
"Luka itu---" gumam Sheilla dengan tatapan yang kini memudar diiringi dengan kilas bayangan yang muncul di otaknya. Membuat kepalanya terasa ingin pecah saat itu juga. Apalagi kilas memori itu memperlihatkan orang-orang yang tengah terkapar di sebuah jalanan dengan darah di sekujur tubuh mereka, suara benda-benda tajam yang saling bertabrakan dan suara pistol yang saling bersautan itu membuat tubuh Sheilla kini bergetar.
Bahkan saking sakit kepala yang ia rasakan begitu menyakitkan, tangannya kini ia gunakan untuk menjambak rambutnya dengan memberikan pukulan-pukulan di kepalanya. Berharap sakit di kepalanya itu mereda dan bayang-bayang menakutkan itu hilang dari pikirannya.
"Arkhhhh!" teriak Sheilla yang sudah tak kuat lagi menahan rasa sakit di kepalanya itu. Dan teriakannya tersebut membuat Digo yang baru saja masuk kedalam kamar mandi, bergegas keluar.
"Astaga Sheilla!" teriak Digo saat melihat kondisi Sheilla yang seperti tengah menyiksa dirinya sendiri.
Digo berlari menuju kearah Sheilla.
"Honey heyyy hentikan. Apa yang kamu lakukan? Hentikan, jangan melukai dirimu sendiri," ucap Digo dengan berusaha melepaskan tangan Sheilla yang tengah menjambak rambutnya sendiri setelah dirinya duduk tepat di depan tubuh Sheilla.
"Sakit. Arkhhhh!" rintih Sheilla dengan tangan yang kini memukul kepalanya kembali.
"Stop Honey. Kalau kepala kamu sakit, jangan menambah rasa sakit itu lagi dengan cara kamu pukul-pukul seperti ini. Jadi hentikan oke," ucap Digo yang kini sudah berhasil menangkap kedua tangan Sheilla itu lalu setelahnya ia memeluk tubuh kekasihnya yang masih merintih kesakitan dengan air mata yang membasahi pipinya.
"Sakit hiks," ucap Sheilla.
"Kamu tahan sebentar ya. Aku telepon Diana dulu," ujar Digo dengan sebisa mungkin ia tenang walaupun sebenarnya ia sekarang sangat panik melihat kondisi sang kekasih.
Tangan Digo kini dengan cepat meraih ponselnya lalu ia segara menelepon Diana yang untungnya baru satu kali telepon itu tersambung, Diana langsung mengangkatnya.
📞 : "Halo," ucap Diana dari sebrang.
__ADS_1
"Kesini sekarang juga! Saya tunggu 5 menit. Jika sampai kamu telat, saya tidak akan segan-segan memecatmu jadi dokter pribadi saya," ucap Digo diakhiri dengan memberikan sebuah ancaman sebelum dirinya memutus sambungan telepon tersebut.
Sedangkan Diana yang berada di sebrang pun, ia hanya bisa menghela nafas panjang. Berat memang memiliki klien seperti Digo yang apa-apa main ancam. Tapi karena Digo yang mau membayar jasanya itu begitu tinggi, Diana hanya bisa pasrah saja jika mendapatkan ancaman itu dan sebisa mungkin ia menuruti semua ucapan dari laki-laki tersebut. Tak terkecuali harus sampai di mansion laki-laki itu dalam waktu 5 menit. Dan untungnya posisi Diana saat ini berada tak jauh dari manison milik Digo itu sehingga waktu yang diberikan oleh laki-laki tersebut bisa ia turuti.
Dan benar saja cukup membutuhkan waktu 3 menit saja Diana telah sampai di mansion tersebut. Dan dengan berlari kecil ia masuk kedalam mansion itu.
"Dimana Digo sekarang?" tanya Diana kepada salah satu maid yang berada di hadapannya saat ini.
"Ahhhh tuan Digo sekarang ada di atas dok," jawab maid tersebut yang diangguki oleh Diana sebelum perempuan itu kembali berlari menuju ke lift di mansion itu.
Dan saat lift tersebut terbuka, bertepatan dengan itu pula muncullah Vina dari balik lift tersebut.
Mereka berdua sempat saling pandang satu sama lain sebelum suara Henry yang berada tak jauh dari posisi mereka berdua terdengar.
"Kenapa?" tanya Diana.
"Kenapa kamu kesini? Ada apa?" tanya Henry penasaran.
