
Vina terus melangkahkan kakinya hingga saat dirinya memasuki rumah tersebut dan berniat untuk ke kamarnya yang berada di lantai dua, langkahnya ia hentikan kala suara yang sangat familiar di telinganya masuk ke indra pendengarannya itu.
"Bagus sekali. Yang katanya pergi ke luar negeri untuk pemotretan iklan, tiba-tiba menghilang begitu saja dan berakhir video asusila malah tersebar ke media sosial. Benar-benar sangat bagus." Ucapan dari orang tersebut membuat Vina memutar tubuhnya hingga kini ia berhadapan langsung dengan si pemilik suara tadi. Dan betapa terkejutnya dia saat mengetahui si pemilik suara itu adalah Mamanya.
"Mama," beo Vina.
"Kenapa Mama ada disini?" sambungnya sekaligus untuk mengalihkan topik pembicaraan mereka berdua.
"Jangan mengalihkan topik pembicaraan Vina! Sudah berada kali kamu melakukan hal menjijikan itu bernama laki-laki hidung gelang di luar sana? Berapa banyak kamu tidur dengan laki-laki mesum, Vina?! Jawab!" sentak sang Mama.
Vina yang mendapat pertanyaan itu pun ia mengepalkan tangannya. Ia tak percaya saat dirinya kembali dengan permasalahan yang sama sekali tak pernah ia duga-duga itu, sang Mama justru langsung mencerca dirinya dengan berbagai pertanyaan yang justru menyakiti hatinya.
"Ma, aku tidak pernah tidur dengan laki-laki lain di luar sana. Aku---"
"Tidak pernah tidur dengan laki-laki katamu! Terus siapa yang ada di video yang tersebar itu hah? Itu sudah jelas-jelas kamu, Vina. Bahkan laki-laki yang berada di video itu selalu memanggil nama kamu! Apa kamu masih mau mengelaknya hah?" ujar sang Mama yang justru membuat Vina kini meneteskan air matanya.
"Ma---"
__ADS_1
"Apa hah apa? Kamu mau mengelak lagi?" Vina menggelengkan kepalanya.
"Vina tidak mengelak. Vina mengakui jika perempuan yang berada di dalam video itu adalah Vina. Tapi Vina---"
Plakkkk!!!
Satu tamparan keras dari sang Mama mendarat tepat di pipi sebelah kiri Vina. Sampai membuat kepala Vina menolehkan kesamping.
"Mama tidak pernah mengajari kamu untuk melakukan hal menjijikkan itu Vina! Tapi kenapa kamu malah melakukannya?!" ucap sang Mama yang benar-benar kecewa dengan putri keduanya itu.
"Ma, Mama salah paham. Vina melakukan hal itu bukan karena kemauan Vina sendiri. Vina waktu itu tengah di culik dan berakhir Vina di perkosa. Vina berani bersumpah jika perbuatan itu tidak pernah Vina inginkan," tutur Vina dengan air mata yang semakin deras menetes membasahi pipinya. Bahkan ia sampai mengabaikan rasa kebas di pipinya itu.
"Mama kecewa sama kamu," ujar sang Mama dengan mata yang berkaca-kaca sebelum wanita paruh baya itu melangkahkan kakinya keluar dari rumah milik Vina tersebut.
Dimana kepergian dirinya itu langsung di kejar oleh Vina. Hingga akhirnya Vina bisa meraih tangan sang Mama yang membuat wanita paruh baya itu menghentikan langkahnya namun ia tak menatap wajah Vina yang sekarang berdiri di hadapannya.
"Ma, percaya sama Vina. Vina melakukan itu bukan karena keinginan Vina. Tapi Vina di perkosa Ma. Tolong percaya sama Vina, Ma. Vina mohon," pinta Vina. Dan ucapan dari Vina itu membuat sang Mama akhirnya menatapnya kembali. Namun terlihat jelas dari tatapan mata wanita paruh baya itu jika tatapan matanya itu memancarkan kekecewaan yang teramat dalam bukan lagi memancarkan kehangatan seperti sebelumnya.
