah melukai nenek?" tanya Sheilla dengan melepaskan pelukannya dan menatap tubuh neneknya tersebut.


Dimana saat dirinya menatap kearah pergelangan tangan neneknya itu, Sheilla tidak sengaja melihat jika di pergelangan tangan neneknya itu terdapat luka memar disana. Dan saat Sheilla ingin meraih tangan neneknya, wanita tua tersebut langsung menarik tangannya kemudian menyembunyikan luka memar di pergelangan tangannya tersebut dengan lengan baju panjangnya.


"Pergelangan tangan nenek memar?" tanya Sheilla yang dijawab dengan gelengan kepala oleh wanita tua itu.


"Tidak Sheilla. Tidak ada memerah sama sekali di pergelangan tangan nenek. Kamu mungkin salah lihat saja tadi. Dan daripada kita membahas tentang Shinta lebih baik kita membahas tentang hubungan kalian berdua," ujar sang nenek berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan mereka. Tapi Sheilla menggelengkan kepala dan dengan terpaksa ia menarik lengan sang nenek.


"Sheilla tidak akan membahas hubungan Sheilla, jika Sheilla tidak melihat dan memastikan secara langsung memar ditangan nenek yang Sheilla tadi sempat lihat," ujar Sheilla kala dirinya telah memegang tangan neneknya itu dan sebelum neneknya itu semakin memberontak, Sheilla kini menyingkap baju yang menutupi pergelangan tangan neneknya tersebut.


Dan betapa terkejutnya dia saat yang ia lihat tadi memang benar adanya. Dipergelangan tangan neneknya itu terdapat luka lebam yang cukup besar.


Sheilla yang benar-benar resah dan curiga jika neneknya tidak hanya mendapat luka lebam di pergelangan tangannya itu, ia semakin menyingkap lengan baju itu hingga siku.


Dimana Sheilla lagi-lagi dibuat terkejut dengan luka yang ia lihat saat ini. Di lengan sang nenek bukan hanya ada luka lebam saja melainkan ada beberapa goresan yang lukanya belum mengering sepenuhnya. Dan hal tersebut membuat mata Sheilla berkaca-kaca. Sebelum tangannya kini bergerak kembali untuk mengambil tangan neneknya yang satu lagi. Dan lagi-lagi ia menyingkap lengan baju neneknya itu yang kini membuat dirinya meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Ya Tuhan, nek. Apa luka-luka ini Shinta penyebabnya? Jawab nek? Sheilla tidak suka jika nenek berbohong kepada Sheilla. Jawab nek, jawab," ucap Sheilla yang justru membuat sang nenek semakin terdiam. Tak ingin membuka suaranya sedikit saja.


__ADS_2