"Digo menghubungiku. Entah sedang kenapa laki-laki itu sekang. Dan aku sudah tidak memiliki waktu lama lagi. Jadi aku duluan ke kamar dia," ucap Diana lalu setelahnya ia masuk kedalam lift itu diikuti oleh Henry yang turut masuk kedalam. Dan setelah Henry masuk, pintu lift itu tertutup meninggalkan Vina yang masih berdiri sendirian di depan lift tersebut.
"Apa aku tadi tidak salah dengan jika Digo saat ini tengah menghubungi dokter itu? Yang berarti dia sekarang tengah membutuhkan bantuan dokter itu dong? Kalau begitu dia sekarang tengah tidak baik-baik saja. Astaga, kenapa aku tidak tau jika dia tengah tidak baik-baik saja," gumam Vina.
"Kalau begitu aku harus ke kamarnya sekarang karena aku juga harus tau keadaan Digo saat ini," sambungnya lalu setelahnya, ia memencet tombol lift tersebut lalu beberapa saat setelahnya pintu lift itu terbuka kembali yang langsung dimasuki oleh Vina saat itu juga.
__ADS_1
Vina berlari menuju kearah pintu kamar Digo kala pintu lift tadi telah terbuka. Dan sesampainya dia di depan pintu kamar laki-laki itu ia menggedor pintu tersebut.
Brakkk brakkk brakkk!
"Buka pintunya! Aku Vina. Aku juga harus tau kondisi Digo sekarang!" teriak Vina sekencang-kencangnya, berharap orang-orang yang ada didalam kamar itu mendengarnya lalu membukakan pintu untuknya.
Namun sayang teriakan dan gedoran yang ia lakukan tadi sama sekali tak membuahkan hasil. Pintu itu masih setia tertutup rapat. Walaupun begitu, Vina tak menyerah. Ia terus melakukan hal yang sama berulang kali, menggebrak-gebrak pintu itu hingga membuat tangannya terasa perih.
"Buka! Aku harus tau keadaan calon suamiku!" teriak Vina kembali. Tapi masih tak mendapat respon apapun dari dalam. Karena sebenarnya didalam kamar itu tidak ada siapapun disana. Kamar itu sudah kosong, tak lagi ditempati oleh Digo ataupun Sheilla. Karena mereka sudah pindah kamar di lantai tiga beberapa hari yang lalu tanpa sepengetahuan Vina tentunya. Dan karena hal itu membuat Vina menganggap jika kamar Digo masih berada di samping kamarnya. Jadinya ia terus menggedor dan berteriak di depan kamar tersebut sampai dirinya lelah sendiri dan memilih untuk menunggu kemunculan salah satu orang dari dalam sana.
Sedangkan disisi lain lebih tepatnya di dalam kamar Digo yang sesungguhnya keadaan didalam kamar itu sudah kondusif tidak ada suara rintihan lagi dari Sheilla karena perempuan itu sekarang sudah tertidur pulas setelah Diana menyuntikkan obat penenang di tubuh Sheilla. Dan kini Diana, Henry serta Digo tengah duduk di sofa didalam kamar tersebut. Dengan Digo yang sesekali melirik kearah Sheilla.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Sheilla?" tanya Digo.
"Aku juga bingung dengan kondisi Sheilla. Karena saat dia pingsan waktu itu, aku yakin dia memiliki trauma dimasa lalunya. Entah itu trauma apa aku juga masih bingung sampai sekarang. Dan untuk kejadian kali ini, mungkin masih ada kaitannya dengan trauma yang dia miliki," ucap Diana.
"Trauma?" beo Digo.
"Itu hanya tebakanku saja Digo. Karena secara medis dia baik-baik saja. Tapi tunggu dulu, aku juga mencurigai sesuatu," ucap Diana.
"Apa yang kamu curigai?" tanya Henry penasaran.
"Aku mencurigai jika Sheilla dulu pernah mengalami suatu kejadian yang mengakibatkan dirinya amnesia dan rasa sakit yang sering dia rasakan saat ini merupakan efek yang dia rasakan kala memory yang dia miliki dulu perlahan muncul," jelas Diana. Jika memang Sheilla tidak memiliki trauma, Diana juga mencurigai hal yang baru saja ia katakan tadi. Dan ucapannya itu membuat Digo langsung terdiam dengan pikirannya yang tak tenang memikirkan apa yang tengah Sheilla alami saat ini. Jika memang kekasihnya itu mengalami yang namanya amnesia, ia berharap jika ingatan Sheilla segara pulih kembali dan ia tak perlu melihat Sheilla kesakitan seperti yang ia lihat tadi.
__ADS_1