__ADS_1
"Semua bukti sudah Mama lihat dengan mata kepala Mama sendiri. Dan mulai saat ini jangan panggil saya dengan sebutan Mama lagi. Karena mulai detik ini kamu bukan lagi anak saya, kamu bukan darah daging saya, dan hubungan kekeluargaan diantara kita berdua putus sampai disini. Kamu bukan anak saya lagi tapi kamu hanya orang asing bagi saya. Dan mulai detik ini juga saya tidak akan mengurusi hidup kamu lagi, tidak akan campur tangan tentang mendidikmu lagi. Silahkan lakukan semuanya yang kamu mau, karena saya sudah tidak peduli lagi. Kamu bebas sekarang Vina," ujar Mama Vina sembari menyentak tangan Vina yang memegang lengannya hingga genggaman tangan itu terlepas. Dan setelahnya, wanita paruh baya itu melangkahkan kakinya dengan lebar menuju ke mobilnya.
Dimana langkahnya itu langsung disusul oleh Vina. Namun kali ini, Vina tidak bisa mencegahnya lagi karena saat ini sang Mama telah masuk kedalam mobil pribadinya.
"Pulang sekarang Pak!" perintah Mama Vina dengan menghapus air matanya yang kini menetes.
"Baik nyonya," ujar sopir tersebut lalu menjalankan mobilnya tanpa mempedulikan Vina yang sedari tadi menggedor-gedor kaca mobil tersebut dengan teriak-teriakan yang ia lontarkan.
Bahkan Vina sampai berlari mengejar mobil Mamanya namun sayang, laju mobil itu semakin lama semakin menjauh dan tak bisa ia jangkau lagi.
"Mama hiks. Jangan berkata seperti itu, Ma. Vina minta maaf. Jangan tinggalin Vina, Ma. Vina mohon, hiks!" teriak Vina yang sudah tidak bisa didengar lagi oleh sang Mama.
"Mama!" teriak Vina menggema hingga membuat para penghuni perumahan disamping rumahnya keluar dari rumah mereka masing-masing untuk melihat apa yang tengah terjadi di luar sana.
Vina meluruhkan tubuhnya hingga terduduk di atas aspal penuh debu itu dengan tangan yang kini memukul-mukul dadanya yang terasa begitu sesak. Belum juga ia menghilangkan kesedihan tentang kejadian dimalam itu dan sekarang dirinya justru di beri kesedihan yang lain dimana ibunya sudah tidak mau menganggap dirinya sebagai anak lagi. Sumpah demi apapun hal itu benar-benar sangat menyakitkan untuk Vina.
Para tetangga Vina yang tadi keluar dari rumah mereka tak ada satupun orang yang mau mendekati Vina untuk membantu menenangkan perempuan itu. Mereka justru dengan terang-terangan membicarakan Vina atas sekandal yang menimpa dirinya itu. Bahkan ada beberapa orang yang merekam dan memfoto dirinya yang tengah bersedih itu untuk mereka unggah ke akun media sosial mereka.
__ADS_1
Sedangkan maid yang turut menyaksikan pertengkaran antara dua majikannya tadi pun para maid tersebut tak ada yang berani mendekati Vina dan menenangkan perempuan itu karena mereka tidak mau Vina meluapkan emosinya kepada mereka jika mereka mendekati Vina. Walaupun di dalam lubuk hati mereka, mereka ingin sekali mendekati Vina, mencoba menenangkan Vina, dan menyemangati perempuan itu. Tapi rasa takut yang lebih besar dari rasa simpati mereka, membuat para maid itu hanya bisa berdiri di ambang gerbang rumah Vina, melihat sang majikan tengah menangis meraung-raung didalam keterpurukannya.